ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/ketutsubiyanto)
Meski identik dengan kelembutan, gentle parenting bukan berarti orangtua harus selalu mengalah. Anak tetap membutuhkan aturan, konsekuensi yang logis, dan orangtua yang mampu mengambil keputusan dengan tegas.
Menurut para psikolog, orangtua juga tidak dituntut menjadi sempurna. Mereka tetap bisa kehilangan kesabaran, lalu memperbaiki hubungan dengan meminta maaf dan menunjukkan cara menyelesaikan konflik secara sehat. Justru dari situlah anak belajar bahwa setiap orang bisa berbuat salah dan bertanggung jawab atas tindakannya.
"Tidak realistis jika orang dewasa berharap anak kecil mampu mengenali emosinya lalu langsung mengaturnya sendiri, karena mereka memang belum mempelajari keterampilan tersebut. Di sinilah gentle parenting berperan membantu anak membangun kemampuan itu," ujar Leigh Spivey-Rita.
Pada akhirnya, gentle parenting bukan tentang selalu berkata "iya" kepada anak, melainkan menyeimbangkan empati dengan batasan yang konsisten. Saat diterapkan dengan tepat, pola asuh ini justru dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengelola emosi, menghargai aturan, dan lebih siap menghadapi kehidupan.