Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Review Film Laut Bercerita, Sesaknya Terasa meski Belum Baca Novelnya
cuplikan film Laut Bercerita (Dok. Pal8 Pictures/Laut Bercerita)
  • Film Laut Bercerita mengikuti Biru Laut, aktivis mahasiswa Winatra yang diculik dan disiksa menjelang Reformasi 1998, serta perjuangan keluarganya mencari kepastian atas aktivis yang hilang.

  • Reza Rahadian dinilai meyakinkan sebagai Laut meski sempat diragukan karena usia; detail penuaan orang tua Laut dan lagu “Matilah Kau Mati” memperkuat emosi film.

  • Penonton tidak wajib membaca novel, tetapi perlu fokus pada alur awal yang terasa padat dan patah-patah; konteks cerita menjadi lebih jelas pada pertengahan hingga akhir.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

"Rezim pengecut! Sama anak muda aja takut!" dialog yang dibawakan Sunu (Dewa Dayana) ini terasa begitu menohok.

Tayang di tengah berbagai kondisi dan masalah negeri ini, Laut Bercerita rasanya bukan sekadar film yang diangkat dari novel mega best seller. Ada sesuatu yang rasanya masih relevan, dekat, dan terhubung meski latarnya di masa lampau.

Mengangkat cerita tentang sekelompok aktivis mahasiswa dan penculikan menjelang Reformasi 1998, Laut Bercerita punya pesan tentang arti pergerakan, persahabatan, keluarga, hingga kebebasan berpendapat yang tak pernah usang di makan waktu.

Diangkat dari novel sangat laris karya Leila S. Chudori, film ini punya beban besar untuk menerjemahkan kisah yang sudah melekat di hati pembaca bukunya. Namun, bagaimana pengalaman menontonnya bagi penonton yang belum membaca novelnya?

Sinopsis Laut Bercerita

Film ini menggunakan sudut pandang Biru Laut Wibisana, seorang mahasiswa Sastra Inggris UGM yang aktif bersama kelompok pergerakan Winatra untuk melawan rezim otoriter. Setelah rencana kelompok mereka bocor karena pengkhianat, Laut dan rekan-rekannya diculik oleh pasukan rahasia, disekap, serta disiksa secara tidak manusiawi untuk membongkar dalang pendanaan gerakannya. Sebagian dari mereka kemudian dilepaskan, tapi Laut mengalami nasib tragis.

Asmara Jati, adik perempuan Biru Laut, bersama keluarga serta Tim Komisi Orang Hilang gigih menelusuri jejak dan mencari kepastian atas nasib kakak serta para aktivis lain yang tak kunjung kembali. Melalui penantian panjang yang penuh duka, kisah ini menggambarkan kepedihan mendalam keluarga yang kehilangan hingga sulitnya menyampaikan pendapat di rezim kala itu.

Laut Bercerita
2026
4/5★
Directed by Yosep Anggi Noen
ProducerGita Fara, Budi Setyarso, Leila S. Chudori
WriterLeila S. Chudori, Yosep Anggi Noen
Age Rating17+
GenreDrama, Sejarah
Duration133 Minutes
Release Date29-10-2026
Themebased on novel or book, campus, historical fiction, human rights, labor, democracy, social issues, adults, student, life, indonesian history, politic
Production HousePal8 Pictures, Visual Media Studio, Jagartha, Lynx Films, Brandlink
Where to WatchCinema
CastReza Rahadian, Yunita Siregar, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Eva Celia

Trailer Laut Bercerita

1. Film Laut Bercerita patahkan keraguan soal Reza Rahadian yang dianggap ketuaan

Ketika jajaran pemain Laut Bercerita diumumkan, pemilihan Reza Rahadian sebagai Laut sempat menuai keraguan. Sebagian orang mempertanyakan usianya yang dianggap terlalu tua untuk memerankan mahasiswa. Namun, setelah melihat hasilnya di layar, persoalan tersebut ternyata tidak mengganggu.

Perpaduan penampilan Reza dengan latar era 1990-an justru terasa cukup meyakinkan. Apalagi, tampilan para mahasiswa dalam film ini mengikuti gambaran anak kuliahan masa lalu yang sudah dikenal awet tua. Pada akhirnya, Reza tetap mampu membawakan karakter Laut tanpa membuat penulis terusik oleh perbedaan usia tersebut.

