ilustrasi anak dirawat di rumah sakit akibat usus buntu (magnific.com/lifeforstock)
Salah satu hal yang membuat usus buntu pada anak sulit dikenali adalah gejalanya tidak selalu muncul dengan pola yang sama sejak awal. Pada anak yang lebih besar atau orang dewasa, gambaran yang lebih klasik biasanya berupa sakit yang kemudian terlokalisasi di perut kanan bawah.
Namun, pada fase awal, rasa sakit dapat muncul di bagian perut lain. Seiring peradangan pada apendiks berkembang, karakter nyerinya dapat berubah. Anak yang awalnya hanya mengeluhkan sakit perut di sekitar lambung, misalnya, kemudian mengalami nyeri yang makin parah dan berpindah ke bagian kanan bawah.
Perubahan inilah yang membuat kondisi tersebut pada awalnya kadang dianggap sebagai masalah lambung atau gangguan pencernaan lainnya.
"Gejala usus buntu pada anak berevolusi—ada perpindahan dari perut yang di daerah lambung ke daerah kanan bawah," dr. Himawan menjelaskan.
Situasi tersebut bukan berarti dokter yang melakukan pemeriksaan pertama pasti keliru. Diagnosis dapat berubah karena perjalanan penyakit juga berubah. Gejala yang terlihat ketika anak pertama kali diperiksa belum tentu sama dengan gejala yang muncul beberapa jam kemudian.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perkembangan keluhan setelah pemeriksaan pertama. Jika sakit makin parah, muncul demam, anak tidak mau makan, atau lokasi nyeri berubah dan makin jelas di perut kanan bawah, anak perlu kembali diperiksa.