Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sering Makan Makanan Ultraproses, Risiko Kanker Prostat Naik 30 Persen
ilustrasi makanan kemasan, makanan ultraproses (pexels.com/Diego Girón)
  • Studi terbaru terhadap 17.024 laki-laki di AS menemukan konsumsi makanan ultraproses (UPF) yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko kanker prostat sekitar 30 persen lebih tinggi.

  • Penelitian ini bersifat cross-sectional, sehingga belum membuktikan UPF menyebabkan kanker prostat atau memastikan makanan tersebut dikonsumsi sebelum kanker berkembang.

  • Bukti keseluruhan mengenai UPF dan kanker prostat masih belum konsisten; metaanalisis sebelumnya tidak menemukan peningkatan risiko yang signifikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Minuman bersoda, sereal sarapan kemasan, daging olahan, camilan kemasan, hingga berbagai makanan siap santap punya kesamaan, yaitu banyak di antaranya masuk kategori ultra-processed foods (UPF) atau makanan ultraproses.

Makanan jenis ini makin banyak diteliti karena konsumsinya telah dikaitkan dengan obesitas, gangguan metabolik, penyakit kardiovaskular, hingga beberapa jenis kanker. Kini, studi terbaru menambahkan satu kemungkinan lain, yakni kanker prostat.

Penelitian dalam The American Journal of Medicine pada Agustus 2026 menemukan laki-laki yang mendapatkan porsi kalori lebih besar dari UPF memiliki kemungkinan lebih tinggi melaporkan pernah didiagnosis kanker prostat. Pada beberapa analisis, selisihnya mencapai sekitar 30 persen dibanding mereka yang paling sedikit mengonsumsi UPF.

Studi melibatkan lebih dari 17 ribu laki-laki

Para peneliti dari Florida Atlantic University menganalisis data 17.024 laki-laki berusia 18 tahun ke atas yang mengikuti National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) Amerika Serikat (AS) antara tahun 2003 dan 2023.

Peserta menjalani dua kali 24-hour dietary recall, yaitu melaporkan seluruh makanan dan minuman yang mereka konsumsi dalam 24 jam. Makanan kemudian dikelompokkan berdasarkan sistem NOVA, yang mengklasifikasikan pangan menurut tingkat dan tujuan pemrosesannya.

Para peneliti menghitung berapa persen asupan energi setiap peserta berasal dari UPF. Peserta kemudian dibagi menjadi empat kelompok, mulai dari mereka yang memperoleh kurang dari sekitar 20 persen kalori dari UPF hingga lebih dari 44 persen.

UPF dalam konteks ini umumnya berupa formulasi industri yang menggunakan bahan seperti pati, gula, minyak atau lemak yang telah dimodifikasi, protein terisolasi, serta berbagai zat tambahan untuk menghasilkan rasa, tekstur, warna, atau daya simpan tertentu.

Contohnya minuman ringan, beberapa sereal sarapan kemasan, makanan ringan, makanan siap santap, dan beberapa jenis daging olahan.

Kelompok dengan konsumsi lebih tinggi punya risiko sekitar 30 persen lebih besar

Dibandingkan kelompok dengan konsumsi UPF paling rendah, gabungan tiga kelompok dengan konsumsi lebih tinggi memiliki risiko kanker prostat 29 persen lebih tinggi.

Ketika peneliti hanya menggabungkan dua kelompok konsumsi tertinggi, peningkatannya sekitar 30 persen.

Setelah memperhitungkan usia, ras dan etnis, status merokok, serta tingkat kemiskinan, asosiasinya tetap terlihat dengan kenaikan sekitar 27–31 persen, bergantung pada kelompok yang dibandingkan.

Kelompok dengan konsumsi UPF paling tinggi memiliki estimasi risiko sekitar 34 persen lebih besar setelah penyesuaian. Namun, hasil untuk kelompok ini sendiri tidak mencapai signifikansi statistik, sehingga tidak menyimpulkan bahwa makin banyak UPF pasti menghasilkan peningkatan risiko 34 persen.

Angka 30 persen tersebut juga merupakan risiko relatif, bukan berarti 30 dari setiap 100 laki-laki yang makan banyak UPF akan terkena kanker prostat.

Namun, studi ini belum membuktikan UPF menyebabkan kanker prostat

ilustrasi makanan ultra proses, ultraprocessed foods (magnific.com/magnific)

NHANES pada dasarnya merupakan survei cross-sectional. Riwayat kanker prostat ditentukan berdasarkan laporan peserta, sedangkan pola makan diukur melalui dua kali recall makanan ketika mereka mengikuti survei.

Dengan desain seperti ini, para peneliti tidak bisa memastikan apakah seseorang mengonsumsi banyak UPF selama bertahun-tahun lalu mengalami kanker prostat, atau seseorang sudah pernah didiagnosis kanker sebelum pola makan yang dicatat dalam survei tersebut.

