Sebagai penonton yang belum membaca novelnya, saya merasa cukup ngos-ngosan mengikuti alurnya, terutama pada bagian awal. Meski film ini sudah memberikan keterangan tahun dan lokasi ketika berpindah latar, beberapa kejadian tetap terasa seperti patahan-patahan yang belum terhubung dengan jelas.
Saya sempat kebingungan memahami alasan Winatra harus berpindah tempat dan mengapa para anggotanya kemudian berpencar. Penjelasan mengenai hal-hal tersebut baru terasa lebih utuh ketika cerita memasuki babak pertengahan hingga akhir. Karenanya, bagian awal film membutuhkan konsentrasi ekstra agar penonton bisa mengikuti rangkaian peristiwa dan memahami konteks di balik keputusan para tokohnya.
Ketika berbincang dengan penonton yang sudah membaca novelnya, ternyata kesan patah-patah di bagian awal juga muncul. Film adaptasi kerap memiliki tantangan besar untuk merangkum materi novel ke dalam format layar lebar. Transisi antar-kejadian yang lebih mulus mungkin bisa membantu penonton memahami cerita yang lebih baik.
Meski begitu, saya tetap menikmati Laut Bercerita secara keseluruhan. Setelah melewati bagian awal yang terasa padat, film ini tetap meninggalkan kesan yang sangat kuat, karena relevansinya dengan kondisi Indonesia saat ini. Latar waktunya memang era 1990-an, ketika media sosial belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, perasaan ketika suara seseorang tidak didengar dan keberadaannya seolah dihapus terasa begitu dekat dengan masa sekarang.
Apalagi, press screening Laut Bercerita digelar pada 20 Oktober 2026, bertepatan dengan sejumlah aksi warga dan mahasiswa di berbagai daerah terkait 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Menonton film ini di tengah warga yang tengah berteriak, rasanya nampol banget.
Jadi, apakah harus membaca bukunya dulu sebelum menonton Laut Bercerita? Menurut penulis, tidak harus. Film ini tetap bisa dinikmati tanpa membaca novel, meski penonton mungkin perlu lebih jeli mengikuti alurnya, terutama di bagian awal. Membaca buku sebelumnya bisa saja membantu memahami konteks dan hubungan antartokoh, tetapi film ini tetap punya kekuatan emosionalnya sendiri.
Sebagai penutup, ada satu dialog terasa cukup untuk merangkum kemarahan sekaligus keberanian yang menjadi napas cerita ini.
"Rezim pengecut, sama anak muda aja takut!"