Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sering Bleaching Gigi? Hati-hati, Ini yang Bisa Terjadi
ilustrasi melakukan bleaching gigi (pexels.com/Evelina Zhu)
  • Efek samping bleaching yang paling umum adalah gigi sensitif dan iritasi gusi. Risikonya cenderung meningkat dengan konsentrasi bahan pemutih dan paparan yang lebih tinggi.

  • Bleaching sesuai protokol tidak terbukti menyebabkan kerusakan enamel yang besar secara klinis. Namun, penggunaan berlebihan atau terlalu lama dapat menyebabkan perubahan pada struktur enamel dalam penelitian laboratorium.

  • Tidak ada satu frekuensi bleaching yang aman untuk semua orang. Jenis produk, konsentrasi peroksida, kondisi gigi, dan lamanya pemakaian ikut menentukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Warna gigi mulai kembali menguning beberapa bulan setelah bleaching. Wajar jika ingin mengulang prosedur tersebut, apalagi sudah ada produk bleaching gigi yang bisa digunakan sendiri di rumah.

Bleaching memang relatif aman bila dilakukan dengan produk yang tepat dan mengikuti protokol. Namun, lebih sering tidak tidak selalu lebih baik. Paparan hidrogen peroksida atau karbamid peroksida yang terlalu banyak dapat meningkatkan efek samping, terutama pada gigi dan gusi.

1. Gigi bisa makin sensitif

Gigi ngilu setelah bleaching adalah efek samping yang paling umum.

Bahan peroksida dapat menembus enamel dan dentin. American Dental Association (ADA) menjelaskan, hidrogen peroksida bahkan dapat mencapai jaringan pulpa di bagian dalam gigi setelah melewati jaringan keras gigi. Paparan ini dapat memicu peradangan sementara pada pulpa dan menyebabkan sensitivitas, misalnya saat minum air dingin atau mengonsumsi makanan manis.

Pada tahap awal bleaching, sensitivitas ringan hingga sedang dapat dialami hingga sekitar dua pertiga pengguna. Biasanya ini cuma sementara dan membaik setelah perawatan dihentikan. Namun, konsentrasi bahan aktif, lama kontak, serta frekuensi paparan dapat memengaruhi risikonya.

Sebuah metaanalisis tahun 2025 menemukan bahwa produk bleaching rumahan dengan konsentrasi lebih tinggi cenderung meningkatkan risiko dan intensitas sensitivitas gigi, meskipun rata-rata keluhannya tetap tergolong ringan.

2. Gusi bisa mengalami iritasi

Gel bleaching seharusnya bekerja pada gigi, bukan menempel lama pada gusi.

Kontak peroksida dengan jaringan lunak dapat menyebabkan rasa terbakar, nyeri, atau iritasi pada gusi. Kadang, area gusi yang terkena juga terlihat memutih sementara. Kondisi ini lebih mudah terjadi jika tray tidak pas, gel terlalu banyak, atau bahan pemutih berkonsentrasi tinggi mengenai gusi.

Gusi atau tenggorokan sakit serta bercak putih pada gusi juga bisa terjadi sebagai efek samping bleaching gigi. Keluhan biasanya hanya berlangsung singkat, tetapi bleaching perlu dihentikan dan diperiksakan apabila iritasinya menetap atau berat.

3. Apakah terlalu sering bleaching bisa merusak enamel?

ilustrasi gigi bersih dan sehat (magnific.com/magnific)

Peroksida bekerja melalui reaksi oksidasi terhadap molekul berwarna di dalam gigi. Namun, paparan bahan bleaching dapat memengaruhi sifat fisik dan kimia permukaan enamel dalam kondisi tertentu.

Studi terbaru mengevaluasi 81 penelitian laboratorium mengenai bleaching berbasis peroksida. Temuannya, ada penurunan kecil pada microhardness atau kekerasan mikro enamel. Namun, efeknya sensitif terhadap hasil studi tertentu dan belum menunjukkan bukti jelas mengenai kerusakan enamel yang bermakna secara klinis.

