Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Asap Rokok Bisa Meningkatkan Risiko TBC pada Anak, Ini Alasannya

Asap Rokok Bisa Meningkatkan Risiko TBC pada Anak, Ini Alasannya
ilustrasi ibu menggendong anak melihat ke luar jendela rumah (magnific.com/magnific)
Intinya Sih
  • Asap rokok tidak menyebabkan TBC pada anak tanpa adanya paparan kuman penyebab TBC.

  • Meski bukan penyebab langsung, tetapi paparan asap rokok dikaitkan dengan risiko infeksi dan penyakit TBC yang lebih tinggi, terutama pada anak kecil dan anak yang tinggal bersama pasien TBC.

  • Jika ada pasien TBC aktif di rumah, anak perlu diperiksa meski belum bergejala. Rumah dan kendaraan juga harus sepenuhnya bebas asap rokok.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Anak mulai batuk, berat badannya sulit naik, dan tubuhnya tampak lesu. Mengingat anak tinggal serumah dengan anggota keluarga yang merokok, muncul kekhawatiran akan tuberkulosis (TBC).

Asap rokok tidak menyebabkan TBC secara langsung. TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tanpa paparan terhadap bakteri tersebut, asap rokok saja tidak akan membuat anak terinfeksi TBC.

Namun, asap rokok tetap berisiko bagi kesehatan. Asap rokok dapat mengganggu sistem pertahanan saluran pernapasan dan diduga membuat tubuh anak lebih sulit menghadapi bakteri TBC. Jika anak kemudian terpapar pasien TBC yang menular, risikonya dapat meningkat.

1. Asap rokok bukan sumber bakteri TBC

Bakteri TBC menyebar melalui udara ketika seseorang dengan TBC aktif pada paru-paru atau tenggorokan batuk, berbicara, atau bernyanyi. Bakteri dapat bertahan di udara selama beberapa jam, khususnya di ruangan tertutup yang sirkulasi udaranya buruk.

Agar infeksi terjadi, harus ada sumber bakteri, yang umumnya orang dengan TBC aktif yang masih dapat menularkan penyakit.

Setelah bakteri masuk ke tubuh, ada dua kemungkinan kondisi:

  • Infeksi TBC laten atau tidak aktif: bakteri ada di dalam tubuh, tetapi anak tidak sakit, tidak bergejala, dan tidak menularkannya kepada orang lain.
  • Penyakit TBC aktif: bakteri berkembang biak dan menimbulkan penyakit sehingga anak membutuhkan pengobatan.

Anak-anak, terutama yang berusia di bawah 5 tahun, lebih mudah mengalami perkembangan dari infeksi menjadi penyakit TBC aktif dibanding orang dewasa. Mereka juga lebih berisiko mengalami bentuk berat, seperti meningitis TBC atau TBC milier yang menyebar ke berbagai organ.

Jadi, jika anak terpapar bakteri dari pasien TBC, asap rokok akan membuat lingkungan pernapasan dan pertahanan tubuhnya menjadi kurang menguntungkan.

2. Seberapa besar pengaruh asap rokok?

Ilustrasi asap rokok.
ilustrasi asap rokok (unsplash.com/Thomas Stephan)

Asap rokok mengandung partikel dan bahan kimia yang dapat mengganggu rambut-rambut halus di saluran pernapasan serta fungsi sel imun, termasuk makrofag yang bertugas mengenali dan melawan bakteri di paru-paru. Gangguan tersebut dinilai dapat mempermudah terjadinya infeksi atau perkembangan infeksi laten menjadi penyakit aktif.

Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis menggabungkan 18 studi observasional yang mencakup lebih dari 30.000 anak. Dibandingkan dengan anak yang tidak terpapar, anak yang terkena asap rokok pasif memiliki risiko relatif infeksi TBC laten sekitar 1,64 kali dan penyakit TBC aktif sekitar 3,41 kali lebih tinggi. Pada anak di bawah 5 tahun, hubungan dengan TBC aktif terlihat lebih kuat.

Perlu diperhatikan bahwa semua studi dalam metaanalisis tersebut bersifat observasional dan hasil antarpenelitian sangat bervariasi. Anak yang terpapar asap rokok mungkin juga tinggal di rumah yang lebih padat, memiliki kondisi ekonomi atau gizi berbeda, atau lebih lama berada dekat pasien TBC. Para peneliti menyimpulkan bahwa hubungan tersebut mengkhawatirkan, tetapi belum cukup untuk menetapkan besarnya efek secara pasti pada setiap anak.

