Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Screen Time Usia 1 dan 6 Tahun Terkait Prestasi Anak yang Lebih Rendah
ilustrasi sering screen time pada anak usia dini (pexels.com/Helena Lopes)
  • Studi terhadap 502 anak menemukan screen time yang lebih tinggi pada usia 1 dan 6 tahun berkaitan dengan hasil akademik serta memori kerja yang lebih rendah beberapa tahun kemudian.

  • Penelitian ini menunjukkan hubungan, bukan membuktikan bahwa layar secara langsung merusak otak atau menurunkan kecerdasan anak.

  • Fokus orang tua tidak perlu hanya pada hitungan menit. Jenis konten, pendampingan, serta waktu yang tergeser dari tidur, bermain, membaca, dan interaksi langsung juga penting.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Layar sering menjadi bagian dari keseharian keluarga. Video dapat membantu anak tenang ketika orang tua menyiapkan makanan, panggilan video menghubungkan keluarga yang berjauhan, dan perangkat digital juga digunakan untuk belajar.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa waktu menatap layar pada tahap perkembangan tertentu perlu mendapat perhatian lebih. Screen time yang lebih tinggi pada usia 1 dan 6 tahun dikaitkan dengan kemampuan akademik dan memori kerja yang sedikit lebih rendah ketika anak berusia 9–10,5 tahun.

1. Usia 1 dan 6 tahun tampak paling sensitif

Penelitian yang diterbitkan dalam World Journal of Pediatrics ini melibatkan 502 anak dalam studi kohort GUSTO di Singapura. Orang tua melaporkan durasi anak melihat layar pada usia 1, 1,5, 2, 3, 6, dan 8 tahun.

Kemampuan akademik dinilai pada usia 9 tahun melalui tes membaca, mengeja, memahami bacaan, dan matematika. Memori kerja, yaitu kemampuan menyimpan sekaligus mengolah informasi untuk sementara, diukur ketika anak berusia sekitar 10,5 tahun.

Pada usia 1 tahun, rata-rata screen time tercatat 2,1 jam per hari. Setiap tambahan 1 jam screen time per hari pada usia ini berkaitan dengan:

  • Skor akademik sekitar 1,47 poin lebih rendah pada usia 9 tahun.

  • Skor memori kerja sekitar 1,12 poin lebih rendah pada usia 10,5 tahun.

Pada usia 6 tahun, setiap tambahan 1 jam per hari dikaitkan dengan skor akademik sekitar 0,88 poin lebih rendah dan skor memori kerja sekitar 1,01 poin lebih rendah.

Screen time pada usia 1,5 tahun juga berkaitan dengan skor akademik yang lebih rendah, tetapi tidak dengan hasil memori kerja.

Angka tersebut merupakan perbedaan rata-rata dalam skor standar, bukan penurunan IQ dan bukan persentase kehilangan kemampuan belajar. Pengaruhnya pada setiap anak juga dapat berbeda.

Setelah faktor-faktor lain diperhitungkan, screen time pada usia 2, 3, dan 8 tahun tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kedua hasil tersebut. Ini tidak membuktikan bahwa layar aman tanpa batas pada usia tersebut. Hasilnya hanya berarti studi ini tidak menemukan hubungan yang cukup kuat pada titik usia itu.

2. Bukan bukti bahwa layar merusak otak anak

ilustrasi orang tua mendampingi screen time pada anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Penelitian ini bersifat observasional. Para peneliti mengikuti pola penggunaan layar dan perkembangan anak, tetapi tidak menugaskan sebagian anak untuk menggunakan layar lebih lama. Karena itu, hasilnya hanya menunjukkan keterkaitan, bukan hubungan sebab-akibat.

Durasi layar juga dilaporkan oleh orang tua sehingga dapat mengalami kekeliruan ingatan. Studi tersebut belum sepenuhnya membedakan jenis perangkat, kualitas konten, apakah anak menonton sendiri atau bersama orang tua, serta tujuan penggunaan layar. Faktor keluarga lain yang tidak terukur juga mungkin memengaruhi hasil.

Bukti dari penelitian sebelumnya pun tidak sepenuhnya seragam. Metaanalisis terhadap lebih dari 100.000 anak dan remaja tidak menemukan hubungan bermakna antara total screen time dan gabungan prestasi akademik. Namun, durasi menonton TV dan bermain gim tertentu berkaitan dengan beberapa hasil akademik yang lebih rendah. Temuan itu menunjukkan bahwa jenis dan konteks penggunaan layar mungkin sama pentingnya dengan durasinya.

Penelitian terbaru juga tidak menguji mekanisme biologisnya. Salah satu kemungkinannya adalah efek penggantian. Maksudnya, makin lama anak menatap layar, makin sedikit waktu yang tersedia untuk berbicara dengan orang tua, bergerak, menjelajahi lingkungan, membaca, bermain, dan tidur.

