Untuk anak di bawah usia 1 tahun, WHO tidak merekomendasikan screen time sedenter. Pada usia 1 tahun, screen time juga tidak direkomendasikan.
Anak usia 2 tahun serta 3–4 tahun dianjurkan menggunakan layar tidak lebih dari satu jam per hari. Lebih sedikit lebih baik.
Ketika anak sedang duduk tenang, membaca dan bercerita bersama pengasuh lebih dianjurkan.
Pada anak usia sekolah, American Academy of Pediatrics menekankan kualitas, konteks, dan fungsi media, selain durasinya. Layar sebaiknya tidak mengganggu tidur, aktivitas fisik, tugas sekolah, hubungan keluarga, serta waktu bermain tanpa perangkat.
Beberapa langkah berikut dapat diterapkan:
Catat penggunaan selama tiga hari. Pisahkan kebutuhan sekolah, komunikasi, dan hiburan agar keluarga mengetahui bagian mana yang dapat dikurangi.
Tetapkan waktu bebas layar. Hindari screen time saat makan, mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi, dan setidaknya satu jam sebelum tidur.
Pilih konten yang sesuai. Utamakan materi sesuai usia dan mendorong anak berpikir atau melakukan sesuatu setelah menonton.
Dampingi jika memungkinkan. Tanyakan apa yang dilihat anak, jelaskan kata baru, dan kaitkan isi layar dengan kehidupan nyata.
Sediakan pengganti yang jelas. Buku, menggambar, balok, teka-teki, bermain di luar, membantu pekerjaan rumah, dan bercerita lebih mudah diterima daripada cuma menyuruh anak berhenti menggunakan gawai.
Fitur pemutar otomatis dan notifikasi dapat dimatikan agar anak tidak terus berpindah ke video berikutnya. Perangkat elektronik juga sebaiknya tidak berada di kamar tidur pada malam hari. Orang dewasa perlu menerapkan aturan serupa karena kebiasaan anak banyak dipengaruhi contoh di rumah.
Konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog jika penggunaan layar terus mengganggu tidur, makan, sekolah, interaksi sosial, atau memicu kemarahan anak setiap kali penggunaannya dihentikan. Pemeriksaan juga diperlukan apabila orang tua melihat keterlambatan bicara, kesulitan belajar, atau perubahan perilaku.
Pesan penelitian ini, pada usia ketika otak sedang berkembang cepat dan tuntutan belajar mulai meningkat, waktu di depan layar perlu diseimbangkan dengan pengalaman nyata yang juga dibutuhkan anak. Screen time sebaiknya tidak mengambil terlalu banyak ruang dari pengalaman yang cuma bisa diperoleh melalui percakapan, sentuhan, gerakan, permainan, dan hubungan langsung dengan orang lain.
Referensi
Shuai Yang et al., “Screen Viewing Time from Age 1 to 8 Years and Subsequent Academic Performance and Working Memory,” World Journal of Pediatrics 22 (2026): 522–535, https://doi.org/10.1007/s12519-026-01046-1.
Mireia Adelantado-Renau et al., “Association Between Screen Media Use and Academic Performance Among Children and Adolescents: A Systematic Review and Meta-analysis,” JAMA Pediatrics 173, no. 11 (2019): 1058–1067, https://doi.org/10.1001/jamapediatrics.2019.3176.
Pei Huang et al., “Screen Time, Brain Network Development and Socio-emotional Competence in Childhood: Moderation of Associations by Parent–Child Reading,” Psychological Medicine 54, no. 9 (2024): 1992–2003, https://doi.org/10.1017/S0033291724000084.
World Health Organization, "Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children under 5 Years of Age," diakses Juli 2026.
American Academy of Pediatrics Council on Communications and Media, “Digital Ecosystems, Children, and Adolescents: Policy Statement,” Pediatrics 157, no. 2 (2026): e2025075320, diakses Juli 2026.
American Academy of Pediatrics, “Helping Kids Thrive in a Digital World: AAP Policy Explained,” diakses Juli 2026.