Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi Baru Ungkap Dampak Kesepian yang Sering Diremehkan

Studi Baru Ungkap Dampak Kesepian yang Sering Diremehkan
ilustrasi kesepian, murung, bad mood (magnific.com/rawpixel.com)
Intinya Sih
  • Kesepian berbeda dari isolasi sosial. Seseorang dapat memiliki banyak teman, tetapi tetap merasa tidak dipahami atau tidak memiliki hubungan yang bermakna.

  • Studi terbaru menemukan dampak paling konsisten pada kesehatan mental, kesejahteraan, dan kesehatan secara umum—bukan pada penyakit fisik tertentu.

  • Solusinya perlu disesuaikan dengan penyebab, mulai dari memperdalam hubungan, mengikuti kegiatan rutin, mengatasi hambatan kesehatan, hingga mencari bantuan psikologis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Notifikasi HP tak pernah sepi, group chat ramai terus, dan setiap hari bertemu orang. Sayangnya, itu semua belum tentu menghilangkan perasaan kesepian.

Kesepian didefinisikan sebagai perasaan menyakitkan yang muncul ketika ada jarak antara hubungan sosial yang dimiliki seseorang dan hubungan yang sebenarnya orang tersebut inginkan atau butuhkan. Sementara itu, isolasi sosial merupakan kondisi objektif ketika seseorang memiliki terlalu sedikit hubungan, peran sosial, atau interaksi dengan orang lain.

Ini artinya, seseorang bisa tinggal sendirian tanpa merasa kesepian. Sebaliknya, seseorang dapat dikelilingi keluarga, rekan kerja, atau pengikut di media sosial, tetapi tetap merasa terputus secara emosional.

Perbedaan tersebut juga terlihat dalam sebuah penelitian terbaru dalam jurnal Nature Communications. Dalam data UK Biobank, korelasi antara kesepian dan isolasi sosial tergolong rendah. Keduanya saling bersinggungan, tetapi bukan pengalaman yang sama.

Orang yang jarang bertemu siapa pun mungkin butuh lebih banyak kesempatan berinteraksi. Namun, orang yang aktif secara sosial namun merasa tidak dipahami mungkin lebih butuh hubungan yang aman, dekat, dan bermakna.

Dampaknya paling jelas pada kesehatan mental

Penelitian terbaru tersebut menggabungkan tiga metode, yaitu analisis observasional, perbandingan antarsaudara kandung, dan Mendelian randomization.

Metode terakhir menggunakan variasi genetik sebagai alat bantu untuk menilai kemungkinan hubungan sebab akibat. Pendekatan ini tidak dapat memberikan kepastian, tetapi dapat mengurangi masalah reverse causation. Misalnya, apakah kesepian menyebabkan kesehatan memburuk atau justru kondisi kesehatan membuat seseorang makin kesepian.

Analisis melibatkan data UK Biobank dengan jumlah peserta yang berbeda-beda, mulai dari 8.004 hingga lebih dari 414.000 orang. Para peneliti juga menggunakan data studi asosiasi genom dengan sampel yang pada beberapa analisis mencapai lebih dari dua juta orang.

Hasil paling konsisten ditemukan pada kesehatan mental dan kesejahteraan. Kesepian dan isolasi sosial berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih buruk, lebih rendahnya perasaan bahagia dan bermakna, serta berkurangnya kepuasan hidup.

Kesepian juga berkaitan dengan kesehatan umum yang lebih buruk, termasuk lebih banyak kondisi kesehatan yang terjadi bersamaan dan lebih rendahnya tahun kehidupan berkualitas.

Namun, penelitian ini tidak menemukan bukti konsisten bahwa kesepian atau isolasi sosial secara langsung menyebabkan penyakit fisik tertentu, seperti penyakit jantung koroner, stroke, gagal jantung, hipertensi, atau diabetes tipe 2. Tidak ada bukti bukan berarti efek tersebut pasti tidak ada. Beberapa analisis genetik memiliki rentang ketidakpastian yang lebar sehingga hubungan yang lebih kecil mungkin tidak terdeteksi.

Kesepian tidak secara pasti menyebabkan penyakit jantung. Berbagai faktor dapat terlibat secara bersamaan, termasuk depresi, kondisi ekonomi, aktivitas fisik, gangguan kesehatan, dan akses terhadap dukungan.

Penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Kesepian hanya ditanyakan pada satu waktu dengan pertanyaan sederhana mengenai apakah peserta sering merasa kesepian. Peserta UK Biobank cenderung lebih sehat dan lebih sejahtera daripada populasi umum, sedangkan analisis genetik terbatas pada orang dengan keturunan Eropa. Hasilnya belum tentu berlaku sama pada orang yang lebih muda atau masyarakat dari latar belakang lain.

Namun, kesepian tetap tidak boleh disepelekan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1 dari 6 orang di dunia mengalami kesepian, dengan proporsi tertinggi ditemukan pada remaja dan dewasa muda.

