ilustrasi jenis bentuk penis (pexels.com/Dainis Graveris)
EAU menyebut kelengkungan kongenital lebih dari 30 derajat umumnya dianggap signifikan secara klinis, tetapi menekankan bahwa sebagian laki-laki dengan kelengkungan lebih besar pun tidak mengalami masalah.
Faktor yang lebih menentukan kebutuhan terapi adalah apakah kelengkungan mengganggu fungsi, menimbulkan nyeri, atau menyebabkan masalah saat berhubungan seksual.
Yang lebih disarankan untuk diperiksa adalah jika ada perubahan pada penis. Penis yang sebelumnya relatif lurus kemudian melengkung, kelengkungan makin berat, muncul rasa sakit atau jaringan keras, atau bentuknya mulai mengganggu fungsi seksual. Dalam situasi ini, dokter urologi dapat membantu membedakan variasi anatomi normal dari penyakit seperti Peyronie.
Referensi
David Veale et al., “Am I Normal? A Systematic Review and Construction of Nomograms for Flaccid and Erect Penis Length and Circumference in up to 15,521 Men,” BJU International 115, no. 6 (2015): 978–86, doi:10.1111/bju.13010.
Cleveland Clinic, “Penile Curvature: What It Means & What’s Normal,” diakses Agustus 2026.
Letian Wei et al., “Differences between the Glans and Shaft of the Penis: A Review,” Sexual Medicine Reviews 12, no. 4 (2024): 659–63, doi:10.1093/sxmrev/qeae019.
European Association of Urology, “Congenital Penile Curvature,” EAU Guidelines on Paediatric Urology, 2026.
Eric Chung et al., “Prevalence of Penile Curvature: A Population-Based Cross-Sectional Study in Metropolitan and Rural Cities in Australia,” BJU International 122, suppl. 5 (2018), doi:10.1111/bju.14605.
Nguyen Hoai Bac et al., “Data from 14,597 Penile Measurements of Vietnamese Men,” Andrology 9, no. 3 (2021): 906–15.
Jacob M. Margolin et al., “Beyond Curvature: Prevalence and Characteristics of Penile Volume-Loss Deformities in Men with Peyronie’s Disease,” Sexual Medicine 6, no. 4 (2018): 309–15, doi:10.1016/j.esxm.2018.09.004.