Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Mencegah Lonjakan Gula Darah saat Buka Puasa

5 Cara Mencegah Lonjakan Gula Darah saat Buka Puasa
ilustrasi buka puasa (freepik.com/fabrikasimf)
Intinya Sih
  • Lonjakan gula darah setelah berbuka terjadi karena respons insulin terhadap asupan karbohidrat cepat serap setelah puasa panjang.

  • Fluktuasi gula darah berulang berkaitan dengan risiko resistensi insulin, inflamasi, dan penyakit kardiometabolik.

  • Menentukan urutan makan, kombinasi makronutrien, dan kontrol porsi terbukti membantu menstabilkan respons glukosa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Setelah menahan lapar dan haus selama belasan jam, tubuh secara alami terdorong untuk segera mendapatkan asupan energi. Kurma manis, minuman berpemanis, dan hidangan tinggi karbohidrat sering menjadi pilihan pertama saat buka puasa.

Namun, di balik rasa lega tersebut, ada respons biologis yang bekerja cepat, yaitu kadar gula darah yang melonjak tajam. Bagi sebagian orang, ini mungkin cuma terasa sebagai rasa mengantuk atau lemas setelah makan. Akan tetapi bagi orang dengan diabetes, prediabetes, atau risiko metabolik, lonjakan ini dampaknya bisa lebih serius.

1. Mengapa terjadi lonjakan gula darah setelah berbuka puasa

Selama puasa, kadar insulin menurun dan tubuh beralih menggunakan cadangan energi, termasuk glikogen dan lemak. Saat makanan—terutama yang tinggi karbohidrat sederhana—masuk secara tiba-tiba, glukosa darah meningkat cepat. Tubuh merespons dengan melepaskan insulin dalam jumlah besar untuk memindahkan glukosa ke dalam sel.

Karbohidrat sederhana seperti gula tambahan dan tepung olahan memiliki indeks glikemik tinggi, sehingga diserap cepat oleh usus dan menyebabkan peningkatan glukosa yang tajam. Setelah periode puasa panjang, respons ini bisa lebih dramatis karena sensitivitas metabolik berubah sementara.

Penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi beban glikemik (glycemic load) berkaitan dengan risiko lebih tinggi diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Dalam konteks puasa Ramadan, pola makan saat iftar menjadi momen krusial dalam menentukan stabilitas gula darah sepanjang malam.

2. Mengapa penting untuk mengurangi lonjakan gula darah

Alat pengecek kadar gula darah.
ilustrasi alat pengecek kadar gula darah (pixabay.com/liberatori)

Lonjakan gula darah yang terjadi berulang kali dapat meningkatkan stres oksidatif dan inflamasi, dua faktor yang terlibat dalam perkembangan aterosklerosis dan resistensi insulin. Fluktuasi tajam glukosa juga dikaitkan dengan disfungsi endotel, yang berperan dalam kesehatan pembuluh darah.

Bagi orang dengan diabetes atau prediabetes, hiperglikemia setelah makan (postprandial hyperglycemia) merupakan kontributor utama terhadap komplikasi jangka panjang. Para ahli menyerukan pentingnya kontrol gula darah setelah makan sebagai bagian dari manajemen kondisi secara menyeluruh.

Bahkan pada individu tanpa diabetes, lonjakan yang ekstrem bisa memicu siklus “naik-turun” energi, yang artinya kamu akan cepat kenyang lalu cepat lapar kembali. Dalam jangka panjang, pola ini dapat mengganggu regulasi nafsu makan dan metabolisme.

3. Gejala lonjakan gula darah

Gejala dapat bervariasi tergantung seberapa tinggi kadar glukosa meningkat. Tanda-tanda umumnya meliputi rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, lemas, sakit kepala, dan penglihatan kabur.

Sebagian orang merasakan jantung berdebar atau mengantuk berat setelah makan tinggi gula. Ini berkaitan dengan fluktuasi insulin dan perubahan cepat kadar glukosa darah.

Pada individu dengan diabetes, kadar gula darah yang sangat tinggi dapat menyebabkan gejala lebih serius seperti mual dan napas berbau manis (ketoasidosis diabetik dalam kondisi ekstrem). Karena itu, memahami sinyal tubuh menjadi bagian penting dari pencegahan.

4. Cara mencegah lonjakan gula darah saat berbuka

Ilustrasi berbuka puasa bersama teman.
ilustrasi berbuka puasa (freepik.com/freepik)

Aturan praktis yang baik adalah berbuka dengan makanan tinggi protein, lemak sehat, dan karbohidrat rendah glikemik. Ini akan membantu menstabilkan gula darah dan mendukung tingkat energi dan nafsu makan sepanjang hari.

Berikut tips menghindari lonjakan gula darah saat berbuka puasa:

  • Mulai dengan air dan porsi kecil makanan

Setelah berpuasa, tubuh cenderung dehidrasi ringan. Memulai dengan air putih membantu rehidrasi tanpa langsung membebani sistem metabolik. Rehidrasi bertahap disarankan sebelum konsumsi makanan besar.

Mengonsumsi porsi kecil lebih dulu memberi waktu bagi tubuh untuk menyesuaikan diri. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran porsi besar berkontribusi pada respons glukosa yang lebih tinggi setelah makan.

Secara praktis, berbuka dengan air dan satu atau dua kurma (tidak terlalu banyak), lalu jeda sebelum makan utama, dapat membantu mengurangi lonjakan mendadak.

  • Perhatikan urutan makan

Urutan makan terbukti memengaruhi respons glikemik. Studi menunjukkan mengonsumsi sayuran dan protein sebelum karbohidrat secara signifikan menurunkan lonjakan glukosa pascamakan.

