Comscore Tracker

Sedih setelah Berhubungan Seks? Mungkin itu Postcoital Dysphoria

Pernahkah kamu atau pasanganmu mengalaminya?

Seks seharusnya membuat kita merasa puas dan bahagia. Ini karena seks memicu pelepasan dopamin yang meningkatkan mood dan serotonin yang mencegah depresi.

Namun, terkadang seks tidak berakhir manis seperti itu. Terkadang, muncul perasaan sedih, murung, atau tertekan setelahnya. Jika kamu pernah mengalaminya, mungkin itu pertanda postcoital dysphoria. Mengapa itu terjadi?

1. Dialami oleh 46 persen perempuan dan 41 persen laki-laki

Sedih setelah Berhubungan Seks? Mungkin itu Postcoital Dysphoriaperempuan yang terlihat sedih di atas kasur (unsplash.com/Kinga Cichewicz)

Berdasarkan studi berjudul "Postcoital Dysphoria: Prevalence and Psychological Correlates" yang diterbitkan di jurnal Sexual Medicine tahun 2015, tim peneliti ingin mengetahui hubungan antara kecemasan dan penghindaran keterikatan perempuan, diferensiasi diri, dan pengalaman gejala postcoital dysphoria (PCD).

Sebanyak 230 mahasiswi dilibatkan untuk mengisi survei online. Hasilnya, 46 persen responden melaporkan bahwa dirinya pernah mengalami gejala PCD setidaknya sekali seumur hidup, sementara sebanyak 5,1 persen mengaku mengalami beberapa kali gejala PCD dalam 4 minggu terakhir.

Tidak hanya perempuan, laki-laki pun mengalami PCD. Ini dibuktikan dalam studi berjudul "Postcoital Dysphoria: Prevalence and Correlates Among Males" yang dipublikasikan di Journal of Sex & Marital Therapy pada tahun 2019.

Penelitian ini menggunakan kuesioner online anonim dan melibatkan 1.208 peserta laki-laki. Hasilnya, sebanyak 41 persen melaporkan bahwa dirinya pernah mengalami PCD dan 20,2 persen mengaku merasakannya dalam 4 minggu terakhir.

2. Kita akan merasakan kesedihan dan emosi negatif lainnya

Sedih setelah Berhubungan Seks? Mungkin itu Postcoital Dysphoriailustrasi pasangan yang saling mendiamkan (pexels.com/Alex Green)

Menurut Gail Saltz, MD, profesor psikiatri dari NY Presbyterian Hospital Weill-Cornell School of Medicine, Amerika Serikat (AS), PCD mengacu pada kesedihan, kecemasan, kemarahan, agitasi, dan perasaan buruk lain setelah berhubungan seks.

Berdasarkan penelitian berjudul "Postcoital Symptoms in a Convenience Sample of Men and Women" yang diterbitkan di The Journal of Sexual Medicine pada tahun 2020, PCD adalah kondisi yang ditandai dengan perasaan sedih, menangis, dan mudah tersinggung yang sulit dijelaskan.

Studi ini melibatkan 223 perempuan dan 76 laki-laki yang mengisi survei online. Hasilnya, 91,9 persen melaporkan gejala PCD selama 4 minggu terakhir. Gejala paling umum pada perempuan ialah kesedihan dan perubahan suasana hati, sementara laki-laki merasakan ketidakbahagiaan dan energi rendah.

Gejala PCD muncul setelah hubungan seks konsensual pada 73,5 persen individu, sebanyak 41,9 persen setelah aktivitas seksual umum, dan 46,6 persen setelah masturbasi.

3. Diperkirakan akibat pengaruh hormon

Sedih setelah Berhubungan Seks? Mungkin itu Postcoital Dysphoriailustrasi perempuan yang tampak kecewa dengan pasangannya (freepik.com/jcomp)

Sebenarnya, para ilmuwan tidak tahu pasti apa penyebab PCD. Menurut Daniel Sher, psikolog klinis dan terapis seks online, belum ada cukup penelitian solid yang dilakukan. Namun, PCD diduga berkaitan dengan hormon.

"Ini bisa terkait dengan hormon yang terlibat dalam cinta dan keterikatan. Saat berhubungan seks, proses hormonal, fisiologis, dan emosional memuncak," jelasnya.

