Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Intan Rahmaningtyas Lestarikan Jamu hingga ke Panggung Internasional
Intan Rahmaningtyas (dok. Istimewa)
  • Intan Rahmaningtyas dan Zacky mendirikan Lestari Jamuku setelah resep penjual jamu gendong Bude Ris hilang tanpa dokumentasi, menyoroti rapuhnya pewarisan pengetahuan jamu secara lisan.

  • Melalui riset di Karanganyar dan Solo, Lestari Jamuku menghubungkan pengetahuan tradisional dengan pemahaman saintifik, lalu mengenalkan jamu lewat produk, workshop bahan, serta layanan Temu Jamu.

  • Intan memperkenalkan jamu di Filipina dan China sebagai social enterprise Indonesia, sementara Lestari Jamuku meraih Best Social Impact Award Youth Co:Lab National Bootcamp 2024.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jamu adalah salah satu warisan leluhur yang sebenarnya masih terus hidup di sekitar kita. Mungkin banyak dari kita menyaksikan jamu dijajakan dari gang ke gang. Tapi di balik itu, jamu diam-diam berada di ambang kepunahan. Orang-orang mungkin masih banyak yang mengonsumsi atau meminumnya. Namun, resep dan cara membuatnya selama ini lebih banyak diturunkan lewat obrolan daripada tulisan. Begitu satu generasi pergi tanpa sempat mewariskan ilmunya, resep itu ikut hilang begitu saja.

Kegelisahan itulah yang justru jadi titik awal perjalanan Intan Rahmaningtyas, Co-Founder Lestari Jamuku, bersama pasangannya bernama Zacky. Berawal dari kebiasaan sederhana mengobrol dengan penjual jamu gendong, keduanya perlahan menyadari bahwa yang mereka hadapi bukan sekadar bisnis minuman kesehatan, melainkan misi menyelamatkan pengetahuan yang nyaris hilang bersama pemiliknya.

Dari kesadaran itu, Lestari Jamuku tumbuh jadi lebih dari sekadar brand jamu. Ia jadi jembatan antara pengetahuan tradisional dan cara pandang generasi muda. Lengkap juga dengan produk yang dikustomisasi, workshop berbasis pengenalan bahan, sampai layanan jamu panggilan yang menyasar pernikahan hingga kantor-kantor di gedung tinggi. Perjalanan itu bahkan sudah dibawa Intan sampai ke Filipina dan China, memperkenalkan jamu sebagai identitas Indonesia di panggung internasional.

IDN Times berkesempatan berbincang langsung dengan Intan Rahmaningtyas secara daring pada Senin (27/7/2026), membahas bagaimana kehilangan seorang penjual jamu gendong bisa berubah jadi misi hidup yang membawanya jauh melampaui bayangannya sendiri.

1. Perjalanan ini berawal dari jamu gendong

Proses pembuatan jamu tradisional (dok. Istimewa)

Kedekatan Intan dengan jamu berawal dari hal sederhana, yakni kebiasaan berhenti sejenak setiap kali berpapasan dengan penjual jamu gendong. Bareng pasangannya, Intan senang mengajak ngobrol para penjual jamu, entah yang jalan kaki, naik sepeda, atau naik motor.

"Kita kalau misalnya ketemu sama jamu gendong tuh suka kita setop, mau ada yang naik sepeda, jalan kaki, atau naik motor. Kita banyak setop, ngobrol, terus nanya beliau dari mana, terus juga kenalan sama rasa-rasa jamu yang memang setiap jamu gendong itu bakal beda-beda," kata Intan.

Dari sekian banyak penjual jamu gendong yang mereka temui, ada satu nama yang paling melekat, Bude Ris. Sudah lebih dari 20 tahun Bude Ris merantau dari Karanganyar ke Gading Serpong, jualan jamu pagi dan sore sambil membawa keluarganya. Ada beberapa resep dari Bude Ris yang begitu digemari Intan dan Zacky sampai keduanya memberanikan diri untuk minta izin belajar meracik langsung dari beliau.

Niat itu belum sempat terwujud ketika pandemik datang di awal 2020. Intan sempat kehilangan kontak dengan Bude Ris selama tiga bulan dan begitu mereka mencoba menyambangi lagi, kabar yang didapat justru pahit. Bude Ris sudah berpulang beberapa minggu sebelumnya.

"Hal yang baru kami temukan adalah banyak resep-resep jamu yang beliau punya itu tidak pernah dicatatkan, tidak pernah dituliskan, dan gak diwariskan kepada anak dan keluarganya sama sekali," ujar Intan.