Penelitian lain terhadap 616 anak yang menjalani pelacakan kontak TBC juga menemukan bahwa paparan asap rokok merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan infeksi laten dan TBC aktif. Anak dengan TBC yang terpapar asap rokok juga lebih sering memperoleh hasil negatif palsu pada pemeriksaan respons imun tertentu.

Risiko paling perlu diperhatikan ketika ada beberapa kombinasi kondisi, seperti:

  • Ada pasien TBC paru aktif di rumah.
  • Anggota keluarga merokok di dalam rumah atau kendaraan.
  • Usia anak di bawah 5 tahun.
  • Rumah sempit, padat, atau memiliki sirkulasi udara buruk.
  • Anak mengalami malnutrisi, HIV, atau kondisi lain yang melemahkan sistem imun.

Dalam situasi seperti ini, menghilangkan asap rokok saja tidak cukup. Sumber penularan TBC harus ditemukan dan diobati, sementara anak perlu mendapatkan pemeriksaan serta pencegahan sesuai penilaian dokter.

3. Apa yang perlu dilakukan orang tua?

Kalau seseorang di rumah didiagnosis TBC aktif yang menular, jangan menunggu anak mulai batuk. Semua anak yang pernah berada dekat pasien perlu dinilai oleh tenaga kesehatan, terutama bayi dan anak di bawah 5 tahun.

Evaluasi dapat meliputi riwayat kontak dan gejala, pemeriksaan fisik, tes kulit atau tes darah TBC, serta rontgen dada. Hasil tes awal yang negatif belum tentu menyingkirkan infeksi apabila paparan baru terjadi atau anak memiliki gejala. Dokter dapat menentukan kapan perlu pemeriksaan ulang dan apakah anak butuh obat pencegahan setelah TBC aktif disingkirkan.

Tanda yang perlu diperhatikan pada anak meliputi:

  • Batuk yang menetap.
  • Demam.
  • Berat badan turun atau tidak bertambah sesuai harapan.
  • Tubuh lemah, lesu, atau tidak seaktif biasanya.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Berkeringat pada malam hari.

Gejala TBC pada anak dapat tidak khas dan menyerupai penyakit lain. Anak yang memiliki riwayat kontak erat harus diperiksa meski tidak terlihat sakit.

Selanjutnya, buat rumah dan kendaraan 100 persen bebas asap rokok. Merokok di kamar lain, dekat jendela, di kamar mandi, atau sambil menyalakan kipas tidak menghilangkan paparan. Ventilasi dan penyaring udara bisa mengurangi sebagian partikel, tetapi tidak dapat membersihkannya sepenuhnya. Satu-satunya cara menghilangkan paparan asap rokok di dalam ruangan adalah tidak merokok di dalamnya.

Jika belum bisa berhenti sepenuhnya, anggota keluarga harus merokok di luar dan jauh dari pintu, jendela terbuka, saluran masuk udara, serta kendaraan. Namun, yang terbaik tetap berhenti merokok karena partikel rokok juga dapat menempel pada pakaian, furnitur, karpet, dan permukaan lain.

Vaksin BCG tetap penting karena membantu melindungi anak dari bentuk TBC berat, termasuk meningitis TBC dan TBC milier. Akan tetapi, vaksin tersebut tidak memberikan perlindungan penuh dari seluruh infeksi atau penyakit TBC. Anak yang telah menerima BCG tetap harus diperiksa setelah berkontak erat dengan pasien TBC.

Kesimpulannya, asap rokok tidak menyebabkan TBC pada anak tanpa adanya paparan kuman penyebab TBC. Namun, asap rokok dapat menjadi faktor yang memperbesar kerentanan anak.

Lindungi anak dengan menghentikan paparan asap rokok dan segera memeriksa anak jika ada pasien TBC aktif di sekitarnya.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC), “Tuberculosis in Children,” diakses Juli 2026.

CDC, “Tuberculosis in Children,” diakses Juli 2026.

Jayadeep Patra, Rachelle Jha, Wilson Rehm, and Prabhat Jha, “Exposure to Second-Hand Smoke and the Risk of Tuberculosis in Children and Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis of 18 Observational Studies,” PLOS Medicine 12, no. 6 (2015): e1001835, https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1001835.

Neus Altet et al., “Tobacco Smoking and Second-Hand Smoke Exposure Impact on Tuberculosis in Children,” Journal of Clinical Medicine 11, no. 7 (2022): 2000, https://doi.org/10.3390/jcm11072000.

United States Environmental Protection Agency, “Secondhand Smoke and Electronic-Cigarette Aerosols,” diakses Juli 2026.

CDC, “Bacille Calmette-Guérin (BCG) Vaccine for Tuberculosis,” diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More