Budaya diam terhadap pelecehan bukanlah fenomena baru. Sejak dulu, korban sering dipaksa bungkam oleh norma, tekanan sosial, bahkan keluarga sendiri. Menariknya, jauh sebelum istilah victim blaming atau toxic culture populer, pemikiran Raden Ajeng Kartini sudah lebih dulu mengusik akar masalah ini.
Melalui surat-suratnya, Kartini meninggalkan jejak intelektual yang tidak hanya berbicara tentang emansipasi. Tetapi juga keberanian melawan pelecehan yang membungkam suara. Berikut lima jejak intelektual Kartini yang secara tidak langsung membongkar budaya diam atas pelecehan.