Baginya, momen itu bukan cuma kehilangan personal, tapi juga bukti nyata bahwa ekosistem jamu di Indonesia rentan punah karena terlalu bergantung pada tradisi lisan. Dari situlah, keinginan untuk melestarikan jamu tumbuh jadi sesuatu yang lebih serius.

2. Membangun Lestari Jamuku dengan riset langsung ke lapangan

Produk Lestari Jamuku milik Intan Rahmaningtyas (dok. Istimewa)

Kepergian penjual jamu gendong langganannya mendorong Intan untuk turun langsung ke sumbernya di Karanganyar, Solo, tempat banyak resep jamu tradisional masih dipegang oleh petani dan pelaku jamu setempat. Di sanalah, Intan mulai menggali lebih dalam, bukan cuma soal resep, tapi juga proses di baliknya yang selama ini jarang dijelaskan secara tertulis.

Hal yang mereka temukan justru mengejutkan. Banyak proses turun-temurun yang ternyata punya landasan scientific kuat, meski tidak pernah didokumentasikan di buku mana pun. Salah satunya proses menyangrai beras untuk beras kencur selama enam sampai tujuh jam.

"Oh, ternyata leluhur kita tuh punya banyak banget titah atau tradisi atau ilmu yang diturunkan, yang dulu tuh gak ada datanya, tapi sekarang seiring dengan modernisasi jadi tergambarkan," kata Intan.

Bagi Intan dan pasangan yang sama-sama tumbuh besar di kota, temuan semacam ini terasa seperti sesuatu yang lebih dari sekadar tradisi. Ini justru menjadi bukti bahwa apa yang diwariskan leluhur memang dirancang untuk menghidupi generasi berikutnya. Dari sanalah, lahir keyakinan bahwa Lestari Jamuku bisa jadi jembatan.

"Aku rasa mungkin Lestari Jamuku tuh bisa jadi jembatan, antara traditional knowledge dan scientific understanding, pemahaman secara saintifik yang bisa diterima sama masyarakat muda," ujarnya. Keyakinan itu makin kuat setelah masa uji pasar di akhir 2022, menunjukkan antusiasme yang jauh melebihi ekspektasi mereka walau produknya belum resmi diluncurkan.

3. Bersama Lestari Jamuku, Intan mencoba menerjemahkan jamu untuk generasi sekarang

Produk Lestari Jamuku milik Intan Rahmaningtyas (dok. Istimewa)

Menjual produk jadi pintu masuk pertama Lestari Jamuku untuk mendekati komunitas, sebelum akhirnya di akhir 2023 mereka membuka jasa workshop atas permintaan orang-orang yang ingin belajar bikin jamu sendiri. Bedanya, workshop yang dibangun Intan tidak sekadar berbagi resep.

"Kita di sini gak hanya ngajarin resep terus belajar bikin sampai selesai, tapi lebih kepada lama banget tuh di sensing-nya. Mereka belajar mengenali bahannya dulu, baru mulai masuk sesi ke resep sebagai patokan," jelas Intan.

Peserta diajak mengenali bahan lewat indra, mulai dari tekstur kunyit, warna, sampai bagian mana yang sebaiknya dipakai sebelum akhirnya resep bisa dikustomisasi sesuai lidah masing-masing. Selain produk dan workshop, sejak 2024 Lestari Jamuku juga mengembangkan layanan bernama Temu Jamu, semacam adaptasi modern dari konsep jamu gendong door to door.

"Gimana kalau kita juga melakukan hal yang sama tapi dari dimensi yang beda? Contohnya sekarang kita dari wedding ke wedding, dari office ke office," katanya. "Bedanya, kalau dulu jamu gendong keliling dari rumah ke rumah, sekarang Lestari Jamuku hadir dari pernikahan ke pernikahan, dari kantor ke kantor, sampai ke acara peluncuran produk yang tamunya banyak dihadiri ekspatriat," lanjut Intan.

4. Membawa jamu hingga ke panggung internasional

Intan Rahmaningtyas saat memperkenalkan jamu di The Youth Collab Summit 2024 (dok. Istimewa)

Intan sudah dua kali punya kesempatan memperkenalkan jamu secara langsung ke audiens internasional, di Filipina pada 2024 dan di China pada akhir 2025. Kesempatan ini datang lewat jaringannya dengan UNDP dan badan-badan PBB, hasil dari rekam jejak Lestari Jamuku yang pernah menang program inkubasi.

