Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ketika Hidup Terasa Berat, Apa Makna Mindfulness Sebenarnya?
Ilustrasi melihat hp (freepik.com/The Yuri Arcurs Collection)
  • Mindfulness berarti menyadari pengalaman dan emosi tanpa menghakimi, bukan menutup mata terhadap bencana, konflik, atau masalah sosial yang memicu kelelahan emosional.
  • Di tengah kabar buruk, orang tetap perlu melihat realitas, mengenali batas diri, dan berhenti doomscrolling saat informasi berlebihan mulai menguras emosi serta memicu kecemasan.
  • Setelah menenangkan diri, rasa peduli dapat diarahkan ke tindakan nyata seperti berdonasi, membantu sekitar, menyebarkan informasi benar, atau terlibat dalam aksi sosial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belakangan ini kabar buruk seperti gak ada habisnya. Bencana, konflik, dan berbagai masalah sosial terus memenuhi media sosial hingga membuat banyak orang ikut lelah secara emosional. Di tengah kondisi ini, mindfulness kembali ramai setelah konten Maudy Ayunda berjudul Mindfulness in the Age of Bad News menuai kritik dan dianggap kurang peka oleh netizen.

Mindfulness bukan berarti menutup mata dari keadaan atau pura-pura semuanya baik-baik saja. Lalu, bagaimana sebenarnya cara memahami dan menerapkan mindfulness saat situasi di sekitar kita sedang gak baik-baik saja?

1. Memahami mindfulness, bukan berarti mengabaikan keadaan

Ilustrasi perempuan (pexels.com/Austin Guevara)

Secara sederhana, mindfulness adalah kemampuan untuk hadir dan menyadari apa yang sedang kita rasakan atau alami tanpa buru-buru menghakimi. Jadi ketika hati terasa penuh karena melihat begitu banyak kabar buruk, mengambil jeda bukan berarti kita gak peduli. Kita hanya sedang memberi ruang agar pikiran gak terus-menerus dipenuhi kecemasan.

Mindfulness adalah kesadaran dari waktu ke waktu terhadap pengalaman yang sedang kita alami, tanpa menghakiminya," tutur Daphne M. Davis, PhD & Jeffrey A. Hayes, PhD, APA Monitor on Psychology

Justru, mindfulness bisa membantu kita melihat keadaan dengan lebih jernih. Kita boleh sedih, marah, kecewa, atau takut melihat kondisi sekitar. Yang penting, emosi tersebut gak sampai membuat kita kehilangan kendali atau merasa harus menyerap semua penderitaan yang muncul di layar setiap hari.

2. Esensi mindfulness yang sebenarnya di tengah krisis

Ilustrasi stres (freepik.com/Freepik)

Di tengah banyaknya kabar buruk, mindfulness bukan tentang memilih tenang lalu mengabaikan keadaan. Justru, kita belajar tetap sadar dengan apa yang terjadi sambil mengenali batas diri. Ada beberapa hal yang penting untuk diingat:

  • Tetap berani melihat realitas

    Mindfulness bukan tentang berpura-pura semuanya baik-baik saja. Kita tetap bisa melihat bencana, ketidakadilan, dan penderitaan orang lain tanpa harus menyangkal rasa sakit yang muncul di dalam diri.

  • Tahu kapan harus berhenti doomscrolling

    Terus menerus membaca kabar buruk gak selalu membuat kita semakin peduli. Ada titik ketika informasi yang masuk justru membuat kepala semakin sesak, emosi terkuras, dan rasa cemas terbawa sampai ke kehidupan sehari-hari. Berhenti scrolling sejenak bukan berarti gak peduli, tetapi memberi ruang agar diri sendiri gak ikut tenggelam.

  • Mengubah rasa marah menjadi sesuatu yang berarti

    Marah dan kecewa boleh ada. Namun, jangan sampai semuanya hanya berakhir sebagai amarah di media sosial atau pikiran yang terus berputar. Kalau masih punya tenaga, arahkan rasa peduli itu ke sesuatu yang nyata, seperti berdonasi, membantu orang sekitar, menyebarkan informasi yang benar, atau ikut dalam aksi sosial.

3. Setelah menenangkan diri, jangan lupa melakukan sesuatu

Ilustrasi berbagi (pexels.com/RDNE Stock project)

Menjaga diri bukan berarti menjauh dari semua persoalan. Setelah memberi waktu untuk bernapas dan menata pikiran, coba tanyakan lagi pada diri sendiri, “Apa yang masih bisa aku lakukan?”

Mungkin kita gak bisa menghentikan bencana atau menyelesaikan semua masalah yang terjadi di dunia. Namun, kita masih bisa membantu orang di sekitar, memilih informasi yang lebih sehat untuk dikonsumsi, atau melakukan hal kecil yang punya dampak. Karena kepedulian gak selalu harus datang dalam bentuk besar, kadang ia dimulai dari diri yang cukup tenang untuk kembali hadir dan melakukan sesuatu.

Kita gak harus memikul semua masalah dunia sendirian sampai lupa menjaga diri sendiri. Boleh mengambil jeda, boleh merasa lelah, tetapi setelah itu kita tetap punya pilihan untuk kembali peduli dengan cara yang lebih sehat dan nyata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article