Aaiza Tahreem et al., “Fad Diets: Facts and Fiction,” Frontiers in Nutrition 9 (July 5, 2022): 960922, https://doi.org/10.3389/fnut.2022.960922.
“The Health Risks of Fad Diets.” Oklahoma State University Extension. Diakses Januari 2026.
"Scrolling for Health: The Risks Behind Viral Nutrition Fads." Academy of Nutrition and Dietetics. Diakses Januari 2026.
"What Is the Cotton Ball Diet?" Verywell Mind. Diakses Januari 2026.
"The Truth about Fad Diets and How to Build Healthy, Sustainable Habits." Brown Health University. Diakses Januari 2026.
"TikTok’s "Three Bite Rule" Trend Claims to Be a Mindful Eating Strategy – Here’s Why Nutritionists Warn Against It." Marie Claire UK. Diakses Januari 2026.
"4 Ways the Cotton Ball Diet Could Kill You." Healthline. Diakses Januari 2026.
Jacob Burmeister et al., “Fad Dieting and Psychological Well-being,” Nutrition 142 (October 23, 2025): 112996, https://doi.org/10.1016/j.nut.2025.112996.
Tren Diet Viral 2025 Terburuk, Malah Merugikan Kesehatan

- Banyak tren diet viral 2025 menjanjikan hasil cepat tanpa bukti ilmiah dan berisiko bagi kesehatan jangka panjang.
- Beberapa fad diet ekstrem dapat menyebabkan nutrisi tidak seimbang, gangguan makan, dan komplikasi metabolik.
- Tidak sedikit diet yang viral di media sosial justru memicu hubungan tidak sehat dengan makanan dan psikologi makan yang terganggu.
Diet rasanya bukan lagi semata soal gizi atau kesehatan, tetapi juga bisa menjadi populer di media sosial. Dengan klik dan “likes”, pola makan tertentu sering kali dibumbui janji penurunan berat badan cepat atau tubuh ideal secara instan. Sayangnya, tidak semua yang viral aman atau didukung bukti ilmiah yang kuat. Banyak tren diet populer tahun 2025 cenderung mengabaikan kebutuhan nutrisi penting tubuh demi pencapaian visual semata, bahkan menempatkan kesehatan dalam risiko.
Tren diet ekstrem bukan hal baru, tetapi di era digital, jangkauan dan pengaruhnya meningkat pesat. Tren-tren ini kerap dipromosikan tanpa pengawasan medis atau gizi profesional, sehingga banyak orang, terutama generasi muda, mengikutinya tanpa memahami dampak jangka panjangnya. Studi menunjukkan hubungan antara keterlibatan fad diet dan risiko gangguan makan, depresi, serta rasa malu terhadap tubuh.
Edukasi gizi yang benar adalah kunci untuk membedakan antara pola makan sehat dan fad diet (pola makan yang menjanjikan penurunan berat badan cepat dengan cara yang tidak selalu sehat atau didukung bukti ilmiah). Di bawah ini diulas beberapa tren diet viral terburuk tahun 2025, jangan mencobanya tahun ini, ya!
1. Cotton ball diet
Salah satu tren diet yang paling ekstrem dan berbahaya beredar secara sporadis di media sosial adalah cotton ball diet, yaitu praktik mengonsumsi bola kapas yang direndam dalam jus atau smoothie untuk “mengisi perut tanpa kalori”.
Ide di balik metode ini adalah menipu rasa kenyang tanpa makan makanan sejati. Namun secara medis, ini bukan diet melainkan bentuk gangguan makan yang berpotensi mengarah ke anoreksia.
Kapas yang dikonsumsi tidak dapat dicerna oleh tubuh, sehingga bisa menyumbat saluran pencernaan dan menyebabkan obstruksi usus yang serius, suatu kondisi darurat medis yang memerlukan pembedahan. Obstruksi ini juga bisa memicu dehidrasi berat, infeksi, dan bahkan kematian jika tidak ditangani.
Selain risiko fisiologis, diet ini memperkuat hubungan tidak sehat dengan pola makan dengan menekankan kontrol ekstrem atas rasa lapar. Studi menunjukkan, perilaku seperti ini sering terkait dengan kondisi psikologis seperti rasa malu tubuh, depresi, dan gangguan makan lainnya.