Solusinya bukan cuma banyak bergaul

bersama teman-teman
ilustrasi bersama teman-teman (pexels.com/Yudha Aprilian)

Kesepian dapat dipengaruhi oleh kehilangan orang terdekat, hubungan yang tidak sehat, pindah tempat tinggal, pensiun, gangguan pendengaran, keterbatasan mobilitas, kesulitan ekonomi, kecemasan sosial, atau depresi. Jadi, menyuruh orang yang kesepian untuk mencari teman kurang tepat.

Langkah pertama adalah mengenali hubungan seperti apa yang sebenarnya terasa kurang.

Jika yang hilang adalah kedekatan emosional, menambah puluhan kenalan baru mungkin tidak banyak membantu. Coba fokus pada satu atau dua hubungan yang aman. Mulailah dengan komunikasi rutin dan lebih jujur misalnya, menjadwalkan percakapan mingguan dengan orang yang dipercaya, bukan hanya saling mengirim pesan singkat.

Jika masalah utamanya adalah minim interaksi, kegiatan yang terstruktur dan berulang lebih disarankan. Kelas olahraga, kelompok membaca, komunitas keagamaan, kegiatan sukarela, atau kelompok berdasarkan hobi memberikan kesempatan untuk bertemu orang yang sama secara berkala. Kedekatan biasanya tumbuh melalui pertemuan yang berulang.

Sebuah metaanalisis terhadap 280 studi menemukan bahwa intervensi untuk mengurangi kesepian memberikan efek kecil hingga sedang. Intervensi psikologis menunjukkan hasil paling menjanjikan, disusul pelatihan keterampilan sosial dan emosional, penguatan jaringan sosial, serta dukungan sosial. Namun, kualitas kepastian buktinya masih rendah dan belum ada satu metode yang cocok bagi semua orang.

Terapi psikologis dapat membantu ketika kesepian membuat seseorang terus menghindar, takut ditolak, atau menganggap setiap respons orang lain sebagai tanda bahwa dirinya tidak disukai. Terapi perilaku kognitif (CBT) dan behavioral activation dapat membantu mengenali pola yang mempertahankan kesepian dan secara bertahap kembali melakukan aktivitas yang bermakna, selain membantu seseorang berpikir positif.

Dalam sebuah uji klinis terhadap 1.151 orang lanjut usia di Hong Kong yang hidup sendiri, mengalami kesulitan ekonomi, kesepian, dan tidak terbiasa menggunakan teknologi digital, program behavioral activation dan mindfulness melalui telepon mengurangi kesepian hingga 12 bulan. Program tersebut dibawakan oleh konselor awam yang telah mendapatkan pelatihan. Hasil ini menjanjikan, tetapi belum tentu dapat langsung diterapkan pada semua kelompok usia dan latar belakang.

Sumber dari masalah kesehatan juga perlu dicari. Kesulitan mendengar, misalnya, dapat membuat percakapan melelahkan dan secara perlahan mendorong seseorang menarik diri.

Dalam sebuah uji klinis yang melibatkan 977 orang lanjut usia dengan gangguan pendengaran, intervensi pendengaran membantu peserta mempertahankan jaringan sosial yang lebih besar dan sedikit menurunkan skor kesepian selama tiga tahun. Meski perubahannya kecil dan belum tentu bermakna secara klinis, tetapi temuan ini menunjukkan bahwa mengatasi hambatan fisik dapat membantu.

Kamu bisa mencoba satu langkah sosial yang realistis dan berulang selama beberapa minggu, misalnya menghubungi orang yang dipercaya, mengikuti satu kegiatan rutin, atau meminta bantuan untuk tantangan kesehatan maupun psikologis. Yang terpenting bukan berapa banyak orang yang ditemui, tetapi apakah interaksinya membuat kamu merasa aman, diterima, dan punya tempat untuk berbagi.

Kesepian yang menetap, mulai mengganggu tidur, nafsu makan, pekerjaan, atau disertai kehilangan minat dan perasaan tidak berharga perlu dibicarakan dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan. Apabila muncul pikiran untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup, segera cari pertolongan darurat dan hubungi orang yang dapat mendampingi.

Referensi

World Health Organization, "From Loneliness to Social Connection: Charting a Path to Healthier Societies: Report of the WHO Commission on Social Connection", diakses Juli 2026.

Darren D. Hilliard et al., “Investigating Relationships between Loneliness, Social Isolation and Health,” Nature Communications 17 (2026): 5840, https://doi.org/10.1038/s41467-026-74758-7.

Mathias Lasgaard et al., “Are Loneliness Interventions Effective for Reducing Loneliness? A Meta-Analytic Review of 280 Studies,” American Psychologist 81, no. 1 (2026): 36–52, https://doi.org/10.1037/amp0001578.

Vivien Foong Yee Tang et al., “Behavioral Activation and Mindfulness Interventions in Reducing Loneliness and Improving Well-Being in Older Adults: The HEAL-HOA Randomized Clinical Trial,” JAMA Network Open 9, no. 2 (2026): e2557170, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2025.57170.

Nicholas S. Reed et al., “Hearing Intervention, Social Isolation, and Loneliness: A Secondary Analysis of the ACHIEVE Randomized Clinical Trial,” JAMA Internal Medicine 185, no. 7 (2025): 797–806, https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2025.1140.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More