Hal lain yang menarik perhatian adalah perubahan penampilan orangtua Laut, yakni pasangan Wibisana. Detail penuaan mereka terasa digarap dengan apik, terutama perubahan warna rambut yang berlangsung perlahan. Uban yang mulai bermunculan seiring hilangnya Laut menjadi detail visual yang bikin saya kagum, terasa sekali kesedihan yang tak pernah tuntas meski waktu terus berjalan.

2. Soundtrack-nya memperkuat rasa sesaknya

Dari segi musik, lagu “Matilah Kau Mati” yang dirilis khusus untuk film ini terasa cocok dengan atmosfer ceritanya. Lagu tersebut mampu memperkuat emosi cerita dan menjadi salah satu elemen yang paling membekas setelah menontonnya. Apalagi bagian puncaknya, sangat sesuai dengan lirik lirih garapan Leila S. Chudori, Sutardji Calzoum Bachri, dan vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud tersebut.

Namun, buat saya, pengalaman itu tidak selalu konsisten sepanjang film. Ada beberapa bagian ketika soundtrack-nya terasa kurang menyatu dengan adegan, salah satunya saat memperlihatkan momen kebersamaan kelompok diskusi Winatra. Alih-alih memperkuat suasana, musik yang digunakan justru terasa seperti soundbite TikTok yang ditempelkan begitu saja ke dalam klip viral.

Beberapa pilihan soundtrack juga terdengar terlalu kekinian untuk latar cerita yang berlangsung pada era 1990-an. Membuat saya agak sulit masuk ke suasana zaman tersebut. Meski bukan masalah besar yang merusak keseluruhan film, ada perasaan sedikit terganggu saat menontonnya.

3. Apakah perlu baca novelnya terlebih dahulu sebelum menyaksikan filmnya?

Sebagai penonton yang belum membaca novelnya, saya merasa cukup ngos-ngosan mengikuti alurnya, terutama pada bagian awal. Meski film ini sudah memberikan keterangan tahun dan lokasi ketika berpindah latar, beberapa kejadian tetap terasa seperti patahan-patahan yang belum terhubung dengan jelas.

Saya sempat kebingungan memahami alasan Winatra harus berpindah tempat dan mengapa para anggotanya kemudian berpencar. Penjelasan mengenai hal-hal tersebut baru terasa lebih utuh ketika cerita memasuki babak pertengahan hingga akhir. Karenanya, bagian awal film membutuhkan konsentrasi ekstra agar penonton bisa mengikuti rangkaian peristiwa dan memahami konteks di balik keputusan para tokohnya.

Ketika berbincang dengan penonton yang sudah membaca novelnya, ternyata kesan patah-patah di bagian awal juga muncul. Film adaptasi kerap memiliki tantangan besar untuk merangkum materi novel ke dalam format layar lebar. Transisi antar-kejadian yang lebih mulus mungkin bisa membantu penonton memahami cerita yang lebih baik.

Meski begitu, saya tetap menikmati Laut Bercerita secara keseluruhan. Setelah melewati bagian awal yang terasa padat, film ini tetap meninggalkan kesan yang sangat kuat, karena relevansinya dengan kondisi Indonesia saat ini. Latar waktunya memang era 1990-an, ketika media sosial belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, perasaan ketika suara seseorang tidak didengar dan keberadaannya seolah dihapus terasa begitu dekat dengan masa sekarang.

Apalagi, press screening Laut Bercerita digelar pada 20 Oktober 2026, bertepatan dengan sejumlah aksi warga dan mahasiswa di berbagai daerah terkait 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Menonton film ini di tengah warga yang tengah berteriak, rasanya nampol banget.

Jadi, apakah harus membaca bukunya dulu sebelum menonton Laut Bercerita? Menurut penulis, tidak harus. Film ini tetap bisa dinikmati tanpa membaca novel, meski penonton mungkin perlu lebih jeli mengikuti alurnya, terutama di bagian awal. Membaca buku sebelumnya bisa saja membantu memahami konteks dan hubungan antartokoh, tetapi film ini tetap punya kekuatan emosionalnya sendiri.

Sebagai penutup, ada satu dialog terasa cukup untuk merangkum kemarahan sekaligus keberanian yang menjadi napas cerita ini.

"Rezim pengecut, sama anak muda aja takut!"

Curated For You

Editorial Team

Related Article