"Ini adalah pandangan positif palsu yang menolak untuk menerima masalah dan kesulitan nyata yang terjadi dalam suatu hubungan," jelas Sherry dalam Psychology Today.
"Perasaan adalah reaksi emosional terhadap suatu situasi. Memiliki perasaan seharusnya tidak menimbulkan rasa bersalah, tetapi bertindak secara tidak tepat berdasarkan perasaan dengan cara negatif dapat mengakibatkan rasa bersalah," tambahnya.
Toxic Positivity dalam Hubungan, Apa Tandanya?

Dalam hubungan, memberikan semangat kepada pasangan atau orang terdekat memang bisa menjadi bentuk dukungan. Kalimat seperti “semuanya akan baik-baik saja” atau “coba lihat sisi positifnya” kadang bisa membantu seseorang melewati masa sulit. Namun, jika dorongan untuk selalu berpikir positif justru membuat seseorang tidak boleh sedih, marah, kecewa, atau mengeluh, sikap tersebut bisa berubah menjadi toxic positivity.
Toxic positivity bukan berarti seseorang terlalu bahagia atau terlalu optimistis. Masalahnya muncul ketika emosi negatif dianggap tidak boleh ada dan seseorang terus didorong untuk terlihat baik-baik saja meski sedang menghadapi masalah. Lantas, apa saja tanda toxic positivity dalam hubungan yang perlu diperhatikan?
1. Perasaanmu selalu dianggap berlebihan

Salah satu tanda paling mudah dikenali adalah ketika pasangan atau orang terdekat selalu mengecilkan perasaanmu. Saat kamu sedang kecewa misalnya, dia mungkin mengatakan, “Jangan terlalu dipikirkan,” “Kamu terlalu sensitif,” atau “Masalahnya sebenarnya kecil.”
Alih-alih mencoba memahami apa yang membuatmu terluka, respons tersebut justru membuatmu merasa bahwa emosimu tidak pantas dirasakan. Psikoterapis berlisensi Sherry Gaba, LCSW, menjelaskan bahwa toxic positivity dapat terlihat ketika emosi negatif ditekan dan digantikan dengan optimisme yang tidak sesuai dengan keadaan.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan tidak harus selalu setuju dengan emosimu untuk bisa menghargainya. Kamu boleh merasa kecewa meskipun menurut pasangan masalah tersebut tidak terlalu besar. Perbedaan antara validasi dan persetujuan penting dipahami: validasi berarti mengakui bahwa perasaan tersebut benar-benar kamu alami, bukan berarti pasangan harus menganggap semua tindakanmu benar.
2. Setiap masalah selalu dipaksa untuk dilihat positif

Tanda berikutnya adalah ketika setiap masalah harus segera dicari “sisi positifnya”, bahkan sebelum kamu sempat memproses apa yang terjadi. Kamu baru saja bercerita tentang masalahmu, tetapi respons yang muncul justru, “Setidaknya kamu masih punya pekerjaan,” atau “Anggap saja ini sebagai pelajaran.”
"Berpikir positif menjadi racun ketika diharapkan dapat menghilangkan perasaan negatif. Hal ini dapat diartikan sebagai tuntutan agar kita harus selalu positif dengan mengorbankan perasaan lain," kata psikolog berlisensi Graham Reynolds, PhD. dalam laman Anxiety and Depression Association of America (ADAA).
Mencari sisi positif sebenarnya tidak salah. Yang menjadi masalah adalah waktunya. Seseorang yang sedang terluka mungkin membutuhkan empati terlebih dahulu sebelum dia siap mencari solusi atau melihat hikmah dari sebuah kejadian. Dalam hubungan, respons seperti “Kedengarannya memang berat. Kamu mau cerita lebih banyak?” sering kali lebih membantu daripada langsung mencari alasan mengapa masalah tersebut sebenarnya “tidak terlalu buruk”.
3. Kamu dibuat merasa bersalah karena sedih atau marah

Toxic positivity juga dapat muncul ketika seseorang membuatmu merasa bersalah karena memiliki emosi tertentu. Misalnya, kamu marah karena merasa diperlakukan tidak adil, tetapi pasangan mengatakan bahwa kamu seharusnya bersyukur. Atau ketika kamu sedang sedih, dia justru mengatakan bahwa kamu terlalu negatif dan harus lebih menghargai hal-hal baik dalam hidup.
"Penting untuk diingat, tidak ada ‘emosi buruk.’ Semua emosi itu penting. Emosi memberi tahu kita tentang kebutuhan, keamanan, dan keinginan kita,” kata Amy Brodsky, LISW-S, terapis perilaku dikutip dari Cleveland Clinic.
Artinya, marah, kecewa, takut, atau sedih tidak otomatis membuatmu menjadi pasangan yang negatif. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana emosi tersebut diekspresikan dan bagaimana kamu mengelolanya.
4. Masalah serius ditutupi dengan kalimat motivasi

