Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Perilaku Seksual Berisiko? Ini 7 Contohnya

Apa Itu Perilaku Seksual Berisiko? Ini 7 Contohnya
ilustrasi melindungi diri dari penyakit (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
  • Bukan label moral, perilaku seksual berisiko adalah aktivitas atau situasi yang meningkatkan risiko infeksi menular seksual, HIV, kehamilan yang tidak direncanakan, atau cedera.

  • Tingkat risiko dipengaruhi oleh jenis aktivitas seksual, status kesehatan pasangan, penggunaan kondom, kontrasepsi, PrEP, pengobatan HIV, dan pemeriksaan rutin.

  • Banyak infeksi menular seksual tidak menimbulkan gejala. Karena itu, merasa sehat atau cuma memiliki satu pasangan tidak selalu bebas risiko.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dalam kesehatan seksual, risiko tidak cuma dapat dinilai dari jumlah pasangan, orientasi seksual, atau status hubungan. Risiko ditentukan oleh apa yang dilakukan, perlindungan yang digunakan, kondisi kesehatan setiap pasangan, serta apakah semua pihak dapat memberikan persetujuan secara bebas.

Istilah “perilaku seksual berisiko” digunakan untuk mengenali keadaan yang dapat diubah agar aktivitas seksual menjadi lebih aman, bukan untuk mempermalukan seseorang.

Apa yang dimaksud dengan perilaku seksual berisiko?

Perilaku seksual berisiko adalah aktivitas atau situasi seksual yang meningkatkan kemungkinan terjadinya konsekuensi kesehatan, seperti infeksi menular seksual (IMS), HIV, kehamilan yang tidak direncanakan, maupun cedera fisik dan emosional.

Kesehatan seksual, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bukan hanya sebagai ketiadaan penyakit, tetapi juga mencakup pengalaman yang aman, menyenangkan, saling menghormati, serta bebas dari paksaan, diskriminasi, dan kekerasan.

Risiko sifatnya tidak hitam-putih. Hubungan seksual tanpa kondom, misalnya, memiliki risiko yang berbeda pada pasangan yang belum pernah menjalani tes dibanding pasangan monogami yang telah menjalani pemeriksaan, tidak memiliki IMS, dan tidak mengalami paparan baru.

Hal serupa berlaku pada HIV. Seseorang dengan HIV yang menjalani terapi dan mempertahankan viral load tidak terdeteksi tidak menularkan HIV kepada pasangan melalui hubungan seksual. Prinsip ini dikenal sebagai undetectable equals untransmittable atau U=U. Namun, kondisi tersebut tidak melindungi dari IMS lain maupun kehamilan.

Persetujuan (consent) juga tak bisa ditawar. Aktivitas seksual tanpa persetujuan yang diberikan secara sadar, bebas, dan tanpa tekanan adalah kekerasan seksual, bukan perilaku berisiko yang kesalahannya dibebankan kepada korban.

Contoh perilaku dan situasi yang meningkatkan risiko

ilustrasi berbagai jenis alat kontrasepsi (unsplash.com/Reproductive Health Supplies Coalition)
ilustrasi berbagai jenis alat kontrasepsi (unsplash.com/Reproductive Health Supplies Coalition)

1. Seks vaginal atau anal tanpa perlindungan

Hubungan seks vaginal atau anal tanpa kondom dapat meningkatkan kemungkinan penularan HIV dan IMS apabila salah satu pasangan memiliki infeksi yang belum diketahui atau belum ditangani.

Di antara berbagai bentuk paparan seksual, seks anal reseptif memiliki risiko penularan HIV paling tinggi apabila pasangan memiliki HIV dengan viral load yang dapat ditularkan dan tidak digunakan kondom maupun pre-exposure prophylaxis (PrEP).

Lapisan rektum relatif tipis sehingga lebih mudah mengalami luka kecil yang menjadi jalan masuk virus.

Seks vaginal juga dapat menularkan HIV kepada kedua pihak.

Risiko kehamilan juga ada dalam hubungan seksual vaginal jika tidak digunakan kontrasepsi yang efektif.

2. Menggunakan kondom secara tidak konsisten atau tidak tepat

Kondom perlu digunakan sejak awal hingga akhir aktivitas seksual, bukan cuma menjelang ejakulasi. Kondom yang terlambat dipasang, dilepas sebelum aktivitas seksual selesai, digunakan kembali, atau robek dapat mengurangi perlindungannya.