Serat dalam sayuran memperlambat pengosongan lambung dan penyerapan glukosa. Protein juga meningkatkan rasa kenyang dan memodulasi pelepasan insulin.

Artinya, memulai iftar dengan salad atau sayuran berkuah ringan, dilanjutkan sumber protein, baru kemudian karbohidrat bisa menjadi strategi.

  • Pilih karbohidrat dengan indeks glikemik rendah

Tidak semua karbohidrat bereaksi sama di tubuh. Biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan umbi-umbian memiliki indeks glikemik lebih rendah dibanding nasi putih atau roti putih.

Menurut penelitian, diet rendah indeks glikemik membantu memperbaiki kontrol gula darah dan profil lipid pada individu dengan diabetes.

Mengganti nasi putih dengan nasi merah atau menambahkan kacang-kacangan dalam menu iftar dapat membantu menjaga kenaikan glukosa lebih stabil.

  • Kombinasikan dengan lemak sehat dan protein

Menggabungkan karbohidrat dengan lemak tak jenuh dan protein memperlambat penyerapan glukosa.

Lemak sehat seperti minyak zaitun atau kacang-kacangan membantu menurunkan kecepatan lonjakan.

Protein juga meningkatkan sekresi hormon kenyang seperti GLP-1, yang berperan dalam regulasi gula darah.

Menu seimbang, misalnya nasi merah dengan ikan panggang dan sayuran, lebih ramah secara metabolik dibanding seporsi besar mi goreng manis tanpa protein yang memadai.

  • Hindari minuman manis sebagai pembuka

Minuman berpemanis adalah sumber gula yang diserap sangat cepat karena berbentuk cair. Batasi konsumsi gula tambahan untuk mencegah risiko penyakit metabolik.

Minuman manis menyebabkan peningkatan glukosa lebih cepat dibanding makanan padat karena tidak memerlukan proses pencernaan kompleks.

Mengganti sirop manis dengan infused water atau teh tanpa gula dapat secara signifikan mengurangi beban glikemik saat berbuka.

Jangan jadikan buka puasa sebagai momen "balas dendam", tetapi lihatlah ini sebagai momen untuk keseimbangan metabolik tubuh. Lonjakan gula darah memang respons alami, tetapi besar kecilnya sangat dipengaruhi oleh pilihan dan cara kamu makan. Strategi sederhana seperti mengatur urutan makan, memilih sumber karbohidrat yang tepat, serta membatasi gula tambahan dapat membantu menjaga stabilitas energi hingga waktu sahur.

Referensi

Bajaj, Mandeep, Rozalina G. McCoy, Kirthikaa Balapattabi, Raveendhara R. Bannuru, Natalie J. Bellini, Allison K. Bennett, Elizabeth A. Beverly, et al. “Summary of Revisions: Standards of Care in Diabetes—2026.” Diabetes Care 49, no. Supplement_1 (December 8, 2025): S6–12. https://doi.org/10.2337/dc26-srev.

“Glycemic Index and Glycemic Load.” Harvard T.H. Chan School of Public Health. Diakses Maret 2026.

Shilpa N Bhupathiraju et al., “Glycemic Index, Glycemic Load, and Risk of Type 2 Diabetes: Results From 3 Large US Cohorts and an Updated Meta-analysis,” American Journal of Clinical Nutrition 100, no. 1 (May 1, 2014): 218–32, https://doi.org/10.3945/ajcn.113.079533.

Antonio Ceriello et al., “Postprandial Hyperglycaemia and Cardiovascular Complications of Diabetes: An Update,” Nutrition Metabolism and Cardiovascular Diseases 16, no. 7 (August 25, 2006): 453–56, https://doi.org/10.1016/j.numecd.2006.05.006.

Louis Monnier, Claude Colette, and David R. Owens, “Glycemic Variability: The Third Component of the Dysglycemia in Diabetes. Is It Important? How to Measure It?,” Journal of Diabetes Science and Technology 2, no. 6 (November 1, 2008): 1094–1100, https://doi.org/10.1177/193229680800200618.

Louis Monnier et al., “Activation of Oxidative Stress by Acute Glucose Fluctuations Compared With Sustained Chronic Hyperglycemia in Patients With Type 2 Diabetes,” JAMA 295, no. 14 (April 11, 2006): 1681, https://doi.org/10.1001/jama.295.14.1681.

“Healthy Diet.” World Health Organization (WHO). Diakses Maret 2026.

Nicole Diliberti et al., “Increased Portion Size Leads to Increased Energy Intake in a Restaurant Meal,” Obesity Research 12, no. 3 (March 1, 2004): 562–68, https://doi.org/10.1038/oby.2004.64.

Alpana P. Shukla et al., “Food Order Has a Significant Impact on Postprandial Glucose and Insulin Levels,” Diabetes Care 38, no. 7 (June 11, 2015): e98–99, https://doi.org/10.2337/dc15-0429.

D. E. Thomas and E. J. Elliott, “The Use of Low-glycaemic Index Diets in Diabetes Control,” British Journal of Nutrition 104, no. 6 (April 27, 2010): 797–802, https://doi.org/10.1017/s0007114510001534.

Jens Juul Holst, “GLP-1 Physiology in Obesity and Development of Incretin-based Drugs for Chronic Weight Management,” Nature Metabolism 6, no. 10 (August 19, 2024): 1866–85, https://doi.org/10.1038/s42255-024-01113-9.

“Guideline: Sugars Intake for Adults and Children.” WHO. Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Eka Amira Yasien
3+
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More