"Pendekatan ini membantu memastikan sistem energi terbarukan didukung oleh keterampilan, kelembagaan, dan kepemilikan lokal yang diperlukan untuk memberikan manfaat jangka panjang," ujarnya.
SRE Indonesia Tingkatkan Kapasitas Pelatih Lokal Lewat Program REAL

- SRE Indonesia dan GEAPP menggelar program REAL untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan energi terbarukan berbasis masyarakat di Bali dan NTB.
- Sebanyak 37 peserta dari Lombok dan Sumbawa dilatih dalam operasi-pemeliharaan PLTS, PLTMH, serta pengelolaan organisasi dan komunitas untuk sembilan sistem energi.
- Program berkolaborasi dengan PPSDM KEBTKE dan UGM, memakai pendekatan Training of Trainers serta mencakup pemetaan pembangkit, studi kelayakan, dan rekomendasi rehabilitasi.
Pengembangan energi terbarukan membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan teknis dan kemampuan pengelolaan yang memadai. Untuk mendukung hal tersebut, Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia bersama Global Energy Alliance for People and Planet (GEAPP) menggelar pelatihan melalui program Renewable Energy Access for the Last Mile (REAL) di Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Program yang diikuti 37 peserta ini bertujuan memperkuat kapasitas pengelolaan sistem energi terbarukan berbasis masyarakat, khususnya dalam pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) serta pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH). Program REAL berfokus pada sembilan sistem energi terbarukan, terdiri atas lima PLTMH dan empat PLTS yang tersebar di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.
1. Peserta berasal dari beragam latar belakang

Peserta menyimak pemaparan materi dalam Community Organization & Management Training program Renewable Energy for the Last Mile (REAL) yang diselenggarakan oleh SRE Indonesia di Lombok (dok. SRE Indonesia) Pelatihan melalui program REAL diikuti 37 peserta yang terbagi dalam tiga jalur, yaitu 12 peserta pelatihan PLTS, 11 peserta pelatihan PLTMH, serta 14 peserta pelatihan pengelolaan organisasi dan komunitas. Sebanyak 22 peserta berasal dari Pulau Lombok dan 15 peserta dari Pulau Sumbawa. Kegiatan ini juga melibatkan perempuan dengan proporsi sekitar 32 persen.
Para peserta memiliki latar belakang cukup beragam. Ada yang merupakan guru sekolah menengah kejuruan (SMK), dosen dan akademisi, praktisi energi terbarukan, hingga pendamping dan pengelola organisasi masyarakat.
Pelatihan dan sertifikasi operasi serta pemeliharaan PLTS diselenggarakan di Jimbaran, Bali, pada 28 September–2 Oktober 2026. Adapun pelatihan PLTMH dan pengelolaan organisasi serta komunitas berlangsung di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 5–9 Oktober 2026.
2. SRE Indonesia bekerja sama dengan PPSDM KEBTKE

Peserta Community Organization & Management Training dalam program Renewable Energy for the Last Mile (REAL) yang diselenggarakan oleh SRE Indonesia di Jakarta (dok. SRE Indonesia) Dalam penyelenggaraan program REAL, SRE Indonesia berkolaborasi dengan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE). PPSDM KEBTKE berada di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Selain itu, program ini turut menggandeng Research and Development for Societal Impact (RDSI) dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Kolaborasi tersebut bertujuan memperkuat materi pelatihan, khususnya terkait pengelolaan organisasi dan manajemen komunitas.
3. Materi pelatihan mencakup aspek teknis dan pengelolaan komunitas

ilustrasi belajar di alam (unsplash.com/The Tampa Bay Estuary Program) Pelatihan program REAL mencakup beberapa materi. Pada jalur teknis, peserta mempelajari pengoperasian pembangkit, pemeliharaan, keselamatan kerja, hingga penanganan gangguan. Sementara itu, materi pengelolaan komunitas meliputi tata kelola organisasi, manajemen keuangan, pelibatan pemangku kepentingan, serta fasilitasi masyarakat.
Kegiatan ini menerapkan pendekatan Training of Trainers (ToT) untuk membentuk jejaring pelatih dan pendamping lokal. Dengan pendekatan tersebut, peserta diharapkan dapat meneruskan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada operator serta pengelola sistem energi terbarukan di komunitas masing-masing.
4. Harapan program REAL

Peserta Community Organization & Management Training dalam program Renewable Energy for the Last Mile (REAL) yang diselenggarakan oleh SRE Indonesia di Jakarta (dok. SRE Indonesia) Country Director Indonesia GEAPP, Rizky Fauzianto, menyampaikan, penguatan kapasitas masyarakat lokal menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan operasional sistem energi terbarukan. Melalui program REAL, GEAPP bersama para mitra berupaya meningkatkan keterampilan teknis dan manajerial masyarakat sekaligus membangun jejaring pelatih yang dapat menyebarluaskan pengetahuan di tingkat lokal.
Senada dengan hal tersebut, Chairperson SRE Indonesia, Reiner Nathaniel, mengatakan, "Harapannya, keberadaan pelatih dan pendamping lokal yang telah dibekali kompetensi teknis, manajemen, dan kemasyarakatan secara terintegrasi dapat menjadi kunci bagi keberlanjutan sistem mini-grid di Nusa Tenggara Barat".
Selain pelatihan, program REAL juga mencakup pemetaan kondisi pembangkit dan pemangku kepentingan, kajian model bisnis dan studi kelayakan, serta penyusunan rekomendasi rehabilitasi sistem energi terbarukan. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan pembangkit yang lebih efektif dan berkelanjutan.