2. Diet ekstrem tinggi protein/rendah karbohidrat (carnivore dan protein power)
Tren lain yang kembali viral di 2025 adalah diet ekstrem tinggi protein dan sangat rendah karbohidrat, yang mencakup variasi seperti carnivore diet dan gaya lama seperti protein power. Kedua pendekatan ini mempromosikan konsumsi berlebihan daging dan produk hewani sambil mengeliminasi kelompok makanan utama seperti buah, sayuran, dan biji-bijian.
Walaupun beberapa orang mengalami penurunan berat badan awal, tetapi bukti ilmiah jangka panjang menunjukkan bahwa diet semacam ini tidak seimbang secara nutrisi dan tidak didukung sebagai model makan yang aman atau berkelanjutan. Konsumsi protein dan lemak hewani berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan metabolik.
Selain itu, keterbatasan serat dan nutrisi lain bisa menyebabkan gangguan pencernaan serta ketidakseimbangan mikrobiota usus, yang pada gilirannya berdampak pada kesehatan imun dan metabolik secara keseluruhan. Ini bukan sekadar soal kehilangan lemak; tubuh memerlukan spektrum nutrisi yang lengkap untuk fungsi normal.
3. Three bite rule

Tren lain yang pernah viral di TikTok adalah aturan tiga gigitan, yaitu cuma mengambil tiga gigitan dari makanan favorit sebelum berhenti. Ini dipasarkan sebagai strategi mindful eating, tetapi para ahli gizi menekankan bahwa pendekatan ini tendensialnya memaksa pembatasan sesukanya yang tidak memperhatikan kebutuhan fisiologis tubuh.
Banyak pemantau gizi menegaskan bahwa mindful eating seharusnya tentang menghormati rasa lapar dan kenyang, serta kebutuhan nutrisi tubuh, bukan menerapkan batasan hitung angka gigitan yang tidak ilmiah. Instruksi semacam ini dapat memicu rasa bersalah, hubungan negatif dengan makanan, dan pola makan yang tidak stabil.
Meskipun tren ini terlihat ringan atau lucu, tetapi efek jangka panjangnya bisa berupa pola makan yang terputus-putus, mengabaikan sinyal tubuh yang sehat dan berpotensi memicu gangguan makan pada individu yang rentan.
4. Detox dan “cleanse” ekstrem
Meski tidak unik untuk 2025, tetapi diet detox atau cleansing ekstrem sering kembali bermunculan sebagai tren demi “mengeluarkan racun tubuh”. Pendekatan ini biasanya melibatkan jus sangat rendah kalori, puasa jangka pendek, atau penggunaan suplemen yang tidak diatur.
Tubuh manusia, khususnya hati dan ginjal, memiliki sistem detoksifikasi sendiri, sehingga klaim bahwa diet tertentu dapat membersihkan racun tidak memiliki dasar ilmiah kuat. Diet ekstrem ini sering kali menghilangkan kelompok makanan penting sehingga berisiko defisiensi vitamin dan mineral, serta memicu gangguan metabolik.
Selain itu, pola makan yang sangat rendah kalori dapat berdampak pada metabolisme dan hormon, menurunkan energi, dan menyulitkan pengaturan berat badan jangka panjang. Hal ini sering kali menyebabkan efek yo-yo dieting — berat badan turun, lalu naik kembali setelah diet selesai.
Tren diet yang menjanjikan hasil cepat sering kali menutupi risiko kesehatan nyata yang tersembunyi di balik viralitas dan estetika visualnya. Tidak sedikit tren diet yang cenderung mengorbankan keseimbangan nutrisi dan kesehatan jangka panjang demi janji kilat. Bukti ilmiah dari studi nutrisi dan organisasi kesehatan memperingatkan bahayanya pola makan seperti ini, termasuk defisiensi gizi, gangguan metabolik, dan hubungan yang tidak sehat dengan makanan.
Alih-alih mengikuti tren sesaat, pendekatan terbaik adalah mengutamakan pola makan seimbang dan berkelanjutan, yang mencakup variasi makanan utuh, memperhatikan kebutuhan individu, serta melibatkan tenaga kesehatan profesional bila perlu. Diet yang sehat merupakan proses membangun kebiasaan yang mendukung kesejahteraan secara fisik dan mental sepanjang hidup.
Referensi
.jpg)


















