"Is crying good for you?" Harvard Health Publishing. Diakses Februari 2026.
Frey, W. H. (1985). Crying: The Mystery of Tears. (The foundational text on the biochemistry of tears). Diakses Februari 2026.
"Crying." Cleveland Clinic. Diakses Februari 2026.
"Stress effects on the body." American Psychological Association. Diakses Februari 2026.
"Facts About Tears." American Academy of Ophthalmology. Diakses Februari 2026.
"Globus Sensation." Cleveland Clinic. Diakses Februari 2026.
7 Hal Unik yang Terjadi pada Tubuh saat Kamu Menangis

- Menangis memicu respons biologis kompleks, bukan sekadar luapan emosi.
- Air mata emosional berbeda secara kimia dari air mata refleks.
- Dalam konteks tertentu, menangis dapat membantu regulasi stres dan emosi.
Menangis sering dipersepsikan sebagai tanda kesedihan, kelemahan, atau kehilangan kontrol emosi. Padahal, dari sudut pandang biologi dan psikologi, menangis adalah respons tubuh yang sangat terorganisir dan melibatkan banyak sistem—mulai dari otak, saraf otonom, hingga sistem hormonal.
Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa saat kamu menangis, tubuh tidak hanya bereaksi, tetapi juga berusaha menyeimbangkan diri. Beberapa perubahan yang terjadi terasa tidak nyaman, seperti napas tersengal atau kepala pusing, tetapi sebagian lainnya justru berperan dalam meredakan stres emosional. Menangis, dalam konteks yang sehat, adalah bagian dari mekanisme koping manusia.
Table of Content
1. Otak mengaktifkan sistem emosi dan stres sekaligus
Saat kamu menangis karena emosi, bagian otak yang paling aktif adalah sistem limbik, khususnya amigdala dan hipotalamus. Area ini bertanggung jawab atas pemrosesan emosi, ancaman, dan respons stres. Ketika emosi memuncak, hipotalamus mengirim sinyal ke sistem saraf otonom untuk memulai respons tubuh.
Respons ini mirip dengan reaksi stres: detak jantung bisa meningkat, napas menjadi lebih cepat atau tidak teratur, dan tubuh masuk ke mode heightened awareness. Inilah alasan mengapa menangis sering terasa menguras energi.
Namun menariknya, setelah episode menangis berakhir, aktivitas di sistem limbik biasanya menurun. Beberapa studi menunjukkan bahwa ini berkontribusi pada rasa lega atau lebih tenang setelah menangis, meskipun tidak selalu terjadi pada semua orang.
2. Tubuh melepaskan hormon stres dan emosi

Air mata emosional berbeda dengan air mata yang muncul karena debu atau iritasi. Penelitian klasik menunjukkan bahwa air mata emosional mengandung hormon stres seperti adrenokortikotropik (ACTH), prolaktin, dan leucine enkephalin.
Hipotesisnya, menangis bisa menjadi salah satu cara tubuh “membuang” zat kimia yang terkait dengan stres emosional. Walaupun teori ini masih terus diteliti, temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa sebagian orang merasa lebih ringan setelah menangis.
Namun, menangis bukan satu-satunya atau selalu cara efektif untuk mengelola stres. Pada sebagian individu—terutama yang mengalami depresi atau kecemasan—menangis justru bisa memperpanjang perasaan negatif.
3. Sistem saraf otonom beralih mode
Saat emosi memuncak, tubuh berada di bawah dominasi sistem saraf simpatis (mode “fight or flight”). Inilah yang membuat dada terasa sesak, tenggorokan mengencang, dan napas tersengal saat menangis.
Setelah tangisan mulai mereda, tubuh perlahan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, yang berfungsi menenangkan tubuh. Sistem ini menurunkan detak jantung, memperlambat napas, dan membantu tubuh kembali ke kondisi lebih stabil.
Peralihan inilah yang menjelaskan mengapa banyak orang merasa mengantuk atau sangat lelah setelah menangis cukup lama. Tubuh sedang melakukan “pendinginan” biologis setelah lonjakan emosi.
4. Pernapasan menjadi tidak teratur

Saat menangis, pola napas sering berubah menjadi pendek, cepat, dan tersengal. Ini terjadi karena otak emosional mengganggu ritme napas normal yang biasanya diatur secara otomatis oleh batang otak.
Pernapasan yang tidak teratur dapat menyebabkan penurunan kadar karbon dioksida dalam darah, yang memicu gejala seperti pusing, kesemutan, atau rasa melayang. Inilah alasan mengapa menangis hebat kadang disertai rasa lemas atau kepala ringan.
Menariknya, teknik pernapasan lambat dan dalam sering digunakan dalam terapi untuk membantu menghentikan tangisan yang terlalu intens, bukan untuk “menekan emosi”, tetapi untuk menstabilkan respons fisiologis tubuh.
5. Mata dan saluran hidung ikut bereaksi
Air mata diproduksi oleh kelenjar lakrimal, lalu mengalir ke permukaan mata dan sebagian masuk ke saluran hidung. Inilah sebabnya menangis hampir selalu disertai hidung meler, meskipun tidak sedang pilek atau flu.
Produksi air mata yang berlebihan juga bisa menyebabkan mata terasa perih, berat, atau bengkak. Hal ini terjadi karena peningkatan aliran darah ke area wajah dan mata sebagai bagian dari respons emosional.
Pada sebagian orang, gesekan berulang saat mengusap mata ketika menangis juga dapat memicu iritasi ringan atau mata merah berkepanjangan setelah tangisan berhenti.
6. Otot wajah dan tenggorokan menegang

Menangis melibatkan kontraksi berulang otot wajah, rahang, dan tenggorokan. Sensasi seperti ada benjolan di tenggorokan yang sering muncul saat menangis dikenal sebagai globus sensation, dan berkaitan dengan ketegangan otot laring akibat respons emosional.
Ketegangan otot ini bisa bertahan bahkan setelah tangisan berhenti, menyebabkan rasa tidak nyaman, suara serak, atau nyeri ringan di rahang dan leher.
Dalam konteks stres kronis, ketegangan berulang ini juga dapat berkontribusi pada keluhan seperti sakit kepala tegang.
7. Setelah menangis, kita akan merasa lebih baik

Banyak orang melaporkan perasaan lega setelah menangis, dan ini didukung oleh penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa menangis dapat membantu regulasi emosi, terutama jika disertai dukungan sosial.
Namun, studi juga menunjukkan bahwa tidak semua orang merasa lebih baik setelah menangis. Faktor seperti konteks sosial, alasan menangis, kondisi kesehatan mental, dan cara lingkungan merespons tangisan sangat memengaruhi efek emosional setelahnya.
Singkatnya, menangis bukan “obat universal” untuk emosi negatif, tetapi tetap merupakan respons manusiawi yang normal dan valid.
Nah, itulah hal-hal yang terjadi pada tubuh saat kita menangis, dari sudut pandang ilmiah. Semoga informasi singkat ini bermanfaat untukmu, ya!
Referensi


