Ketika digunakan dengan benar dan konsisten, kondom merupakan salah satu cara paling efektif untuk menurunkan risiko sebagian besar IMS, termasuk HIV, sekaligus membantu mencegah kehamilan. Namun, kondom tidak memberikan perlindungan penuh terhadap infeksi yang dapat menular melalui kulit di luar area yang tertutup, seperti herpes atau sifilis.

3. Gonta-ganti atau memiliki beberapa pasangan tanpa tes dan perlindungan

Memiliki pasangan baru, lebih dari satu pasangan, atau pasangan yang juga berhubungan seksual dengan orang lain dapat menambah risiko IMS. Risiko makin besar ketika status kesehatan tidak diketahui dan kondom tidak konsisten digunakan.

Namun, jumlah pasangan bukan ukuran moral dan tidak berdiri sendiri untuk menentukan risiko. Seseorang dengan satu pasangan tetap dapat tertular apabila pasangannya memiliki infeksi. Sebaliknya, seseorang dengan beberapa pasangan dapat mengurangi risiko melalui pemakaian kondom, pemeriksaan rutin, vaksinasi, komunikasi, dan PrEP sesuai kebutuhan.

Pedoman skrining pun mempertimbangkan gabungan antara jumlah pasangan, pasangan baru, penggunaan kondom, jenis aktivitas, serta kondisi epidemiologi setempat.

4. Menganggap seks oral bebas risiko

Risiko HIV dari seks oral lebih rendah dibanding seks anal atau vaginal. Akan tetapi, seks oral tetap bisa menularkan gonore, klamidia, sifilis, herpes, HPV, hepatitis, dan sejumlah infeksi saluran cerna.

Infeksi dapat terjadi pada mulut atau tenggorokan maupun berpindah dari infeksi di mulut ke alat kelamin. Karena infeksi tenggorokan sering tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan urine atau genital saja mungkin tidak menemukannya. Orang yang melakukan seks oral dapat berdiskusi dengan tenaga kesehatan mengenai kebutuhan tes usap tenggorokan.

Kondom atau dental dam dapat digunakan sebagai penghalang selama seks oral untuk menurunkan risiko penularan.

5. Seks tanpa kontrasepsi ketika kehamilan tidak diinginkan

Pil KB, implan, suntikan, dan alat kontrasepsi dalam rahim dapat membantu mencegah kehamilan, tetapi tidak melindungi dari IMS. Kondom adalah satu-satunya metode kontrasepsi yang juga dapat mengurangi risiko sebagian besar IMS.

Jika ingin mencegah kehamilan sekaligus IMS, pertimbangkan perlindungan ganda, yaitu kondom bersama metode kontrasepsi lain yang sesuai.

6. Berhubungan seksual saat di bawah pengaruh alkohol atau narkoba

Alkohol dan zat lain dapat menurunkan kemampuan menilai situasi, mengingat penggunaan kondom, membicarakan batasan, atau memberikan persetujuan yang jelas.

Tinjauan sistematis terhadap penelitian longitudinal dan studi kasus kontrol menemukan hubungan antara konsumsi alkohol dan kejadian IMS dalam sejumlah populasi. Meski dipengaruhi oleh banyak faktor dan tidak berarti setiap orang yang minum alkohol akan berhubungan seks tanpa perlindungan, tetapi kondisi mabuk dapat menciptakan situasi yang lebih sulit dikendalikan.

Persetujuan tidak sah apabila seseorang tidak sadar atau terlalu terpengaruh zat untuk memahami dan menyetujui apa yang terjadi.

7. Menunda tes dan pengobatan setelah kemungkinan paparan

Banyak IMS tidak menimbulkan gejala. Kamu bisa saja merasa sehat, tetapi tetap memiliki dan menularkan klamidia, gonore, sifilis, HPV, atau HIV.

Menunda pemeriksaan setelah kondom robek, pasangan didiagnosis IMS, atau terjadi paparan lain memungkinkan infeksi berkembang dan menyebar.

IMS yang tidak ditangani dapat menyebabkan penyakit radang panggul, infertilitas, komplikasi kehamilan, kanker akibat HPV, serta meningkatnya kerentanan terhadap HIV.

Cara menurunkan risikonya

Tidak ada satu metode yang melindungi dari seluruh risiko. Strategi terbaik biasanya merupakan gabungan dari beberapa langkah.

  • Sebelum berhubungan seksual, bicarakan batasan dan persetujuan, penggunaan kondom, kontrasepsi, kapan terakhir melakukan tes IMS, serta apakah ada pasangan lain. Tujuannya memberi setiap orang informasi yang cukup untuk mengambil keputusan.
  • Gunakan kondom eksternal atau internal dengan benar dan konsisten. Untuk seks oral, kondom atau dental dam dapat membantu mengurangi kontak dengan cairan tubuh maupun jaringan yang terinfeksi.
  • Periksa status vaksinasi HPV dan hepatitis B. Vaksinasi adalah salah satu langkah paling efektif untuk mencegah kedua infeksi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Untuk mendapatkannya, konsultasikan dengan tenaga keseahatan.
  • Orang yang berpeluang terpapar HIV secara berulang dapat berkonsultasi dengan tenaga medis mengenai PrEP. PrEP menurunkan risiko tertular HIV melalui hubungan seksual sekitar 99 persen. Namun, PrEP tidak mencegah IMS lain maupun kehamilan.
  • Apabila kemungkinan paparan HIV baru terjadi—misalnya kondom robek atau terjadi hubungan seksual tanpa perlindungan dengan pasangan yang status viral load-nya tidak diketahui—segera datangi fasilitas kesehatan untuk menanyakan post-exposure prophylaxis (PEP). Obat ini harus dimulai secepat mungkin, paling lambat 72 jam setelah paparan, dan umumnya digunakan selama 28 hari.
  • Jika hubungan vaginal tanpa kontrasepsi terjadi dan kehamilan tidak diinginkan, gunakan kontrasepsi darurat sesegera mungkin. Beberapa pil kontrasepsi darurat dan IUD tembaga dapat digunakan hingga lima hari, tetapi efektivitas serta kesesuaiannya bergantung pada metode dan kondisi pasien. Kontrasepsi darurat tidak melindungi dari IMS.
  • Sesuaikan tes IMS dengan jenis paparan. Pemeriksaan dapat melibatkan darah, urine, usap vagina, tenggorokan, atau rektum. Tidak semua infeksi langsung terdeteksi setelah paparan karena masing-masing memiliki masa jendela. Tenaga kesehatan dapat menentukan kapan tes pertama dan pemeriksaan ulang perlu dilakukan.
  • Segera periksa ke dokter jika muncul luka atau lepuh pada alat kelamin, keputihan atau cairan penis yang tidak biasa, nyeri saat buang air kecil, nyeri panggul atau testis, ruam, demam, atau pembengkakan kelenjar. Namun, jangan menunggu gejala apabila pasangan didiagnosis dengan IMS atau terdapat kemungkinan paparan.

Untuk menilai situasi, jawab pertanyaan sederhana ini:

  • Apakah semua pihak memberikan consent secara bebas dan sadar?
  • Apakah ada perlindungan terhadap IMS dan HIV?
  • Apakah ada perlindungan terhadap kehamilan jika diperlukan?
  • Apakah status tes dan pengobatan setiap pasangan diketahui?
  • Apakah alkohol, narkoba, tekanan, atau ketimpangan kuasa mengganggu pengambilan keputusan?

Perilaku seksual berisiko bukan identitas seseorang. Risiko dapat berubah tergantung situasi dan bisa diminimalkan melalui informasi yang benar, komunikasi, perlindungan, pemeriksaan, serta akses terhadap layanan kesehatan tanpa stigma.

Referensi

World Health Organization (WHO), “Sexual Health,” diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC), “HIV Treatment as Prevention,” diakses Juli 2026.

CDC, “How HIV Spreads,” diakses Juli 2026.

WHO, “Condoms,” diakses Juli 2026.

CDC, “Primary Prevention Methods,” in Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, diakses Juli 2026.

CDC, “STI Screening Recommendations,” diakses Juli 2026.

CDC, “About STI Risk and Oral Sex,” diakses Juli 2026.

Laura Llamosas-Falcón, Omer S. M. Hasan, Paul A. Shuper, and Jürgen Rehm, “A Systematic Review on the Impact of Alcohol Use on Sexually Transmitted Infections,” International Journal of Alcohol and Drug Research 11, no. 1 (2023): 3–12, https://doi.org/10.7895/ijadr.381.

WHO, “Sexually Transmitted Infections (STIs),” diakses Juli 2026.

CDC, “Primary Prevention Methods,” diakses Juli 2026.

CDC, “PrEP,” diakses Juli 2026.

M. R. Tanner et al., “Antiretroviral Postexposure Prophylaxis after Sexual, Injection Drug Use, or Other Nonoccupational Exposure to HIV—CDC Recommendations, United States, 2025,” MMWR Recommendations and Reports 74, no. 1 (2025): 1–56, https://doi.org/10.15585/mmwr.rr7401a1.

CDC, “Emergency Contraception,” diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More