Ada tipe tokoh utama dalam novel yang sejak halaman pertama terasa seperti sedang berkata, “Dunia ini tentang aku.” Mereka merasa dirinya berbeda, lebih sadar dibandingkan dengan orang lain, terlalu kompleks untuk dipahami, atau memiliki takdir yang seolah lebih besar daripada kehidupan manusia biasa. Menariknya, karakter semacam ini tidak selalu tampil sebagai sosok narsistik yang terang-terangan. Kadang, rasa “aku adalah pusat cerita” justru bersembunyi di balik kesepian, kecerdasan, idealisme, sinisme, bahkan luka psikologis yang belum selesai. Inilah yang dalam bahasa populer masa kini kerap disebut main character syndrome—kecenderungan melihat kehidupan seolah diri sendiri adalah protagonis utama, sementara orang lain hanya pemeran pendukung.
Dalam sastra, fenomena tersebut tentu jauh lebih kompleks daripada sekadar istilah media sosial. Banyak pengarang justru menggunakan karakter yang terlalu berpusat pada dirinya sendiri untuk menguliti ego manusia, kebutuhan akan validasi, alienasi, pencarian identitas, hingga absurditas kehidupan. Pembaca awalnya mungkin dibuat bersimpati kepada tokoh utama, tetapi perlahan diarahkan untuk mempertanyakan, "Jangan-jangan masalah terbesar karakter ini bukan dunia yang tidak memahaminya, melainkan dirinya sendiri yang terlalu sibuk membangun cerita tentang siapa dirinya."
Lima novel dengan tema main character syndrome berikut ini menarik untuk dibaca dengan perspektif tersebut. Hal ini dikarenakan kisahnya menyimpan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar cerita tentang tokoh-tokoh yang “merasa dirinya paling penting”. Mari kita telusuri!
