Tubuh yang langsung dipaksa lari tanpa pemanasan cenderung lebih kaku dan kurang siap menerima benturan. Otot yang dingin juga lebih sulit menyerap tekanan dan lebih rentan tegang.
Begitu juga setelah lari. Jika tubuh tidak diberi kesempatan pulih, ketegangan kecil bisa menumpuk dari hari ke hari. Akhirnya, rasa pegal berkembang menjadi nyeri yang lebih menetap.
Pemanasan dinamis, latihan mobilitas pinggul, pendinginan, tidur cukup, dan latihan kekuatan rutin dapat membantu menurunkan risiko sakit punggung saat lari.
Sakit punggung saat lari seringnya bukan disebabkan oleh satu hal tunggal. Biasanya ada kombinasi antara otot yang lemah, teknik yang kurang efisien, latihan berlebihan, dan tubuh yang belum cukup pulih.
Walaupun sebagian besar nyeri punggung dapat membaik dengan istirahat, latihan kekuatan, dan perbaikan teknik, ada beberapa tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Jika nyeri makin berat, menjalar ke kaki, disertai kelemahan atau gangguan buang air kecil, segera periksa ke dokter.
Referensi
“Don’t Let Lower Back Injuries Take You Down for the Count.” American Academy of Orthopaedic Surgeons. Diakses April 2026.
Filippo Maselli et al., “Prevalence and Incidence of Low Back Pain Among Runners: A Systematic Review,” BMC Musculoskeletal Disorders 21, no. 1 (June 3, 2020): 343, https://doi.org/10.1186/s12891-020-03357-4.
Edwige Simonet et al., “Walking and Running With Non-specific Chronic Low Back Pain: What About the Lumbar Lordosis Angle?,” Journal of Biomechanics 108 (June 13, 2020): 109883, https://doi.org/10.1016/j.jbiomech.2020.109883.
“Struggling to Maintain Speed? Research Suggests a Weak Core Could Be the Problem.” Runner’s World. Diakses April 2026.