Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/15/2023 tentang Percontohan Pemberian Antivirus pada Ibu Hamil untuk Pencegahan Transmisi Virus Hepatitis B dari Ibu ke Anak (Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2023).
Centers for Disease Control and Prevention, “Hepatitis B or C Infections and Breastfeeding,” diakses Agustus 2026.
World Health Organization, “Hepatitis: Preventing Mother-to-Child Transmission of the Hepatitis B Virus,” diakses Agustus 2026.
Zhongjie Shi et al., “Breastfeeding of Newborns by Mothers Carrying Hepatitis B Virus: A Meta-analysis and Systematic Review,” Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine 165, no. 9 (2011): 837–46, https://doi.org/10.1001/archpediatrics.2011.72.
Kevin Pak, Brittney Ibrahim, and Sammy Saab, “Safety of Tenofovir Disoproxil Fumarate Among Breastfeeding Infants of Patients With Chronic Hepatitis B: A Systematic Review,” Journal of Viral Hepatitis 31, no. 11 (2024): 760–67, https://doi.org/10.1111/jvh.14001.
American Association for the Study of Liver Diseases, Chronic Hepatitis B Pregnancy Algorithm, in educational materials accompanying the 2025 AASLD Practice Guideline on Treatment of Chronic Hepatitis B (Alexandria, VA: AASLD, 2025).
Ibu dengan Hepatitis B Boleh Menyusui Bayinya?

Ibu dengan hepatitis B tetap boleh menyusui dan tidak perlu menunggu bayi menyelesaikan seluruh rangkaian vaksin.
Perlindungan terpenting adalah memastikan bayi mendapat vaksin hepatitis B dan HBIg segera setelah lahir, kemudian melengkapi jadwal vaksinasi.
Apabila puting atau areola pecah dan berdarah, menyusui langsung sebaiknya dihentikan sementara sampai luka sembuh karena HBV dapat menular melalui darah.
Diagnosis hepatitis B menjelang persalinan dapat membuat ibu bertanya-tanya apakah setelah bayi lahir ibu boleh menyusui bayinya?
Jawaban singkatnya adalah boleh. Bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg reaktif diperbolehkan menyusu langsung. Risiko penularan virus hepatitis B (HBV) melalui menyusui dapat diabaikan jika bayi mendapatkan imunisasi yang tepat. Menyusui bahkan tidak perlu ditunda sampai seluruh rangkaian vaksin bayi selesai.
Yang jauh lebih menentukan risiko penularan bukan ASI, melainkan tindakan yang dilakukan segera setelah bayi lahir.
Table of Content
Kekhawatiran saat persalinan
HBV menular melalui darah dan cairan tubuh. Pada bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B, penularan terutama dapat terjadi sekitar proses persalinan, ketika bayi terpapar darah dan cairan tubuh ibu.
Risikonya bisa tinggi tanpa pencegahan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan risiko penularan ibu-ke-anak dapat mencapai 70–90 persen pada ibu dengan viral load tinggi atau HBeAg positif, dibandingkan sekitar 10–40 persen pada ibu dengan HBeAg negatif jika tidak ada intervensi pencegahan.
Karena itu, perlindungan bayi dimulai segera setelah lahir.
Pedoman Kemenkes mengharuskan bayi dari ibu HBsAg reaktif mendapatkan vaksin hepatitis B dosis lahir (HB0) dan hepatitis B immunoglobulin (HBIg) kurang dari 24 jam setelah kelahiran, kemudian melanjutkan tiga dosis vaksin sesuai jadwal imunisasi nasional. Bayi kemudian diperiksa HBsAg dan anti-HBs pada usia 9–12 bulan untuk memastikan tidak terjadi penularan dan mengevaluasi perlindungan vaksin.
Sebagai perbandingan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pedomannya lebih ketat, yaitu pemberian vaksin hepatitis B dan HBIG dalam 12 jam setelah lahir.