Aktivitas tersebut tidak sekadar mengisi waktu. Anak belajar bahasa dari percakapan dua arah, melatih pengendalian diri melalui permainan, dan menggunakan memori kerja ketika mengikuti instruksi atau menyelesaikan masalah.

Studi lain dari kohort GUSTO menemukan bahwa kegiatan membaca bersama orang tua dapat memoderasi hubungan antara screen time saat bayi dan perkembangan jaringan otak yang berkaitan dengan pengendalian kognitif serta pengolahan emosi. Namun, hasil observasional tersebut tidak membuktikan membaca dapat menghapus seluruh dampak screen time.

3. Rekomendasi pengaturan screen time

Untuk anak di bawah usia 1 tahun, WHO tidak merekomendasikan screen time sedenter. Pada usia 1 tahun, screen time juga tidak direkomendasikan.

Anak usia 2 tahun serta 3–4 tahun dianjurkan menggunakan layar tidak lebih dari satu jam per hari. Lebih sedikit lebih baik.

Ketika anak sedang duduk tenang, membaca dan bercerita bersama pengasuh lebih dianjurkan.

Pada anak usia sekolah, American Academy of Pediatrics menekankan kualitas, konteks, dan fungsi media, selain durasinya. Layar sebaiknya tidak mengganggu tidur, aktivitas fisik, tugas sekolah, hubungan keluarga, serta waktu bermain tanpa perangkat.

Beberapa langkah berikut dapat diterapkan:

  • Catat penggunaan selama tiga hari. Pisahkan kebutuhan sekolah, komunikasi, dan hiburan agar keluarga mengetahui bagian mana yang dapat dikurangi.

  • Tetapkan waktu bebas layar. Hindari screen time saat makan, mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi, dan setidaknya satu jam sebelum tidur.

  • Pilih konten yang sesuai. Utamakan materi sesuai usia dan mendorong anak berpikir atau melakukan sesuatu setelah menonton.

  • Dampingi jika memungkinkan. Tanyakan apa yang dilihat anak, jelaskan kata baru, dan kaitkan isi layar dengan kehidupan nyata.

  • Sediakan pengganti yang jelas. Buku, menggambar, balok, teka-teki, bermain di luar, membantu pekerjaan rumah, dan bercerita lebih mudah diterima daripada cuma menyuruh anak berhenti menggunakan gawai.

Fitur pemutar otomatis dan notifikasi dapat dimatikan agar anak tidak terus berpindah ke video berikutnya. Perangkat elektronik juga sebaiknya tidak berada di kamar tidur pada malam hari. Orang dewasa perlu menerapkan aturan serupa karena kebiasaan anak banyak dipengaruhi contoh di rumah.

Konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog jika penggunaan layar terus mengganggu tidur, makan, sekolah, interaksi sosial, atau memicu kemarahan anak setiap kali penggunaannya dihentikan. Pemeriksaan juga diperlukan apabila orang tua melihat keterlambatan bicara, kesulitan belajar, atau perubahan perilaku.

Pesan penelitian ini, pada usia ketika otak sedang berkembang cepat dan tuntutan belajar mulai meningkat, waktu di depan layar perlu diseimbangkan dengan pengalaman nyata yang juga dibutuhkan anak. Screen time sebaiknya tidak mengambil terlalu banyak ruang dari pengalaman yang cuma bisa diperoleh melalui percakapan, sentuhan, gerakan, permainan, dan hubungan langsung dengan orang lain.

Referensi

Shuai Yang et al., “Screen Viewing Time from Age 1 to 8 Years and Subsequent Academic Performance and Working Memory,” World Journal of Pediatrics 22 (2026): 522–535, https://doi.org/10.1007/s12519-026-01046-1.

Mireia Adelantado-Renau et al., “Association Between Screen Media Use and Academic Performance Among Children and Adolescents: A Systematic Review and Meta-analysis,” JAMA Pediatrics 173, no. 11 (2019): 1058–1067, https://doi.org/10.1001/jamapediatrics.2019.3176.

Pei Huang et al., “Screen Time, Brain Network Development and Socio-emotional Competence in Childhood: Moderation of Associations by Parent–Child Reading,” Psychological Medicine 54, no. 9 (2024): 1992–2003, https://doi.org/10.1017/S0033291724000084.

World Health Organization, "Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children under 5 Years of Age," diakses Juli 2026.

American Academy of Pediatrics Council on Communications and Media, “Digital Ecosystems, Children, and Adolescents: Policy Statement,” Pediatrics 157, no. 2 (2026): e2025075320, diakses Juli 2026.

American Academy of Pediatrics, “Helping Kids Thrive in a Digital World: AAP Policy Explained,” diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article