Kemungkinan reverse causality juga tidak dapat sepenuhnya disingkirkan. Diagnosis penyakit dapat membuat seseorang justru mengubah cara makan.

Selain itu, dua hari pencatatan makanan belum tentu menggambarkan pola makan seseorang selama puluhan tahun—padahal kanker prostat dapat berkembang dalam waktu lama.

Penelitian ini juga menggunakan interval kepercayaan 90 persen, bukan 95 persen yang lebih lazim digunakan dalam riset epidemiologi. Para penulis menyatakan pilihan tersebut ditetapkan sebelumnya karena hipotesis yang diuji adalah potensi bahaya.

Karena berbagai keterbatasan itu, para peneliti menyimpulkan bahwa studi analitik lebih lanjut diperlukan untuk menguji hipotesis tersebut.

Penelitian sebelumnya justru belum menemukan hubungan yang meyakinkan

Tinjauan sistematis dan metaanalisis tahun 2024 menggabungkan enam penelitian, terdiri dari empat studi kohort dan dua studi kasus-kontrol.

Untuk kejadian kanker prostat, analisis gabungan lima studi menghasilkan risiko relatif 1,02 dengan interval kepercayaan 95 persen 0,96–1,08. Artinya, tidak ditemukan hubungan signifikan antara konsumsi UPF yang tinggi dan risiko terkena kanker prostat.

Analisis terhadap mortalitas kanker prostat memang menunjukkan kecenderungan naik sekitar 15 persen pada konsumsi UPF tinggi, tetapi hasilnya secara statistik belum signifikan.

Tinjauan ilmiah mengenai UPF dan kanker yang diterbitkan pada 2025 sampai pada gambaran serupa, bahwa hubungan dengan beberapa kanker, terutama kanker kolorektal, terlihat lebih konsisten, sedangkan bukti untuk kanker prostat masih belum konklusif.

Bagaimana UPF mungkin berhubungan dengan kanker?

Belum ada mekanisme yang terbukti menjelaskan UPF dan kanker prostat.

Ada beberapa hipotesis biologis, seperti pola makan tinggi UPF sering memiliki kepadatan energi tinggi serta lebih banyak gula, lemak dan garam, tetapi lebih sedikit serat dan berbagai komponen dari makanan utuh.

Konsumsi tinggi UPF juga dapat mendorong asupan energi berlebihan dan peningkatan berat badan. Obesitas kemudian dapat memengaruhi metabolisme insulin, hormon, inflamasi kronis, dan berbagai jalur biologis yang terkait dengan perkembangan kanker.

Selain kandungan gizinya, para peneliti juga mempelajari kemungkinan peran zat tambahan makanan, senyawa yang terbentuk selama pemrosesan, bahan kimia dari kemasan, stres oksidatif, serta perubahan mikrobioma usus. Namun, sebagian mekanisme tersebut masih berasal dari penelitian eksperimental dan belum membuktikan bahwa komponen tertentu dalam UPF menyebabkan kanker prostat pada manusia.

Hal ini juga menjelaskan mengapa semua makanan yang masuk kategori UPF sebaiknya tidak dianggap mempunyai risiko biologis yang identik.

Jadi, apakah laki-laki harus menghindari semua UPF?

ilustrasi makanan ultra proses (unsplash.com/Li Lin)

Belum ada bukti dari studi ini yang dapat menetapkan jumlah UPF tertentu sebagai batas aman atau mengatakan bahwa menghindari seluruh UPF akan mencegah kanker prostat.

Namun, pola makan yang sangat didominasi UPF tidak menunjukkan keuntungan kesehatan dan telah dikaitkan dengan berbagai penyakit kronis.

Untuk kanker prostat secara khusus, faktor risiko yang sudah jauh lebih jelas antara lain bertambahnya usia, riwayat keluarga, faktor genetik, serta ras atau ancestry tertentu. Pola makan mungkin ikut berperan, tetapi kontribusinya masih terus dipelajari.

Referensi

Hunter Scott, Yanna Willett, John Dunn, Timothy D. Dye, and Charles H. Hennekens, “Consumption of Ultra-Processed Foods and Increased Risks of Prostate Cancer in a Random Sample of United States Adults,” The American Journal of Medicine, published online August 7, 2026, doi:10.1016/j.amjmed.2026.07.043.

Cayla Fichtel-Epstein et al., “Ultra-Processed Food and Prostate Cancer Risk: A Systemic Review and Meta-Analysis,” Cancers 16, no. 23 (2024): 3953, doi:10.3390/cancers16233953.

M. Kantilafti et al., “Ultra-Processed Foods and Cancer Risk: A Narrative Review of Epidemiological Findings and Biological Mechanisms,” International Journal of Food Sciences and Nutrition 76, no. 8 (2025).

Curated For You

Editorial Team

Related Article