Bukankah virus hepatitis B bisa ada dalam ASI?
Penanda HBV memang dapat ditemukan dalam ASI. Namun, keberadaan virus atau komponennya di dalam ASI tidak otomatis berarti menyusui meningkatkan risiko infeksi pada bayi yang telah mendapatkan imunoprofilaksis.
Metaanalisis dalam jurnal Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine yang melibatkan 1.624 bayi membandingkan bayi yang disusui dengan yang tidak disusui setelah mendapatkan imunoprofilaksis hepatitis B.
Hasilnya, tidak ditemukan peningkatan bermakna penularan HBV pada kelompok yang mendapatkan ASI. Odds ratio penularan pada bayi yang disusui dibandingkan yang tidak disusui adalah 0,86 dengan interval kepercayaan 95 persen 0,51–1,45. Temuan inilah yang konsisten dengan rekomendasi WHO, CDC, dan Kemenkes bahwa hepatitis B bukan kontraindikasi menyusui.
Kapan ibu sebaiknya berhenti menyusui sementara?

ilustrasi ibu menyusui (IDN Times/NRF) Jika puting atau areola pecah dan berdarah, ini butuh perhatian khusus karena HBV dapat ditularkan melalui darah. Data mengenai keamanan menyusui ketika puting aktif berdarah masih terbatas. Karena itu, ibu dengan hepatitis B disarankan untuk menghentikan menyusui langsung sementara jika puting atau areola pecah dan berdarah.
Untuk mempertahankan produksi ASI, ibu dapat memerah ASI dan membuangnya selama luka masih berdarah. Menyusui dapat dilanjutkan setelah luka sembuh dan tidak lagi mengeluarkan darah.
Bagaimana kalau ibu sedang minum tenofovir?
Sebagian ibu dengan hepatitis B mendapat antivirus tenofovir, terutama jika viral load HBV tinggi selama kehamilan untuk menurunkan risiko penularan kepada bayi.
Penggunaan tenofovir disoproxil fumarate (TDF) juga tidak otomatis membuat ibu harus berhenti menyusui.
Tinjauan sistematis tahun 2024 yang menganalisis 10 penelitian dengan 654 sampel ASI menemukan paparan tenofovir pada bayi melalui ASI sangat rendah. Perkiraan dosis relatif yang diterima bayi hanya sekitar 0,01 persen dari dosis berdasarkan berat badan yang direkomendasikan untuk bayi, dan kadar tenofovir dalam plasma bayi tidak terdeteksi pada sebagian besar penelitian.
Pedoman American Association for the Study of Liver Diseases (AASLD) 2025 juga menyatakan menyusui aman pada ibu yang menggunakan TDF maupun tenofovir alafenamide (TAF).
Meski demikian, keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan antivirus setelah melahirkan tidak boleh dilakukan sendiri. Sebagian ibu hanya mendapat obat untuk mencegah penularan selama kehamilan, sedangkan ibu lainnya memang membutuhkan pengobatan hepatitis B jangka panjang.
Hepatitis B bukan alasan untuk tidak memberikan ASI
Ibu dengan hepatitis B umumnya dapat menyusui sejak setelah persalinan. Tidak perlu menunggu sampai bayi mendapatkan seluruh dosis vaksin hepatitis B.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan imunoprofilaksis tidak terlambat: vaksin hepatitis B dan HBIg diberikan segera setelah lahir, vaksinasi dilanjutkan sampai lengkap, kemudian bayi menjalani pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs pada usia yang direkomendasikan.
Dengan perlindungan tersebut, ASI bukan menjadi jalur penularan utama yang perlu ditakuti.
Perhatian khusus diperlukan jika puting berdarah. Dalam kondisi ini, menyusui langsung dihentikan sementara sampai luka sembuh untuk mencegah bayi terpapar darah yang dapat membawa HBV.
Referensi





















