Jamu adalah salah satu warisan leluhur yang sebenarnya masih terus hidup di sekitar kita. Mungkin banyak dari kita menyaksikan jamu dijajakan dari gang ke gang. Tapi di balik itu, jamu diam-diam berada di ambang kepunahan. Orang-orang mungkin masih banyak yang mengonsumsi atau meminumnya. Namun, resep dan cara membuatnya selama ini lebih banyak diturunkan lewat obrolan daripada tulisan. Begitu satu generasi pergi tanpa sempat mewariskan ilmunya, resep itu ikut hilang begitu saja.
Kegelisahan itulah yang justru jadi titik awal perjalanan Intan Rahmaningtyas, Co-Founder Lestari Jamuku, bersama pasangannya bernama Zacky. Berawal dari kebiasaan sederhana mengobrol dengan penjual jamu gendong, keduanya perlahan menyadari bahwa yang mereka hadapi bukan sekadar bisnis minuman kesehatan, melainkan misi menyelamatkan pengetahuan yang nyaris hilang bersama pemiliknya.
Dari kesadaran itu, Lestari Jamuku tumbuh jadi lebih dari sekadar brand jamu. Ia jadi jembatan antara pengetahuan tradisional dan cara pandang generasi muda. Lengkap juga dengan produk yang dikustomisasi, workshop berbasis pengenalan bahan, sampai layanan jamu panggilan yang menyasar pernikahan hingga kantor-kantor di gedung tinggi. Perjalanan itu bahkan sudah dibawa Intan sampai ke Filipina dan China, memperkenalkan jamu sebagai identitas Indonesia di panggung internasional.
IDN Times berkesempatan berbincang langsung dengan Intan Rahmaningtyas secara daring pada Senin (27/7/2026), membahas bagaimana kehilangan seorang penjual jamu gendong bisa berubah jadi misi hidup yang membawanya jauh melampaui bayangannya sendiri.
