Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sedih Setelah DNF? Ini Cara Pulih dan Menyusun Langkah Berikutnya
ilustrasi pelari maraton (pexels.com/RUN 4 FFWPU)
  • Did not finish (DNF) adalah catatan bahwa peserta tidak menyelesaikan lomba. Penyebabnya beragam, termasuk cedera, sakit, kelelahan, cuaca, atau batas waktu.

  • Sedih, kecewa, lega, atau campuran semuanya dapat muncul setelah DNF. Beri ruang untuk merasakan emosi sebelum menilai diri sendiri atau menyusun target baru.

  • Jika kesedihan makin berat, menetap, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, bicaralah dengan tenaga kesehatan mental.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Race pack sudah diambil. Nomor peserta sudah terpasang. Bulan-bulan latihan yang menantang telah terlewati. Namun, pada akhirnya karena satu dan lain hal, kamu tidak bisa menyelesaikan race, alias did not finish (DNF).

Bagi beberapa orang, DNF bisa terasa menyedihkan layaknya kehilangan. Target yang sudah dibayangkan tak tercapai, sementara secara mental kenyataan ini sulit diterima. Perasaan sedih atau kecewa setelah DNF bukan reaksi yang aneh. Dalam studi kualitatif terhadap enam peserta ultramaraton, pelari yang tidak finis menceritakan perasaan kecewa maupun penerimaan setelah lomba, meski pengalaman mereka berbeda-beda dan studi ini tidak menggambarkan semua pelari.

DNF juga tidak selalu terjadi karena kurang berusaha. Cedera, sakit, kelelahan berat, gangguan pencernaan, cuaca buruk, atau tidak mencapai batas waktu bisa memaksa seseorang untuk berhenti. Studi terhadap 211 peserta dua lomba lari gunung jarak jauh di Spanyol pada 2025 menemukan beragam alasan tersebut. Peneliti juga menyoroti bahwa menjaga kesehatan dapat menjadi pertimbangan saat memutuskan untuk berhenti.

Jangan menghakimi diri sendiri

Setelah DNF, mudah sekali mengubah pikiran dari “aku tidak menyelesaikan lomba ini” menjadi “aku gagal sebagai pelari.” Padahal, kedua kalimat tersebut maknanya berbeda. DNF hanyalah hasil dari satu perlombaan dan tidak mencerminkan seluruh proses latihan, kemampuan, maupun nilai diri.

Karena itu, janganlah memaksa diri untuk segera merasa baik-baik saja. Beri diri waktu untuk beristirahat dan menerima emosi yang muncul, baik sedih, marah, malu, lega, maupun campuran dari semuanya.

Sebuah penelitian etnografi pada pelari ultramaraton rekreasional di Estonia menunjukkan bahwa banyak pelari mengaitkan penyelesaian lomba dengan sifat seperti disiplin dan ketekunan. Hal itu dapat menjelaskan mengapa DNF sering terasa sebagai kegagalan pribadi, bukan sekadar hasil lomba yang tidak sesuai harapan.

Jadikan DNF sebagai pelajaran, evaluasi dengan kepala dingin

ilustrasi cedera saat maraton yang bisa membuat pelari DNF (unsplash.com/Retrato Deportivo)

Setelah tubuh cukup pulih dan emosi lebih tenang, coba tuliskan apa yang terjadi. Misalnya, kapan keluhan mulai muncul, apa kondisi cuaca dan lintasan, apakah ada cedera atau gangguan pencernaan, serta keputusan apa yang diambil. Pisahkan hal-hal yang bisa dikendalikan—seperti strategi pace atau perlengkapan—dari hal di luar kendali, seperti cuaca.

Tujuannya adalah menemukan satu atau dua pelajaran yang bisa dipakai nanti. Jika DNF terjadi karena gejala fisik, jangan mengabaikan keluhan tersebut demi mengejar lomba berikutnya. Pertimbangkan untuk menemui tenaga medis profesional sebelum kembali berlatih, terutama jika nyeri atau gejala belum pulih.

Bercerita kepada orang yang bisa mendengarkan

Berbagi cerita dengan teman, keluarga, pelatih, atau sesama peserta dapat membantu mengurai pengalaman tanpa harus langsung mencari solusi.

Kalau kamu belum siap bercerita, menulis catatan pribadi juga bisa menjadi langkah awal.

Dalam studi intervensi terhadap atlet mahasiswa National Collegiate Athletic Association (NCAA), program yang melatih belas kasih kepada diri sendiri membantu peserta meningkatkan sikap tersebut dan mengurangi kritik terhadap diri sendiri.

Setelah siap, barulah susun target baru

ilustrasi konseling ke psikolog (pexels.com/Timur Weber)

Setelah DNF, tidak perlu buru-buru mendaftar lomba berikutnya hanya untuk membuktikan kemampuan diri. Prioritaskan pemulihan terlebih dulu, lalu tentukan langkah selanjutnya, apakah kembali berlomba, mencoba jarak yang berbeda, atau berlatih tanpa target kompetisi untuk sementara waktu.

Saat kamu sudah siap kembali, fokuslah pada proses, seperti membangun latihan secara bertahap atau memperbaiki strategi pace.

Perasaan sedih setelah DNF biasa akan mereda seiring waktu, meski prosesnya bisa berbeda-beda pada setiap orang. Namun, jika perasaan tersebut makin berat, tak kunjung membaik, atau mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan, maupun aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan. Jika muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan dari orang tepercaya dan layanan darurat atau IGD terdekat.

Referensi

Nicholas L. Holt, Homan Lee, Youngoh Kim, dan Kyra Klein, “Exploring Experiences of Running an Ultramarathon,” The Sport Psychologist 28, no. 1 (2014): 22–35, https://doi.org/10.1123/tsp.2013-0008.

Sílvia Puigarnau, Neus Guinovart, Itziar Urquijo, dan Saul Alcaraz, “Predictors and Reasons for Dropping Out of Long-Distance Mountain Races,” Apunts Educación Física y Deportes, no. 159 (2025): 10–17, https://doi.org/10.5672/apunts.2014-0983.es.(2025/1).159.02.

Toomas Gross, “Talking about and Coping with Pain and Suffering in Ultrarunning as Moral Language,” Qualitative Research in Sport, Exercise and Health 17, no. 3 (2025): 205–21, https://doi.org/10.1080/2159676X.2025.2453681.

Ashley L. Kuchar, Kristin D. Neff, dan Amber D. Mosewich, “Resilience and Enhancement in Sport, Exercise, & Training (RESET): A Brief Self-Compassion Intervention with NCAA Student-Athletes,” Psychology of Sport and Exercise 67 (2023): 102426, https://doi.org/10.1016/j.psychsport.2023.102426.

National Institute of Mental Health, “My Mental Health: Do I Need Help?,” diakses 27 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article