Kita merasakan tingkat stimulasi yang luar biasa. Setelah selesai, tubuh dan pikiran kembali ke awal. Penurunan fisiologis ini menyebabkan perasaan subjektif dari disforia muncul.

Baca Juga: Seberapa Sering Pria Perlu Berhubungan Seks? Ini Angka Normalnya!

4. Mungkin, kita belum siap secara fisik dan emosional untuk berhubungan seks

Sedih setelah Berhubungan Seks? Mungkin itu Postcoital Dysphoriailustrasi kekecewaan seseorang pada pasangannya (freepik.com/jcomp)

Robert Thomas, terapis seks, mengatakan bahwa merasa tertekan setelah berhubungan seks mungkin adalah tanda bahwa kita tidak siap secara fisik atau emosional, ungkapnya kepada Healthline.

"Merasa bersalah dan menjauh secara emosional setelah berhubungan seks mungkin merupakan indikasi bahwa anda tidak memiliki hubungan yang cukup dalam dengan pasangan," tambahnya.

Kesedihan bisa muncul jika kita berada dalam hubungan yang tidak memuaskan, merasa benci atau memendam kecewa pada pasangan. Perasaan ini mungkin timbul selama dan sesudah berhubungan seks.

"Tidak bahagia dengan pengalaman seksual bisa menjadi beban emosional. Terutama saat harapan tidak terpenuhi selama hubungan seksual," ujar Thomas.

Rasa bersalah juga akan muncul jika kita dibesarkan di lingkungan konservatif, di mana seks dipandang buruk atau kotor. Alam bawah sadar akan memunculkan perasaan bersalah dan kesedihan sewaktu-waktu.

5. Pengaruh kekerasan atau pelecehan seksual di masa lalu

Sedih setelah Berhubungan Seks? Mungkin itu Postcoital Dysphoriailustrasi korban dan pelaku kekerasan (pexels.com/Karolina Grabowska)

Ternyata, ada keterkaitan antara kekerasan atau pelecehan seksual di masa lalu dengan perasaan bersalah, takut, dan rentan. Trauma akan menghantui selama bertahun-tahun, bahkan mungkin seumur hidup bila tidak disembuhkan.

Menurut Lea Lis, MD, psikiater dari Southampton, New York, AS, orang yang pernah mengalami pelecehan seksual mungkin mengasosiasikan hubungan seks dengan trauma yang pernah ia alami. Bahkan, jika hubungan itu konsensual sekalipun.

Dilansir Healthline, sentuhan atau posisi seks tertentu juga bisa memicu trauma. Terlebih, jika korban pelecehan atau kekerasan tersebut mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD).

6. Apa yang harus dilakukan jika kita mengalami postcoital dysphoria?

Sedih setelah Berhubungan Seks? Mungkin itu Postcoital Dysphoriailustrasi bercerita dengan pasangan (unsplash.com/Priscilla Du Preez)

Kita ingin mencari jalan keluar dari kesengsaraan ini, tapi bagaimana caranya? Pertama, apa pun yang kita rasakan, jangan berpura-pura bahagia atau menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Sometimes, it's okay to be sad.

Kemudian, pastikan bahwa kita merasa aman secara fisik dan mental. Jika sudah siap, coba bicarakan dengan pasangan tentang apa yang kita rasakan. Dengan mengutarakan perasaan, mungkin kita akan merasa sedikit lebih baik.

Jika ini sering terjadi, jangan diabaikan. Apalagi, jika mulai mengganggu hubungan dan membuat kita menghindari intimasi. Carilah pertolongan dari terapis, psikiater, atau ahli kesehatan mental lainnya.

"Konseling atau terapi seks secara teratur dapat membantu seseorang atau pasangan untuk memeriksa apakah telah terjadi pelecehan di masa lalu, dinamika hubungan yang sulit, dan memahami apa yang diinginkan setiap orang dalam hubungan. Terapi dapat membantu mereka berbicara secara terbuka tentang apa yang terjadi untuk mengatasi pengalaman tersebut," Jessa Zimmerman, terapis seks bersertifikat, mengatakan kepada Insider.

Nah, itulah sedikit penjelasan mengenai postcoital dysphoria yang perlu kamu ketahui. Jika kamu mengalaminya, jangan ragu untuk mencari bantuan, ya!

Baca Juga: 7 Manfaat Kesehatan yang Didapat dari Orgasme, Bikin Panjang Umur?

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya