Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Anak Rewel karena Sembelit? Ini Solusinya!

Ilustrasi seorang anak mengalami sembelit.
ilustrasi anak mengalami sembelit (IDN Times/Novaya Siantita)
Intinya sih...
  • Sembelit pada anak umumnya ditandai frekuensi BAB berkurang, tinja keras, dan nyeri saat buang air besar.
  • Penyebab tersering adalah asupan serat dan cairan kurang, kebiasaan menahan BAB, serta fase toilet training.
  • Penanganan disesuaikan usia: bayi, balita, dan anak lebih besar memiliki pendekatan berbeda.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Anak yang biasanya aktif mendadak lebih rewel, menolak makan, atau terlihat kesakitan saat ke kamar mandi sering bikin orang tua cemas. Salah satu penyebab yang kerap luput adalah sembelit. Masalah ini tidak selalu serius, tetapi cukup untuk mengganggu kenyamanan dan suasana hati anak sepanjang hari.

Sembelit pada anak adalah kondisi umum. Sembelit pada anak biasanya bersifat fungsional, yang artinya tidak disebabkan penyakit serius, melainkan pola makan, kebiasaan, atau fase perkembangan tertentu. Dengan pemahaman yang tepat, sebagian besar kasus sembelit pada anak bisa diatasi di rumah.

Table of Content

1. Gejala sembelit pada anak

1. Gejala sembelit pada anak

Gejala sembelit pada anak tidak hanya soal jarang buang air besar (BAB). Beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Frekuensi BAB kurang dari tiga kali seminggu.
  • Tinja keras, kering, atau berukuran besar.
  • Nyeri saat BAB.
  • Anak tampak menahan BAB (menyilangkan kaki, menegang).
  • Perut kembung atau nyeri perut.
  • Terkadang a sedikit dadarah pada tinja akibat luka kecil di anus.

Perilaku menahan BAB adalah salah satu faktor penting dalam sembelit fungsional pada anak. Kebiasaan ini bisa memperburuk kondisi karena tinja makin lama berada di usus, makin keras konsistensinya.

2. Penyebab sembelit pada anak

Sebagian besar kasus sembelit pada anak bersifat fungsional. Beberapa penyebab yang paling sering antara lain:

  • Kurang asupan serat: Pola makan rendah serat berkontribusi pada tinja yang lebih keras. Penting untuk memastukan konsumsi buah, sayur, dan biji-bijian utuh sebagai bagian dari pola makan sehat anak.
  • Kurang asupan cairan: Cairan membantu melunakkan tinja. Dehidrasi ringan saja bisa memengaruhi konsistensi tinja.
  • Sering menahan BAB: Anak bisa menahan BAB karena takut sakit, malas ke toilet, atau tidak nyaman di lingkungan baru (misalnya mulai sekolah).
  • Perubahan rutinitas atau pola makan: Perjalanan jauh, perubahan susu formula, atau mulai MPASI juga dapat memengaruhi pola BAB.

Sebuah tinjauan sistematis menegaskan bahwa sembelit fungsional menyumbang mayoritas kasus sembelit pada anak dan jarang berkaitan dengan kelainan organik serius.

3. Cara mengatasi sembelit pada anak

Seorang anak mengalami sembelit.
ilustrasi anak mengalami sembelit (vecteezy.com/john_walker)

Pendekatan penanganan perlu disesuaikan dengan usia.

1. Bayi (0–6 bulan)

Pada bayi yang mendapat ASI eksklusif, frekuensi BAB bisa sangat bervariasi dan tidak selalu berarti sembelit. Namun, jika tinja keras dan bayi tampak kesakitan:

  • Pastikan teknik menyusui optimal.
  • Konsultasikan perubahan susu formula (jika tidak ASI).
  • Jangan memberikan obat pencahar tanpa saran dokter.

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter anak sebelum melakukan intervensi apa pun pada bayi kecil.

2. Bayi mulai MPASI (6–12 bulan)

Saat mulai makanan padat, tekstur tinja bisa berubah.

  • Tambahkan buah tinggi serat.
  • Pastikan asupan cairan cukup.
  • Perkenalkan makanan baru secara bertahap.

3. Balita dan anak prasekolah

Fase toilet training sering menjadi pemicu.

  • Jadwalkan waktu duduk di toilet 5–10 menit setelah makan.
  • Ciptakan suasana santai, hindari tekanan.
  • Perbanyak serat dan cairan.

Para ahli merekomendasikan terapi perilaku sederhana seperti toilet sitting terjadwal sebagai bagian penting penanganan.

4. Anak usia sekolah

  • Tingkatkan konsumsi buah, sayur, dan biji-bijian utuh.
  • Dorong anak melakukan aktivitas fisik rutin.
  • Ajarkan anak untuk tidak menahan BAB di sekolah.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan laksatif osmotik seperti polietilen glikol (PEG). Studi klinis menunjukkan PEG efektif dan relatif aman untuk sembelit fungsional pada anak di bawah pengawasan medis.

4. Kapan anak harus dibawa ke dokter?

Segera konsultasi ke dokter jika:

  • Sembelit anak berlangsung lebih dari dua minggu.
  • Anak mengalami nyeri perut berat.
  • Muntah.
  • Berat badan tidak naik.
  • Ada darah cukup banyak pada tinja.
  • Anak tampak sangat lemas.

Gejala-gejala di atas dapat menandakan kondisi yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

5. Pencegahan sembelit pada anak

Anak sedang makan.
ilustrasi anak sedang makan (pexels.com/Alex Green)

Pencegahan dimulai dari kebiasaan sehari-hari:

  • Pola makan kaya akan serat.
  • Asupan cairan cukup.
  • Aktivitas fisik rutin.
  • Jadwal BAB teratur.
  • Hindari memberi tekanan berlebihan saat toilet training.

Para ahli menekankan pola makan seimbang dan aktivitas fisik sebagai bagian dari kesehatan pencernaan jangka panjang pada anak.

Sembelit pada anak bisa membuat si kecil lebih rewel dan tidak nyaman. Namun, sebagian besar kasus bisa diatasi di rumah dengan perubahan pola makan, kebiasaan toilet yang sehat, serta dukungan dari orang tua.

Perhatian pada tanda-tanda awal dan intervensi yang tepat sesuai usia membantu mencegah masalah berulang. Jika keluhan berlanjut atau disertai gejala serius, temui dokter anak. Dengan pendekatan yang tepat, kesehatan pencernaan anak dapat kembali optimal.

Referensi

“Healthy Diet.” World Health Organization. Diakses Februari 2026.

M.M. Tabbers et al., “Evaluation and Treatment of Functional Constipation in Infants and Children,” Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition 58, no. 2 (December 17, 2013): 258–74, https://doi.org/10.1097/mpg.0000000000000266.

Morris Gordon et al., “Osmotic and Stimulant Laxatives for the Management of Childhood Constipation,” Cochrane Database of Systematic Reviews 2018, no. 8 (August 17, 2016): CD009118, https://doi.org/10.1002/14651858.cd009118.pub3.

“Constipation in Children.” National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses Februari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Alfonsus Adi Putra
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Anak Rewel karena Sembelit? Ini Solusinya!

19 Feb 2026, 12:06 WIBHealth