Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Nasihat agar Anak Aman Bermain dengan Teman di Sekolah

7 Nasihat agar Anak Aman Bermain dengan Teman di Sekolah
ilustrasi anak-anak bermain (pexels.com/Nasirun Khan)
Intinya Sih
  • Larang anak melakukannya di sekolah kecuali ketika pelajaran olahraga.

  • Orangtua jangan bosan-bosan menasihati anak supaya lebih berhati-hati ketika bermain di sekolah.

  • Orangtua perlu memberikan nasihat agar anak aman bermain dengan teman di sekolah dan selalu berhati-hati di mana pun mereka berada.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Anak-anak suka sekali bermain di mana pun. Termasuk di sekolah, terutama di jam istirahat dan setelah bel pulang, sambil menunggu jemputan. Apalagi siswa-siswa yang masih kecil, seperti kelas 1 sampai 3 sekolah dasar.

Pikiran mereka belum fokus pada soal belajar. Pun tugas sekolah belum banyak. Otomatis anak lebih memikirkan keseruan bermain bareng teman-teman saja. Di sinilah kecelakaan kerap terjadi.

Seperti anak terjatuh hingga menimbulkan cedera ringan, sedang, sampai berat. Orangtua jangan bosan-bosan menasihati anak supaya lebih berhati-hati ketika bermain di sekolah. Sewaktu memberikan nasihat agar anak aman bermain dengan teman di sekolah, gunakan nada bicara tegas supaya mereka lebih memperhatikan serta mengingatnya.

1. Gak semua yang dilakukan teman perlu diikuti

anak-anak bermain
ilustrasi anak-anak bermain (pexels.com/gsregvrd)

Anak-anak sangat mudah melakukan imitasi atau meniru perilaku teman sebaya. Apalagi, hal yang dilakukan terlihat seru dan menyenangkan. Seperti memanjat pohon yang tinggi atau menjulurkan tangan dan mencondongkan tubuh jauh-jauh demi memetik buah di kebun sekitar sekolah.

Sudah ada satu perilaku berbahaya dan satu lagi tindakan tak terpuji di situ. Bahaya karena anak bisa terjatuh dari pohon atau tempatnya berpijak. Juga perbuatan tersebut gak terpuji sebab hendak mengambil buah milik orang lain. Itu sama dengan mencuri.

2. Tidak perlu berlarian atau lompat-lompat

siswa-siswa
ilustrasi siswa-siswa (pexels.com/Nasirun Khan)

Anak-anak juga paling suka berlarian dan melompat-lompat ketika bersama teman. Malah kadang ada tantangan buat berlari secepat mungkin atau melompat setinggi-tingginya. Siapa yang bisa melakukannya dianggap lebih hebat.

Larang anak melakukannya di sekolah kecuali ketika pelajaran olahraga. Saat jam pelajaran olahraga, jelas ada guru yang mengawasi. Pun perintah guru yang mengharuskannya berlari atau melompat sudah diukur supaya tetap aman. Tidak bebas seperti dalam permainan bersama teman.

3. Jangan kecapekan

anak-anak bermain
ilustrasi anak-anak bermain (pexels.com/gsregvrd)

Saking asyiknya anak-anak bermain, mereka sering tidak mengukur keterbatasan energinya. Juga mengingat bahwa setelah bel tanda istirahat berbunyi, mereka harus kembali fokus belajar di kelas. Beri tahu anak untuk tidak berlebihan dalam bermain.

Jika anak sudah capek, pasti susah sekali untuk memusatkan perhatian pada pelajaran. Belum lagi kelelahan dapat membuatnya jatuh sakit atau rewel sepulang sekolah. Bermain di sekolah cuma buat mengisi waktu di antara pelajaran, bukan seperti hari libur.

