Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Patricia Bath, Dokter Pencipta Laser untuk Katarak

4 min read
Mengenal Patricia Bath, Dokter Pencipta Laser untuk Katarak
ilustrasi katarak (commons.wikimedia.org/Rakesh Ahuja, MD)
  • Patricia Bath menggagas Laserphaco pada 1981. Paten alatnya terbit di Amerika Serikat pada tahun 1988.

  • Alat itu mengarahkan energi laser melalui serat optik untuk memecah lensa katarak, lalu mengeluarkan serpihannya.

  • Perhatian Bath pada akses perawatan mata juga melahirkan gagasan community ophthalmology, yaitu layanan mata yang menjangkau masyarakat, termasuk kelompok yang kurang terlayani.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat menjalani pelatihan di New York pada akhir 1960-an, dokter mata Patricia Bath berpindah antara klinik di Harlem Hospital dan Columbia University. Ia melihat perbedaan mencolok bahwa banyak pasien di Harlem mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan, sedangkan kondisi serupa lebih jarang terlihat di klinik Columbia.

Pengamatan itu mendorongnya meneliti ketimpangan perawatan mata. Studi retrospektifnya mencatat tingkat kebutaan pada orang kulit hitam di Amerika Serikat dua kali lebih tinggi daripada orang kulit putih. Bath mengaitkan kesenjangan itu dengan terbatasnya akses ke layanan mata.

Katarak terjadi ketika lensa alami mata yang semula jernih menjadi keruh dan mengganggu penglihatan. Operasi katarak mengangkat lensa yang keruh, lalu biasanya menggantinya dengan lensa buatan. Bagi banyak orang, tindakan itu dapat mengembalikan penglihatan. Akan tetapi, layanan operasi harus tersedia dan terjangkau agar manfaatnya sampai kepada pasien.

Bath melihat langsung bagaimana ketimpangan akses tersebut. Pada tahun 1968, klinik mata Harlem Hospital belum menyediakan operasi mata. Ia membujuk para profesor di Columbia untuk mengoperasi pasien buta tanpa biaya dan ikut membantu sebagai asisten. Operasi mata besar pertama di rumah sakit tersebut dilakukan pada tahun 1970. Beberapa tahun kemudian, ia ikut mendirikan American Institute for the Prevention of Blindness, organisasi yang mendukung pencegahan kebutaan dan perluasan layanan mata.

Bath juga mengembangkan gagasan community ophthalmology atau oftalmologi komunitas. Dalam makalahnya yang terbit pada tahun 1979, ia mengusulkan pendekatan yang memadukan kesehatan masyarakat, layanan komunitas, dan oftalmologi klinis untuk mencegah kebutaan serta memperluas perawatan bagi kelompok yang kurang terlayani.

  1. Dari gagasan menjadi alat bedah

    Perhatiannya pada pasien tidak berhenti pada layanan klinik. Bath juga mencari cara untuk mengembangkan tindakan katarak. Ia menggagas Laserphaco pada 1981 dan menghabiskan beberapa tahun untuk meneliti serta menguji alatnya. Pada 17 Mei 1988, paten Amerika Serikat untuk perangkat itu terbit. Bath tercatat sebagai perempuan kulit hitam pertama yang menerima paten medis di negara tersebut.

    Dalam patennya, Bath menjelaskan alat berupa probe tipis dengan serat optik yang menyalurkan energi laser ke lensa keruh. Energi itu memecah materi lensa menjadi partikel kecil. Cairan digunakan untuk membilas area operasi, sementara alat isap mengeluarkan serpihannya. Desain paten tersebut memungkinkan probe berdiameter sekitar 1 milimeter atau kurang masuk melalui sayatan kecil.

    Ada perbedaan antara Laserphaco dan metode phacoemulsification yang banyak dikenal dalam operasi katarak. Pada phacoemulsification, probe ultrasonik memecah lensa sebelum serpihannya disedot keluar. Laserphaco menggunakan laser melalui serat optik. Pembedahan katarak juga memiliki metode lain, termasuk operasi sayatan kecil. Jadi, paten Bath merupakan satu inovasi penting dalam sejarah bedah katarak, sementara dokter kini menggunakan beberapa teknik sesuai kondisi pasien dan fasilitas yang tersedia.

  2. Inovasi dan akses berjalan berdampingan

    Potret dokter mata Patricia Bath, pengembang laserphaco, perangkat dan teknik untuk operasi katarak.
    Dokter mata Patricia Bath mengembangkan laserphaco, perangkat dan teknik untuk operasi katarak. (commons.wikimedia.org/National Library of Medicine)

    Katarak masih menjadi penyebab penting gangguan penglihatan. Sebuah metaanalisis yang menghimpun data hingga tahun 2020 memperkirakan sekitar 17 juta orang di dunia mengalami kebutaan akibat katarak, sementara 83,5 juta lainnya mengalami gangguan penglihatan sedang hingga berat akibat kondisi yang sama.

    Teknologi bedah saja belum cukup untuk menjangkau semua orang. International Agency for the Prevention of Blindness mencatat bahwa biaya, keterbatasan tenaga terlatih, jarak, dan kurangnya layanan menjadi penghalang bagi pasien untuk mendapatkan operasi katarak. Di titik inilah kiprah Bath bertemu. Ia tidak hanya menciptakan perangkat bedah, tetapi juga mendorong akses pendidikan serta layanan kesehatan mata yang lebih luas.

    Referensi

    National Library of Medicine, “Biography: Dr. Patricia E. Bath,” Changing the Face of Medicine, diakses 24 Oktober 2026.

    Patricia E. Bath, “Rationale for a Program in Community Ophthalmology,” Journal of the National Medical Association 71, no. 2 (1979): 145–48, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/423288/.

    Patricia E. Bath, “Apparatus for Ablating and Removing Cataract Lenses,” U.S. Patent 4,744,360, diajukan 18 Desember 1986, diterbitkan 17 Mei 1988, diakses 24 Oktober 2026.

    United States Patent and Trademark Office, “Sights on the Prize,” diakses 24 Oktober 2026.

    International Agency for the Prevention of Blindness, “Cataract,” diakses 24 Oktober 2026.

    Vision Loss Expert Group of the Global Burden of Disease Study and GBD 2019 Blindness and Vision Impairment Collaborators, “Global Estimates on the Number of People Blind or Visually Impaired by Cataract: A Meta-Analysis from 2000 to 2020,” Eye 38, no. 11 (2024): 2156–72, https://doi.org/10.1038/s41433-024-02961-1.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More