Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trigliserida Tinggi tapi Kolesterol Normal, Apa Bahayanya?
ilustrasi hasil tes kolesterol (magnific.com/rawpixel.com)
  • Kolesterol total atau LDL yang normal tidak otomatis berarti risiko jantung aman jika trigliserida tinggi.

  • Trigliserida tinggi bisa menjadi tanda resistansi insulin, metabolic syndrome, diabetes tipe 2, hipotiroidisme, perlemakan hati, pola makan tinggi gula/karbohidrat olahan, atau efek obat tertentu.

  • Risiko yang perlu diperhatikan adalah penyakit jantung dan stroke; bila trigliserida sangat tinggi, terutama ≥500 mg/dL, risiko pankreatitis ikut meningkat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Melihat hasil cek darah, kolesterol total terlihat normal, LDL tidak terlalu tinggi, tetapi trigliserida tinggi. Kamu pun bingung, apakah ini risiko bagi kesehatan?

Trigliserida adalah jenis lemak dalam darah yang berfungsi menyimpan energi dari makanan. Setelah makan, tubuh mengubah kelebihan kalori, terutama dari gula dan karbohidrat olahan, menjadi trigliserida, lalu menyimpannya di sel lemak.

Trigliserida adalah bagian dari panel lipid, dan jika angkanya tinggi, itu tetap perlu ditindaklanjuti. Kadar trigliserida di bawah 150 mg/dL biasanya dianggap normal, sementara angka yang lebih tinggi perlu dibaca bersama faktor risiko lain.

1. Trigliserida tinggi bisa tetap meningkatkan risiko jantung

Low-density lipoprotein (LDL atau kolesterol jahat) lebih banyak dikenal. Memang, LDL tetap menjadi target utama dalam pencegahan penyakit jantung. Namun, trigliserida tinggi juga tidak bisa diabaikan.

Trigliserida tinggi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena terkait dengan partikel sisa yang kaya kolesterol yang bersifat aterogenik (menyebabkan pembentukan plak di dinding arteri).

Saat trigliserida tinggi, darah bisa membawa lebih banyak partikel sisa metabolisme lemak yang ikut berkontribusi pada pembentukan plak di pembuluh darah. Inilah alasan kamu bisa tetap punya risiko jantung meski kolesterol total terlihat normal.

2. Ini bisa menjadi tanda masalah metabolik

Trigliserida tinggi sering kali bukan masalah yang berdiri sendiri. Ini dapat menjadi tanda kondisi lain yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, seperti obesitas, sindrom metabolik, diabetes tipe 2 atau pradiabetes, hipotiroidisme, dan beberapa kondisi genetik.

Beberapa penyebab sekunder trigliserida tinggi antara lain:

  • Diabetes.

  • Penyakit ginjal kronis.

  • Obesitas.

  • Kehamilan.

  • Penyakit inflamasi kronis.

  • Konsumsi alkohol.

  • Pola makan tinggi lemak jenuh

  • Makanan tinggi indeks glikemik seperti karbohidrat olahan dan gula.

  • Beberapa obat juga dapat menaikkan trigliserida, misalnya steroid, estrogen, beta-blocker, diuretik, dan obat imunosupresan tertentu.

3. Risiko kesehatan kadar trigliserida yang sangat tinggi

ilustrasi penyakit jantung (magnific.com/Lifestylememory)

Pada kadar ringan sampai sedang, kekhawatiran utama trigliserida tinggi adalah risiko penyakit jantung dan stroke dalam jangka panjang.

Angka trigliserida ringan sampai sedang adalah ≥150 mg/dL saat puasa atau ≥175 mg/dL saat tidak puasa hingga di bawah 500 mg/dL.

Kadar ≥500 mg/dL masuk kategori berat, dan risiko pankreatitis perlu diperhatikan, terutama jika angkanya mencapai ≥1.000 mg/dL.

Pankreatitis adalah peradangan pankreas yang bisa menyebabkan nyeri perut hebat dan butuh penanganan medis.

4. Hasil trigliserida tinggi? Ini yang perlu dilakukan

Langkah pertama adalah memastikan hasilnya benar.

Trigliserida mudah dipengaruhi makanan terakhir, alkohol, dan kondisi tubuh saat pemeriksaan. Jika hasilnya tinggi, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan ulang, sering kali dalam kondisi puasa, terutama jika angkanya tinggi atau akan dipakai untuk menentukan pengobatan.

Pemeriksaan trigliserida biasanya menjadi bagian dari panel lipid, dan puasa diperlukan untuk pengukuran trigliserida yang akurat.

Setelah itu, cek faktor yang sering menyertai seperti gula darah puasa atau HbA1c, tekanan darah, lingkar pinggang, fungsi hati, fungsi ginjal, TSH jika dicurigai gangguan tiroid, serta obat atau suplemen yang sedang digunakan.

Dari sisi gaya hidup, fokus terbesar biasanya bukan sekadar mengurangi makanan berlemak, melainkan mengurangi gula dan karbohidrat olahan.

Saran umumnya adalah membatasi gula dan karbohidrat rafinasi, menurunkan berat badan jika diperlukan, rutin olahraga, memilih lemak yang lebih sehat, serta membatasi alkohol.

Intervensi gaya hidup dan kontrol penyebab sekunder adalah kunci penanganan hipertrigliseridemia.

5. Kapan perlu lebih waspada?

Jangan menunggu muncul gejala, karena trigliserida tinggi biasanya tidak terasa.

Segera konsultasi jika trigliserida ≥500 mg/dL, ada riwayat pankreatitis, diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, perlemakan hati, riwayat keluarga penyakit jantung dini, atau kadar trigliserida tetap tinggi meski pola makan sudah diperbaiki.

Kesimpulannya, trigliserida tinggi walaupun kolesterol normal tidak boleh diabaikan, karena ini memberi petunjuk bahwa metabolisme lemak dan energi sedang tidak ideal

Kabar baiknya, trigliserida bisa diperbaiki lewat perubahan gaya hidup seperti mengurangi gula, membatasi alkohol, bergerak rutin, menurunkan berat badan jika perlu, dan mengelola gula darah.

Referensi

Virani, Salim S., et al. “2021 ACC Expert Consensus Decision Pathway on the Management of ASCVD Risk Reduction in Patients with Persistent Hypertriglyceridemia.” Journal of the American College of Cardiology 78, no. 9 (2021): 960–993.

American Heart Association. “What Your Cholesterol Levels Mean.” Diakses Juli 2026.

Mayo Clinic Staff. “Triglycerides: Why Do They Matter?” Diakses Juli 2026.

Berglund, Lars, John D. Brunzell, Anne C. Goldberg, et al. “Evaluation and Treatment of Hypertriglyceridemia: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline.” The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 97, no. 9 (2012): 2969–2989.

Miller, Michael, Neil J. Stone, Christie Ballantyne, et al. “Triglycerides and Cardiovascular Disease: A Scientific Statement from the American Heart Association.” Circulation 123, no. 20 (2011): 2292–2333.

Curated For You

Editorial Team

Related Article