Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ini Alasan Makanan Ultraproses Sulit Bikin Kenyang

Ini Alasan Makanan Ultraproses Sulit Bikin Kenyang
ilustrasi makanan ultraproses (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
  • Makanan ultraproses tinggi kalori tapi rendah protein, serat, dan air, membuat rasa kenyang cepat hilang karena tubuh tidak mendapat nutrisi penahan lapar yang cukup.

  • Proses pengolahan membuat makanan mudah dicerna dan cepat menaikkan lalu menurunkan gula darah, sehingga sinyal kenyang berkurang dan rasa lapar muncul lebih cepat.

  • Rasa lezat hasil kombinasi gula, garam, dan lemak memicu otak terus ingin makan, sementara tekstur lembut serta porsi besar membuat konsumsi berlebihan tanpa sadar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah merasa baru saja menghabiskan sebungkus keripik, mi instan, atau biskuit, tetapi satu jam kemudian perut sudah lapar lagi? Padahal kalau dihitung, makanan tersebut kalorinya cukup tinggi.

Makanan ultraproses atau ultra-processed foods (UPF) memang dikenal kurang mampu memberikan rasa kenyang yang bertahan lama dibanding makanan utuh seperti buah, sayuran, kacang-kacangan, atau sumber protein alami. Ini karena kombinasi kandungan gizinya, cara tubuh mencerna makanan, hingga bagaimana makanan tersebut dirancang oleh industri pangan. Lantas, mengapa UPF membuat kamu cepat lapar lagi?

1. Tinggi kalori, tetapi minim zat yang membuat kenyang

Salah satu alasan utama adalah komposisinya. UPF umumnya kaya akan gula tambahan, tepung olahan, dan lemak, tetapi rendah protein, serat, serta air. Padahal, protein dan serat merupakan dua nutrisi yang paling berperan dalam menciptakan rasa kenyang.

Protein membantu memperlambat pengosongan lambung sekaligus merangsang hormon kenyang seperti GLP-1 dan peptide YY. Sementara itu, serat menyerap air, membuat isi lambung lebih penuh, dan difermentasi oleh bakteri baik di usus menjadi senyawa yang ikut mengirim sinyal kenyang ke otak. Akibatnya, kamu bisa mengonsumsi banyak kalori dari UPF tanpa benar-benar merasa kenyang.

2. Lebih cepat dicerna sehingga rasa lapar datang lebih cepat

Selama proses pengolahan, struktur alami bahan makanan mengalami banyak perubahan. Biji-bijian utuh misalnya, diubah menjadi tepung halus sehingga tubuh jauh lebih mudah mencernanya. Akibatnya, kadar gula darah naik dengan cepat setelah makan, lalu turun kembali dalam waktu singkat. Fluktuasi gula darah seperti ini sering dikaitkan dengan munculnya rasa lapar lebih cepat.

Selain itu, makanan yang cepat dicerna juga membuat lambung lebih cepat kosong. Ketika lambung tidak lagi terisi, sinyal kenyang yang dikirim ke otak pun ikut berkurang.

3. Teksturnya terlalu lembut sehingga otak kurang merasakan kamu sedang makan

Tumpukan sosis ultraproses berwarna merah kecokelatan dan kentang goreng kuning keemasan di atas piring putih dengan latar biru.
ilustrasi sosis ultraproses dan kentang goreng (pexels.com/jean Trinidad)

Coba bandingkan mengunyah buah dengan memakan keripik kentang atau minum minuman manis. Buah utuh membutuhkan lebih banyak kunyahan dan waktu untuk dihabiskan. Sebaliknya, banyak UPF memiliki tekstur yang lembut, renyah, atau mudah ditelan.

Karena proses mengunyah berlangsung sangat singkat, otak menerima lebih sedikit rangsangan yang biasanya membantu mengenali bahwa tubuh sedang mendapatkan asupan makanan. Makin sedikit usaha mengunyah, makin mudah pula kamu makan dalam jumlah besar tanpa benar-benar menyadarinya.

4. Dirancang agar terasa sangat nikmat

Industri makanan memahami betul kombinasi rasa yang paling disukai manusia. Itulah sebabnya banyak UPF memiliki perpaduan gula, garam, lemak, dan penyedap rasa dalam proporsi yang sangat pas.

Kombinasi ini sering disebut sebagai bliss point, yaitu titik ketika makanan terasa sangat lezat sehingga membuat kita ingin terus mengambil suapan berikutnya. Saat sistem penghargaan di otak lebih aktif karena rasa yang menyenangkan, sinyal kenyang dari tubuh bisa menjadi kurang dominan. Akibatnya, kita tetap ingin makan meski kebutuhan energi sebenarnya sudah terpenuhi.

5. Pengaruhnya terhadap usus juga berbeda

Makanan utuh kaya akan serat yang menjadi makanan bagi bakteri baik di usus. Ketika bakteri tersebut memfermentasi serat, mereka menghasilkan asam lemak rantai pendek yang membantu mengatur rasa kenyang.

Sebaliknya, UPF umumnya miskin serat sehingga proses ini tidak berlangsung optimal. Konsumsi UPF dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus dan respons hormon yang berkaitan dengan nafsu makan, meski mekanismenya masih terus diteliti.

6. Kemasan dan porsinya membuat kamu makan lebih banyak

Mangkuk berisi sereal warna-warni dan botol minuman berwarna cerah dengan pola geometris di atas meja marmer.
ilustrasi makanan ultraproses (freepik.com/freepik)

Faktor psikologis juga ikut berperan. UPF sering dijual dalam kemasan besar atau praktis dibawa ke mana saja. Tanpa sadar, kamu cenderung terus makan langsung dari bungkus hingga isinya habis.

Belum lagi tampilannya yang menarik dan mudah didapat membuat frekuensi konsumsinya makin tinggi. Akibatnya, tubuh terbiasa menerima kalori dalam jumlah besar, tetapi rasa kenyang yang muncul cuma sebentar.

Bagaimana agar kenyang lebih lama

Tidak perlu menghindari semua makanan kemasan. Namun, ada beberapa cara agar rasa kenyang bertahan lebih lama.

Misalnya, tambahkan sumber protein seperti telur, ayam, ikan, tahu, atau yoghurt saat makan. Perbanyak pula makanan berserat, seperti sayuran, buah, dan biji-bijian utuh.

Jika sedang mengonsumsi camilan kemasan, cobalah memadukannya dengan buah atau yoghurt agar kandungan protein dan seratnya meningkat. Selain itu, biasakan makan perlahan dan pindahkan camilan ke dalam mangkuk kecil daripada langsung menghabiskannya dari kemasannya.

Pada akhirnya, alasan UPF sulit bikin kenyang bukan karena kurangnya kemauan untuk menahan lapar. Kandungan gizinya, cara tubuh mencernanya, tekstur makanan, hingga strategi pembuatannya memang membuat otak dan tubuh menerima sinyal kenyang yang lebih lemah. Itulah mengapa pola makan yang lebih banyak berisi makanan utuh atau minim proses umumnya lebih efektif membantu mengontrol nafsu makan sekaligus menjaga berat badan tetap sehat.

Referensi

Brenda Watson Media. Diakses pada Juli 2026. "Why Some Foods Never Really Fill You Up."

Frive. Diakses pada Juli 2026. Why Am I Always Hungry? "How Ultra-Processed Foods Hijack Your Weight Goals."

Ulug, E., Pinar, A. A., & Yildiz, B. O. (2025). Impact of ultra-processed foods on hedonic and homeostatic appetite regulation: A systematic review. Appetite, 213, 108139. https://doi.org/10.1016/j.appet.2025.108139

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More