3 Pandangan Keliru Anggap Pertumbuhan dalam Hubungan Sebagai Ancaman

Pentingnya pertumbuhan dan kedewasaan dalam hubungan, bukan hanya komunikasi atau keintiman, melainkan kemampuan kedua pihak untuk berkembang bersama.
Ada tiga pandangan keliru: menganggap perubahan memicu konflik, merasa tidak aman saat pasangan bertumbuh, dan takut pertumbuhan menciptakan jarak emosional.
Jadikan perubahan sebagai peluang memperkuat relasi melalui komunikasi terbuka, introspeksi diri, serta kemauan tumbuh dewasa bersama pasangan.
Pertumbuhan dan kedewasaan adalah tujuan membangun hubungan. Dalam relasi yang sehat, fokusnya bukan hanya pada komunikasi, cara menyelesaikan konflik, membangun rasa percaya, atau keintiman emosional. Justru seharusnya, semua karakter itu menjadi dasar agar setiap pihak saling bertumbuh dalam relasi.
Kedengarannya sederhana, tapi banyak yang gagal paham tentang ini. Pertumbuhan juga berarti perubahan. Pertanyaannya, apakah kamu siap menghadapi pertubahan itu? Ketika salah satu pihak bertumbuh, pihak lain justru panik, menarik diri, atau bahkan bersikap defensif. Kalau begini, kapan dewasanya?
Untuk membantumu introspeksi, yuk kita simak tiga pandangan keliru yang membuat pertumbuhan dalam hubungan jadi sulit diraih. Waktunya jujur sama diri sendiri, ya!
1. Berpikir perubahan bisa picu konflik dalam relasi

Kebanyakan orang sulit untuk keluar dari zona nyaman. Termasuk, dalam hubungan. Ketika kamu sudah nyaman dengan versi pasanganmu sekarang: bagaimana ia bersikap, mengambil keputusan, menghabiskan waktu denganmu, kamu sulit menerima fakta bahwa pasanganmu pun butuh berubah.
Sementara banyak dari kita yang berasumsi: perubahan itu buruk dalam relasi. Padahal itu keliru besar. Kalau perubahan semakin positif, justru kamu harusnya bangga. Karena itu bukan sesuatu yang mengancam, sebaliknya, malah menjadi dasar yang lebih kokoh dalam jangka panjang.
Jadikan pertumbuhan pasangan sebagai motivasi untukmu pun semakin dewasa. Tidak apa-apa, lho, untuk selalu mengomunikasikan perubahan ini pada pasangan. Justru dengan cara inilah, kamu akan semakin terbuka dan intim dengan doi.
2. Diam-diam merasa tidak aman dengan diri sendiri

Kalau melihat pasangan bertumbuh semakin baik dan kamu malah insecure, coba cek ke diri sendiri, jangan-jangan selama ini kamu memandang doi sebagai kompetitor alih-alih partner. Hal ini bisa terjadi ketika kamu sendiri belum yakin dengan dirimu, melihat perubahan melejit doi bikin kamu terancam.
Karena itu, konsep dirimu harus matang dulu sebelum menjalin hubungan. Rasa tidak aman bisa jadi ancaman, karena itu menyoroti kekuranganmu di atas pertumbuhan pasangan.
Kamu yang seharusnya bisa merayakan pertumbuhan dan perkembangan partnermu, malah jadi sibuk sendiri menangisi kekuranganmu.
3. Menganggap pertumbuhan memicu jarak dalam hubungan

Pertumbuhan pasti akan melibatkan perubahan, entah itu menetapkan tujuan baru, melepas kebiasaan lama, atau semakin hari semakin bertumbuh ke versi yang lebih baik. Ada perubahan karakter, pandangan, bahkan muncul nilai dan prinsip hidup yang baru.
Ini yang akhirnya membuatmu bertanya-tanya, “apa kita masih bisa berkomunikasi dengan cara yang sama?”, “bagaimana kalau ia jadi orang yang tidak lagi bisa menyeimbangkanku seperti sekarang?”, dan beragam ketakutan lain.
Kuncinya adalah komunikasi. Wajar, kok, untuk sesekali merasa hilang arah dalam hubungan. Tapi, jangan malah menarik diri, justru itu alarm untukmu perlu “refresh” keintimanmu dengan pasangan.
Sekarang, kamu sudah tahu anggapan keliru apa saja yang bisa menghalangi pertumbuhan dalam relasi. Jangan diwajarkan, justru ini jadi pengingat untukmu lebih dewasa menyikapi pertumbuhan. Ingat, tujuan akhir berkomitmen tidak sedangkal senang-senang semata, melainkan mencapai pertumbuhan bersama.