4. Berhenti dan saling minta maaf jika ada teman mulai kesal

anak-anak bermain
ilustrasi anak-anak bermain (pexels.com/Thirdman)

Sering sekali terjadi bahwa ada anak yang menangis di tengah permainan bersama teman-temannya. Bahkan tak seorang pun daripada kawannya bermaksud untuk melukai perasaannya. Apa pun itu, anak kudu belajar peka terhadap perubahan suasana hati teman.

Apabila salah satu kawan mulai tambah cemberut dan banyak protes, seperti kesal, mending permainan diakhiri. Kalau permainan diteruskan, pasti situasi bakal memburuk. Jangan lupa mengajak semua kawan saling memaafkan. Besok mereka bermain lagi dengan suasana yang lebih menyenangkan.

5. Duduk-duduk sambil ngobrol dan makan bekal atau jajanan juga seru

ilusrasi siswa-siswa
ilustrasi siswa-siswa (pexels.com/Agung Pandit Wiguna)

Anak yang terlalu aktif atau suka bergerak perlu belajar untuk lebih tenang. Sebab risiko cedera atau mengganggu orang lain lebih besar apabila anak sangat aktif. Sampaikan kepada anak bahwa bermain bersama teman gak cuma lari-larinya atau melompat-lompat.

Kenalkan anak pada jenis permainan yang perlu lebih banyak duduk dan dilakukan dengan tangan. Seperti bermain puzzle kalau tersedia di sekolah. Bisa juga bola bekel, orang-orangan kertas, dan sebagainya.

Atau, isi waktu istirahat buat mengobrol dengan kawan sambil menikmati bekal atau jajanan sehat. Dapat pula mereka pergi ke perpustakaan dan membaca di tempat atau meminjam buku untuk dibawa pulang. Pilihan aktivitas yang lebih kalem, selain lebih aman, juga tak membuatnya kelelahan.

6. Simpan uang saku baik-baik

anak-anak bermain
ilustrasi anak-anak bermain (pexels.com/Thirdman)

Tanpa bermaksud menuduh teman anak, kehilangan uang saku cukup sering terjadi di lingkungan sekolah. Siapa pun dapat mengalaminya. Baik murid yang uang sakunya banyak maupun sedikit.

Sebaiknya memang anak tidak membawa banyak uang ke sekolah. Terlebih telah ada bekal atau makan siang gratis di sekolah. Jika pun terdapat iuran yang cukup gede, mending orangtua yang membayarkannya langsung ke pihak sekolah.

Bukan uang dititipkan ke anak. Pun berapa saja nominal uang sakunya per hari, saat main dengan teman, jangan ditinggal di tas. Masukkan uang itu ke saku dalam-dalam. Biasanya saku rok atau celana lebih aman daripada saku baju.

7. Wajib di lingkungan sekolah saja, jangan ke mana-mana

siswa sekolah
ilustrasi siswa sekolah (pexels.com/Ron Lach)

Cukup banyak sekolah yang tidak terlalu ketat menjaga siswa agar selalu di dalam batas pagar. Pagar dibuka ketika jam istirahat. Tujuannya biar anak bisa tetap jajan di luar. Sementara sekolah lain tetap mengunci pagar dan anak-anak jajan di luar melalui celah pagar.

Selalu melarang keras anak bermain di luar pagar sekolah. Makin jauh anak dari sekolah, makin besar risiko keselamatannya. Selain bahaya penculikan anak, tentu juga rawan terserempet kendaraan yang melintas.

Begitu pula setelah jam sekolah berakhir dan dirimu atau pasangan belum menjemput. Anak tetap harus menunggu di dalam pagar sekolah. Anak boleh sambil bermain bareng kawan, tapi tidak keluar dari halaman sekolah.

Kecelakaan saat anak bermain sangat sering terjadi, termasuk di lingkungan sekolah. Perbandingan guru dan karyawan sekolah yang kurang, dibandingkan dengan jumlah murid membuat pengawasan sulit maksimal. Oleh sebab itu, orangtua perlu memberikan nasihat agar anak aman bermain dengan teman di sekolah dan selalu berhati-hati di mana pun mereka berada.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More