Bleaching yang dilakukan sesuai petunjuk tidak terbukti menghancurkan enamel. Namun, akan beda cerita jika pemakaian diperpanjang melebihi rekomendasi.

Sebuah penelitian laboratorium dalam PLOS ONE menguji karbamid peroksida 10 persen selama 4 jam per hari. Kelompok standar menggunakannya selama 14 hari, sedangkan kelompok dengan paparan berlebihan menggunakannya hingga 28 hari—dua kali durasi yang direkomendasikan. Pada kelompok paparan 28 hari, kekerasan mikro enamel menurun dan perubahan permukaan enamel terlihat lebih berat.

Namun, penelitian tersebut menggunakan gigi sapi di laboratorium. Hasilnya menunjukkan potensi bahaya dari paparan berlebihan.

4. Hasil warna bisa menjadi tidak seragam

Bahan bleaching hanya mengubah warna gigi alami. Tambalan sewarna gigi, crown, veneer, dan implan tidak ikut menjadi lebih putih. Akibatnya, bleaching berulang dapat membuat perbedaan warna antara gigi asli dan gigi restorasi makin terlihat.

Karena itu, pemeriksaan sebelum bleaching penting, terutama jika ada tambalan atau restorasi pada gigi depan.

Seberapa sering boleh bleaching gigi?

Interval yang sesuai bergantung pada metode bleaching, konsentrasi bahan aktif, kondisi enamel dan gusi, adanya gigi sensitif atau karies, serta seberapa cepat warna gigi berubah kembali.

Bleaching rumahan yang diresepkan dokter gigi, misalnya, umumnya dilakukan dalam suatu periode terapi tertentu, bukan digunakan terus-menerus. Tray bleaching rumahan biasanya digunakan selama sekitar 2–6 minggu sesuai petunjuk dokter gigi.

Penting untuk mengikuti lama pemakaian yang dianjurkan. Menurut studi, mengurangi waktu paparan gel dapat mengurangi kejadian sensitivitas, sementara penggunaan sesuai waktu yang direkomendasikan produsen memberikan hasil pemutihan yang lebih baik.

Jika gigi terus terasa ngilu, gusi sakit, terdapat gigi berlubang, tambalan rusak, atau hasil bleaching sudah tidak banyak berubah meski pemakaian diteruskan, sebaiknya jangan bleaching lebih sering dan/atau lebih lama. Pemeriksaan dokter gigi dapat memastikan apakah perubahan warna memang membutuhkan bleaching atau justru berasal dari masalah gigi lain.

Akhir kata, bleaching gigi yang dilakukan dengan benar umumnya tidak menyebabkan kerusakan enamel yang besar. Namun, terlalu sering, terlalu lama, atau menggunakan konsentrasi tinggi tanpa pengawasan dapat memperbesar risiko sensitivitas dan iritasi gusi serta berpotensi mengubah sifat enamel. Mengikuti dosis dan durasi yang tepat jauh lebih penting daripada penggunaan berulang.

Referensi

American Dental Association, “Whitening,” ADA Oral Health Topics, diakses Agustus 2026.

Renata Maria Oleniki Terra et al., “Effect of At-Home Bleaching Agents and Concentrations on Tooth Sensitivity: A Systematic Review and Network Meta-Analysis,” Journal of Dentistry 160 (2025): 105891, https://doi.org/10.1016/j.jdent.2025.105891.

Péter Márton et al., “Enamel Damage from Tooth-Whitening—A Systematic Review and Meta-Analysis,” Journal of Dentistry 172 (2026): 106786, https://doi.org/10.1016/j.jdent.2026.106786.

Kelly Fernanda Barbosa Vilhena et al., “Dental Enamel Bleached for a Prolonged and Excessive Time: Morphological Changes,” PLOS ONE 14, no. 4 (2019): e0214948, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0214948.

Priscila Borges Gobbo de Melo et al., “Effect of the Reduction in the Exposure Time to At-Home Bleaching Gel on Color Change and Tooth Sensitivity: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Clinical Oral Investigations 28 (2024), https://doi.org/10.1007/s00784-024-06036-z.

Curated For You

Editorial Team

Related Article