ilustrasi seseorang meminta maaf (pexels.com/Keira Burton)
Langkah terakhir yang paling menantang buat kamu adalah belajar bilang gak tanpa drama minta maaf panjang lebar. Kamu bisa menolak lemburan dengan kalimat aku belum bisa ambil proyek ini minggu ini, kapasitas kerjaku sudah penuh banget. Kamu bisa menolak ajakan nongkrong dengan kalimat aku skip dulu ya kali ini, aku butuh waktu istirahat di rumah. Kamu gak perlu menambahkan penjelasan berparagraf-paragraf atau tiga kali kata maaf biar penolakanmu diterima orang.
Ingat ya kalau batasan yang sehat justru bikin hubunganmu dengan orang lain jadi lebih awet dan jujur. Kamu gak akan lagi merasa capek karena selalu mengiyakan semua hal, kamu gak akan menumpuk rasa kesal yang ujungnya meledak jadi konflik besar. Orang-orang yang benar-benar menghargaimu pasti bakal menghormati keputusanmu walau awalnya mereka sedikit kecewa mendengarnya. Kamu layak dijaga, waktumu layak dihormati, dan energimu layak dilindungi sama seperti kamu selalu melindungi perasaan orang lain.
Gimana, setelah baca sampai sini kamu mulai sadar kan kalau berhentinya kamu minta maaf bukan berarti kamu jadi orang jahat? Kamu hanya sedang belajar menempatkan kata maaf di tempat yang seharusnya, bukan diobral ke semua orang untuk semua hal kecil. Kamu sedang naik level dari people pleaser yang capek sendiri menjadi pribadi yang lebih sadar akan nilai dirimu. Proses ini gak instan, tapi setiap usaha kecilmu sangat berarti buat kesehatan mentalmu.
Yuk mulai besok pagi kamu praktekkan satu saja tips dari artikel ini dalam kehidupan nyata kamu. Kamu bisa mulai dari hal paling gampang seperti mengganti kata maaf dengan terima kasih saat chat sama teman dekatmu. Kamu akan kaget melihat bagaimana duniamu gak runtuh hanya karena kamu berhenti bilang maaf untuk hal yang bukan salahmu. Kamu tetap baik, kamu tetap sopan, kamu tetap kamu yang hangat, hanya saja sekarang dengan versi yang lebih berani dan lebih menghargai diri sendiri.