Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Makan Banyak demi Konten, Kenali Risiko Kesehatan Mukbang
ilustrasi mukbang (magnific.com/wayhomestudio)
  • Risiko mukbang terutama berkaitan dengan makan berlebihan, terburu-buru, serta pilihan dan keamanan makanan.

  • Dampaknya mencakup keluhan pencernaan, tersedak, dan risiko penyakit kronis bila pola makan tersebut berlangsung terus-menerus.

  • Komplikasi lambung yang mengancam nyawa pernah dilaporkan setelah makan berlebihan, tetapi kasus individual tidak menunjukkan seberapa sering hal itu terjadi pada pelaku mukbang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam mukbang yang menampilkan porsi ekstrem, terus memasukkan makanan ke mulut menjadi bagian dari konten, walaupun tubuh sudah merasa kenyang.

Risiko kesehatan dari mukbang bergantung pada beberapa hal, seperti jumlah makanan, kecepatan makan, pilihan menu, dan frekuensinya. Makan melewati rasa kenyang dapat menimbulkan keluhan pencernaan, dan, jika menjadi kebiasaan, dampaknya bisa lebih luas.

1. Perut kembung, mual, dan asam lambung naik

Makan berlebihan dapat menyebabkan perut terasa penuh, kembung, mual, nyeri, hingga muntah. Refluks, yaitu kondisi naiknya isi lambung ke kerongkongan, juga bisa muncul dan menimbulkan sensasi terbakar di dada.

Makan cepat atau sambil terdistraksi dapat membuat seseorang lebih sulit menyadari kapan harus berhenti. Keluhan yang terus berulang perlu diperiksakan, bukan dianggap sebagai konsekuensi biasa setiap selesai membuat konten.

2. Tersedak hingga tidak bisa bernapas

Makanan yang menyumbat jalan napas dapat menyebabkan tersedak. Jika sumbatannya berat, seseorang bisa kesulitan berbicara, batuk, atau bernapas. Situasi ini membutuhkan pertolongan segera.

Dalam konten tantangan makan, keselamatan menelan perlu tetap menjadi perhatian. Jika seseorang tiba-tiba tidak mampu bersuara atau bernapas saat makan, hentikan aktivitas dan segera lakukan pertolongan tersedak serta panggil bantuan darurat.

3. Pelebaran lambung akut yang berbahaya

ilustrasi mukbang (pexels.com/Eggy Clicks)

Dalam kondisi langka, lambung dapat mengembang secara cepat dan berlebihan. Kondisi yang disebut dilatasi lambung akut ini dapat mengganggu sirkulasi dan menyebabkan komplikasi serius, termasuk robeknya lambung.

Laporan kasus dalam jurnal Frontiers in Medicine tahun 2026 menggambarkan remaja laki-laki berusia 17 tahun yang mengalami nyeri dan pembesaran perut setelah mengikuti tantangan makan burger dan minuman berkarbonasi. Kondisinya memburuk hingga membutuhkan operasi darurat, di mana dokter mengeluarkan 3,6 liter isi lambung. Kabar baiknya, pasien kemudian berangsur pulih.

Walaupun pasien tersebut tidak disebut sebagai kreator mukbang, tetapi kasus ini menunjukkan komplikasi dari makan berlebihan. Nyeri perut hebat dan perut yang makin membesar setelah makan membutuhkan pemeriksaan segera.

4. Kenaikan berat badan dan penyakit terkait obesitas

Jika asupan energi terus melebihi kebutuhan, kebiasaan makan berlebihan bisa bikin berat badan melonjak. Obesitas meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, stroke, perlemakan hati, serta gangguan napas saat tidur.

Dampak lainnya dapat mencakup masalah sendi, batu empedu, dan beberapa jenis kanker. Ini merupakan risiko terkait obesitas dalam jangka panjang.

5. Asupan garam, gula, dan lemak yang berlebihan

Porsi makan dalam jumlah ekstrem dapat memberikan banyak garam, gula, dan lemak sekaligus, tergantung menunya. Asupan natrium tinggi berkaitan dengan kenaikan tekanan darah, yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Pola makan juga perlu membatasi gula bebas serta lemak jenuh dan trans.

Meski begitu, penilaian risiko bukan cuma berasal dari jumlah makanan, tetapi komposisi menu sehari-hari.

6. Keracunan makanan dari menu berisiko

ilustrasi mukbang, makan berlebihan (pexels.com/Tim Samuel)

Mukbang yang menyajikan daging, telur, ikan, atau kerang mentah maupun kurang matang membawa risiko penyakit bawaan makanan dibandingkan dengan makanan yang dimasak dengan benar.

Risiko ini berasal dari keamanan bahan dan pengolahannya. Tampilan segar tidak memastikan makanan bebas kuman penyebab penyakit.

7. Masalah pola makan dan bahaya perilaku kompensasi

Makan dalam jumlah besar tidak selalu menandakan gangguan makan. Namun, kehilangan kendali saat makan, rasa bersalah yang berat, atau dorongan untuk menghilangkan makanan dengan muntah paksa dan penyalahgunaan pencahar perlu mendapat bantuan profesional.

Jika perilaku tersebut terjadi, akibatnya dapat mencakup kerusakan enamel gigi dan lapisan tenggorokan, masalah usus, serta gangguan jantung atau ginjal.

Konten makan dapat dibuat dengan porsi yang sesuai kebutuhan, tanpa meneruskan makan ketika sudah kenyang. Jika makan mulai terasa sulit dikendalikan atau menimbulkan keluhan berulang, dokter dan tenaga kesehatan jiwa dapat membantu menilai penyebab serta penanganannya.

Referensi

Cleveland Clinic, “Overeating,” diakses September 2026.

St John Ambulance, “Choking,” diakses September 2026.

Xin Lu et al., “Pneumomediastinum by Acute Gastric Dilation after Binge-Eating: A Case Report and Literature Review,” Frontiers in Medicine 13 (2026): 1719127, https://doi.org/10.3389/fmed.2026.1719127.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Health Risks of Overweight & Obesity,” diakses September 2026.

World Health Organization, “Healthy Diet,” diakses September 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Safer Food Choices,” diakses September 2026.

NHS, “Bulimia,” diakses September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article