Salah satu strategi Intan adalah mengganti framing dari sekadar UMKM menjadi social enterprise ketika presentasi di forum internasional. Membawa jamu ke luar negeri pun ternyata tidak semudah kelihatannya secara logistik. Di Filipina, Intan bahkan harus meracik jamu langsung di kamar hotel karena keterbatasan bahan yang bisa dibawa. Ke China, ia terpaksa meninggalkan bakul karena kendala bagasi dan hanya membawa bahan-bahan serta lumpang.

Untuk menjembatani bahasa dan budaya, Intan memilih penjelasan paling sederhana ketika memperkenalkan jamu di ranah internasional.

"It's like a shot, it's like a juice, but it's for your healthy, and it's from Indonesia," ujarnya menirukan caranya mengenalkan jamu ke orang asing.

Penjelasan rasa dan manfaat kesehatan baru menyusul kalau ada yang bertanya lebih jauh. Pendekatan visual, mulai dari kostum kebaya sampai lumpang yang dibawa langsung, menurutnya jadi daya tarik pertama sebelum orang benar-benar mencicipi.

5. Tantangan di balik misi besar terus ditemui, namun pada akhirnya berbuah manis

Intan Rahmaningtyas saat melangsungkan workshop (dok. Istimewa)

Di awal membangun bisnis, Intan sempat menghadapi stigma bahwa anak muda yang terjun ke bisnis jamu dianggap cuma coba-coba. "Jangan-jangan ini cuma buat happy-happy kali, bukan buat kerjaan," kata Intan menirukan anggapan yang kerap ia dengar. Belum lagi ditambah stereotip bahwa peracik jamu seharusnya orang Jawa asli. Stigma ini menurutnya tidak terlalu mengganggu, tapi ia sadar tidak semua anak muda yang ingin masuk ke bisnis serupa, punya mentalitas untuk bertahan menghadapinya.

Tantangan teknis juga tidak kalah berat. Salah satu resep andalan mereka, beras kencur, awalnya hanya bertahan kurang dari satu hari begitu sampai di Jakarta. Intan dan pasangannya harus bolak-balik ke desa, mengumpulkan cerita dari warga yang sudah turun-temurun membuat beras kencur untuk mencari cara mengawetkannya tanpa menghilangkan rasa aslinya.

"Beras kencur sekarang bertahan sampai 10 hari. Menu-menu lain bisa sampai 14 sampai 20 hari," ujar Intan soal hasil trial and error panjang yang mereka lalui.

Belum lagi soal kemasan kaca yang digunakan Lestari Jamuku, yang menurut Intan masih jadi PR karena rentan pecah selama pengiriman. Baginya, yang paling menyedihkan bukan soal kerugian material, tapi ketika jamu yang sudah dinanti pelanggan tidak sampai dalam kondisi utuh. Meski begitu, Intan tidak berhenti di situ. Ia terus menciptakan inovasi, baik dari sisi produk, layanan, maupun cara Lestari Jamuku menjangkau lebih banyak orang, karena baginya perjalanan melestarikan jamu masih jauh dari kata selesai.

Kerja keras itu kini mulai terlihat hasilnya. Lestari Jamuku telah memiliki lebih dari 11,5 ribu pengikut di Instagram, sebuah angka yang mencerminkan betapa produk dan misi mereka mulai dikenal luas. Tak hanya itu, Lestari Jamuku juga berhasil masuk sebagai salah satu dari 10 social business terbaik dari 25 peserta dan memenangkan Best Social Impact Award di Youth Co:Lab National Bootcamp 2024. Selain itu, Intan bersama Zacky bahkan membawakan TEDx Talk bertajuk Every Glass of Jamu Starts a Conversation. Seluruhnya menjadi bukti bahwa jamu bukan sekadar minuman, melainkan sebuah percakapan tentang warisan, identitas, dan masa depan.

Dengan segala pembelajaran dan pengembangan, perlahan Intan mulai menemukan berbagai solusi untuk segala tantangan itu. Setelah bertahun-tahun membangun Lestari Jamuku, Intan mengaku banyak idealisme semasa dulu yang luntur. Ia dulu membayangkan diri jadi orang yang berdampak lewat produk besar atau keliling banyak negara. Namun, perjalanannya justru mengajarkan hal sebaliknya.

Intan justru belajar, membangun hal besar justru dimulai dari memperhatikan hal-hal kecil di sekeliling kita. Buktinya, dari hal sekecil menikmati jamu gendong, Intan menemukan hal lebih besar. Bukan hanya untuk bisnisnya, tapi juga pengembangan dirinya sendiri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article