ilustrasi suplemen vitamin D (pexels.com/cottonbro studio)
Vitamin D memang penting untuk kesehatan, tetapi manfaatnya tidak otomatis membuat HIV menjadi tidak terdeteksi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa suplemen vitamin D mungkin membantu menurunkan viral load. Misalnya, sebuah analisis yang menggabungkan empat uji klinis pada lebih dari 1.300 orang menemukan bahwa peserta yang mengonsumsi vitamin D cenderung memiliki viral load yang lebih rendah. Namun, hasil ini tidak membuktikan bahwa vitamin D saja dapat membuat HIV menjadi tidak terdeteksi.
Di sisi lain, tidak semua penelitian menemukan hasil yang sama. Dalam sebuah studi yang melibatkan sekitar 4.000 orang dengan HIV yang baru memulai terapi ARV, pemberian vitamin D tidak memberikan tambahan manfaat dalam menekan viral load dibandingkan plasebo. Hasil ini menunjukkan bahwa efek vitamin D terhadap HIV masih belum konsisten.
Kesimpulannya, ada beberapa penelitian yang menunjukkan vitamin D mungkin berpengaruh terhadap viral load, tetapi buktinya masih beragam. Saat ini, vitamin D tidak bisa dianggap sebagai pengganti terapi ARV dan tidak bisa dijanjikan akan membuat HIV menjadi tidak terdeteksi. ARV tetap merupakan pengobatan utama untuk menekan jumlah virus HIV dalam tubuh.