Pernah merasa sulit mengatakan "tidak" meskipun sedang lelah? Atau sering mengorbankan kebutuhan sendiri demi membuat orang lain senang? Jika iya, bisa jadi perilaku tersebut bukan sekadar bentuk keramahan, melainkan berkaitan dengan luka emosional yang terbentuk sejak masa kecil. Dalam psikologi, kecenderungan untuk terus-menerus menyenangkan orang lain dikenal sebagai people pleasing, yaitu pola perilaku ketika seseorang mengutamakan kebutuhan orang lain demi mendapatkan penerimaan, menghindari konflik, atau merasa dirinya berharga.
Salah satu faktor yang dapat berkontribusi terhadap perilaku ini adalah pengalaman kurang mendapatkan kasih sayang atau validasi emosional selama masa tumbuh kembang. Perlu dipahami bahwa "kurang kasih sayang" tidak selalu berarti orang tua tidak mencintai anaknya. Dalam banyak kasus, orang tua mungkin sangat menyayangi anak, tetapi belum mampu mengekspresikan kasih sayang atau memenuhi kebutuhan emosional anak secara konsisten karena berbagai keterbatasan. Berikut lima tanda bahwa trauma kurang kasih sayang mungkin memengaruhi kecenderunganmu menjadi people pleaser.
