Ilustrasi bersyukur (unsplash.com/Photo by Alexey Demidov)
FOMO sering muncul ketika kita menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan. Akibatnya, apa pun yang sudah dimiliki terasa kurang karena selalu ada orang yang tampak lebih sukses, lebih kaya, atau lebih bahagia.
Untuk mengatasinya, penting membangun kebiasaan bersyukur dan menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Melatih rasa syukur tidak berarti berhenti memiliki ambisi.
Sebaliknya, rasa syukur membantu seseorang menghargai proses yang sedang dijalani sambil tetap berusaha mencapai tujuan. Menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap hari, mengurangi waktu bermain media sosial, dan fokus pada target pribadi merupakan beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi kecenderungan FOMO.
"Saya pikir rasa syukur memungkinkan kita untuk lebih berpartisipasi dalam kehidupan. Kita lebih memperhatikan hal-hal positif, dan itu memperkuat kesenangan yang kita dapatkan dari kehidupan," ujar Dr. Robert A. Emmons, profesor psikologi di University of California dikutip dari The Greater Good Science Center at the University of California, Berkeley.
Belajar berdamai dengan FOMO bukan berarti berhenti bermimpi atau tidak lagi memiliki target hidup. Sebaliknya, hal itu mengajarkan kita untuk menikmati perjalanan tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.