Kalimat motivasi memang bisa terasa menyenangkan, tetapi bisa menjadi masalah ketika digunakan untuk menghindari pembicaraan mengenai persoalan yang sebenarnya. Misalnya, kamu berulang kali mengeluhkan pasangan yang tidak menghargai batasanmu, tetapi dia terus mengatakan, “Jangan berpikir negatif tentang hubungan kita.” Akhirnya, masalah tidak pernah benar-benar dibicarakan karena semua kritik dianggap sebagai bentuk pesimisme.
"Jika berlebihan, sikap positif menjadi racun dan merampas motivasi kita untuk melakukan perubahan sehat yang seharusnya kita lakukan jika menyadari realitas negatif dan tidak nyaman," kata psikolog klinis Chloe Carmichael, Ph.D. dalam Psychology Today.
Ini menjadi penting terutama jika masalah yang ditutupi berkaitan dengan batasan, rasa tidak aman, kebohongan, penghinaan, atau perilaku yang berulang. Berpikir positif tidak seharusnya membuat seseorang mengabaikan tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
5. Kamu tidak lagi merasa aman untuk bercerita

Tanda yang paling mengkhawatirkan adalah ketika kamu mulai memilih diam karena takut mendapatkan respons yang menghakimi atau terlalu positif. Kamu mungkin berpikir, “Percuma cerita, nanti aku dibilang terlalu sensitif,” atau “Nanti dia malah menyuruhku bersyukur.”
Lama-kelamaan, kamu bisa terbiasa menyimpan masalah sendiri agar tidak dianggap negatif. Karena itu, hubungan yang sehat bukan hubungan yang selalu bahagia dan bebas konflik. Hubungan yang sehat justru memberi ruang bagi dua orang untuk mengatakan, “Aku sedang sedih,” “Aku kecewa,” atau “Aku tidak baik-baik saja,” tanpa langsung dipaksa mengubah perasaannya menjadi positif.
"Jika kita tidak mengizinkan diri kita untuk jujur tentang apa yang kita rasakan, atau mengizinkan orang lain merasa nyaman berbagi perasaan otentik mereka, kita mengorbankan keintiman sejati dan memaksa hubungan untuk mempertahankan kualitas yang dangkal dan tidak otentik," jelas Suzanne Degges-White Ph.D., konselor berlisensi dan profesor di Northern Illinois University dalam Psychology Today.
Jika kamu menemukan beberapa tanda tersebut dalam hubungan, bukan berarti pasangan otomatis menjadi orang yang “toxic”. Seseorang bisa menggunakan kalimat positif karena tidak tahu harus merespons apa, ingin membantu tetapi salah cara, atau merasa tidak nyaman menghadapi emosi negatif.





![[QUIZ] Dari Kebiasaan Upin dan Ipin, Ini Luka yang Diam-diam Membentuk Dirimu Saat Ini](https://image.idntimes.com/post/20250506/1000008112-a9936ff4ece60dc64a0fc7d3e0c841a5.png)





![[QUIZ] Dari Circle Upin dan Ipin, Kamu Sulit Melepaskan Pacarmu karena Sayang atau Takut Sendirian?](https://image.idntimes.com/post/20251129/screenshot-2025-11-29-181336_ab65d75f-901c-48e7-9161-7bbac624e5d7.png)


![[QUIZ] Kamu Overthinking karena Takut Gagal atau Takut Mengecewakan Orang Lain?](https://image.idntimes.com/post/20260727/portrait-young-woman-with-low-self-esteem-sitting-bed-home_a507e4d7-3f55-4c22-bdfd-d0510d292045.jpg)


![[QUIZ] Kalau Jadi Orangtua, Kamu Tipe Orang yang Seperti Apa?](https://image.idntimes.com/post/20260717/drama-sarapan-pagi-hari-anak-anak-mengingatkan_5867f213-360f-472c-8bd3-23f8610dd30f.jpg)
![[QUIZ] Apakah Kamu Masih Membawa Emotional Baggage?](https://image.idntimes.com/post/20260423/uday-mittal-bwktz4yvtma-unsplash_e632f0d9-c2a0-4f30-8b43-a898da993469.jpg)
![[QUIZ] Karakter Kartun Masa Kecil Favoritmu Menggambarkan Tipe Kamarmu](https://image.idntimes.com/post/20260720/screenshot-2026-07-20-10_83544043-51a7-4e6e-b3c0-eb92034d4634.png)
![[QUIZ] Separah Apa Ketakutanmu Menghadapi Hari Senin?](https://image.idntimes.com/post/20260204/pexels-mart-production-7699511_97fc6b45-e0f5-4fd2-99a4-542d41d16167.jpg)