ilustrasi vaksinasi HPV pada anak laki-laki (magnific.com/prostooleh)
Besarnya penurunan risiko, terutama angka sekitar 91 persen untuk kanker orofaring, perlu ditafsirkan secara hati-hati.
Jumlah kasus kanker dalam penelitian relatif kecil karena mayoritas peserta masih muda. Para peneliti sendiri mencatat hanya ada 40 kanker kepala-leher pada kelompok vaksin dan 130 pada kelompok pembanding. Analisis berdasarkan lokasi kanker memiliki jumlah kasus yang lebih sedikit lagi sehingga estimasinya menjadi kurang presisi.
Data rekam medis juga tidak memberi informasi lengkap mengenai riwayat seksual peserta, padahal ini memengaruhi peluang terpapar HPV.
Para peneliti tidak dapat memastikan apakah semua peserta telah menyelesaikan seluruh dosis vaksin, dan tidak memiliki data jaringan tumor untuk memastikan bahwa kanker yang terjadi benar-benar disebabkan oleh HPV.
Yang terpenting, desain retrospektif tidak dapat membuktikan bahwa vaksinasi secara langsung menyebabkan penurunan kanker kepala dan leher. Faktor yang tidak tercatat dalam data masih mungkin berpengaruh.
Meski demikian, fakta bahwa hubungan terkuat justru terlihat pada kanker orofaring membuat temuan ini secara biologis masuk akal. Studi ini menambah bukti bahwa manfaat vaksin HPV kemungkinan melampaui pencegahan kanker serviks.
Referensi
Ching-Nung Wu, Wei-Chun Cheng, Sheng-Dean Luo, Kuo-Chung Lan, Shiow-Ing Wang, and James Cheng-Chung Wei, “HPV Vaccination and Risk of Head and Neck Cancers: A Large Real-World Cohort Study,” International Journal of Infectious Diseases (2026), doi:10.1016/j.ijid.2026.109067.
National Cancer Institute, “Oral Cavity, Oropharynx, Hypopharynx, & Larynx Cancer Prevention (PDQ®),” diakses Agustus 2026.
Elissa Meites et al., “Human Papillomavirus Vaccination for Adults: Updated Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices,” Morbidity and Mortality Weekly Report 68, no. 32 (2019): 698–702.
CIDRAP, "People Vaccinated against HPV Have Lower Risk of Head and Neck Cancer," diakses Agustus 2026.