Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kalimat Masa Kecil yang Dampaknya Bisa Membekas hingga Dewasa
ilustrasi memarahi anak yang menangis (freepik.com/freepik)
  • Ucapan berulang di masa kecil, meski diniatkan baik, dapat membentuk cara anak memandang diri dan mengelola emosi hingga dewasa.
  • Larangan menangis, perbandingan, dan kritik atas ketidakmampuan berpotensi membuat anak memendam emosi, minder, takut gagal, serta sulit menghargai pencapaian.
  • Pesan bahwa pendapat anak tidak penting atau pengorbanan orang tua harus dibalas dapat memicu sulit menyuarakan kebutuhan, berkata tidak, dan mendahulukan diri sendiri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu pernah merasa sulit percaya diri, takut melakukan kesalahan, atau selalu mengutamakan orang lain dibanding diri sendiri? Bisa jadi, kebiasaan tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman dan kata-kata yang sering didengar sejak kecil.

Meski umumnya diucapkan dengan niat baik, beberapa ucapan bisa membentuk cara anak memandang diri dan mengelola emosinya hingga dewasa. Berikut beberapa kalimat masa kecil yang dampaknya bisa membekas sampai dewasa.

1. "Kamu kan anak kuat, jangan nangis terus"

ilustrasi memarahi anak(pexels.com/Gustavo Fring)

Banyak anak tumbuh dengan keyakinan bahwa menangis atau menunjukkan kesedihan adalah tanda kelemahan. Padahal ketika anak sering diminta menahan tangis atau selalu terlihat "kuat", mereka bisa belajar bahwa emosi negatif sebaiknya disembunyikan. Lama-kelamaan, anak menjadi terbiasa memendam apa yang dirasakan daripada mengungkapkannya secara sehat.

Menurut American Psychological Association (APA), kemampuan mengenali dan mengekspresikan emosi merupakan bagian penting dari perkembangan psikologis yang sehat. Jika anak terus diajarkan untuk menekan emosinya, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa, seperti kesulitan mengungkapkan perasaan, memendam masalah sendiri, hingga lebih rentan mengalami stres karena tidak terbiasa mengelola emosi secara sehat.

2. "Lihat tuh kakakmu, masa kamu gak bisa?"

ilustrasi ibu memarahi anak (freepik.com/freepik)

Membandingkan anak dengan kakak, saudara, atau teman sering kali dilakukan agar mereka lebih termotivasi. Sayangnya, jika terlalu sering diucapkan, anak bisa merasa bahwa dirinya baru dianggap cukup ketika berhasil menyamai atau bahkan melampaui orang lain.

Menurut psikolog Carol Dweck, anak akan berkembang lebih baik ketika fokus pada proses belajar, bukan sekadar hasil atau perbandingan dengan orang lain. Jika kebiasaan dibandingkan terus berlanjut, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang mudah minder, sering membandingkan diri dengan orang lain, dan sulit menghargai pencapaiannya sendiri.

3. "Masa gitu aja gak bisa?"

ilustrasi orang tua dan anak (pexels.com/Kampus Production)

Bagi orang tua, kalimat ini mungkin terdengar seperti dorongan agar anak lebih semangat belajar. Namun, bagi anak yang masih membangun rasa percaya diri, ucapan tersebut justru bisa membuat mereka mulai meragukan kemampuannya sendiri. Alih-alih termotivasi, mereka bisa menjadi takut mencoba hal baru karena khawatir akan kembali dianggap tidak mampu.

Jika terus berulang, anak bisa tumbuh dengan kebiasaan terlalu keras pada diri sendiri dan merasa harus selalu berhasil agar dianggap cukup baik. Saat dewasa, mereka cenderung lebih takut gagal, mudah minder ketika melakukan kesalahan, atau bahkan merasa pencapaiannya belum pernah cukup meski sudah berhasil meraih banyak hal.

4. "Anak kecil gak usah ikut campur"

ilustrasi memarahi anak (pexels.com/RDNE stock project)

Tidak semua pembicaraan memang perlu melibatkan anak. Namun, jika mereka terus-menerus mendapat pesan bahwa pendapatnya tidak penting, anak bisa mulai percaya bahwa suaranya memang tidak layak didengar. Akibatnya, mereka menjadi enggan menyampaikan apa yang dipikirkan atau dirasakan.

Dampaknya bisa terasa hingga dewasa. Mereka mungkin kesulitan menyampaikan ide saat bekerja, enggan mengungkapkan kebutuhan dalam hubungan, atau selalu takut dianggap merepotkan orang lain. Padahal kemampuan menyampaikan pendapat dengan percaya diri dan menghargai diri sendiri merupakan bekal penting untuk membangun hubungan yang sehat, baik dalam lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari.

5. "Mama/Papa melakukan semua ini demi kamu"

ilustrasi orangtua memarahi anak (pexels.com/Monstera)

Kalimat ini memang sering diucapkan sebagai bentuk kasih sayang atau pengorbanan orang tua. Namun, jika terus diulang hingga membuat anak merasa bersalah, mereka bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain.

Dilansir Psychology Today, kebiasaan menjadi people pleaser sering kali berakar dari pengalaman masa kecil yang membuat seseorang merasa harus terus memenuhi harapan orang lain agar diterima atau dicintai. Akibatnya, saat dewasa mereka cenderung sulit berkata "tidak", merasa bersalah saat mendahulukan diri sendiri, dan lebih sering mengorbankan kebutuhannya demi menyenangkan orang lain.

Kalimat masa kecil yang dampaknya bisa membekas sampai sekarang mengingatkan kita bahwa setiap ucapan memiliki arti bagi anak. Karena itu, memilih kata-kata yang tepat juga menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang mereka.

Curated For You

Editorial Team

Related Article