Akhirnya Nyak Sandang Bisa Melihat Lagi

Jakarta, IDN Times - Harapan Nyak Sandang untuk bisa melihat kembali akhirnya terkabul. Pria asal Aceh yang pernah menemui Presiden Joko "Jokowi" Widodo pada Rabu (21/3) di Istana Kepresidenan, sukses menjalani operasi katarak di RSPAD Gatot Subroto.
Operasi dilakukan pada Rabu (28/3) dan dipimpin oleh Kepala Departemen Mata RSPAD Gatot Soebroto, dr. Subandono Bambang Indrasto, SpM, MM. Tindakan operasi dimulai pukul 08:30 WIB. Prosesnya hanya memakan waktu 30 menit.
Lalu, apa komentar Nyak Sandang usai berhasil melihat kembali?
1. Ditunjukan foto bersama Presiden Jokowi

Usai bisa melihat kembali, pria berusia 91 tahun itu langsung ditunjukan foto bersama dengan Presiden Jokowi ketika berkunjung ke Istana. Dalam sebuah foto yang diunggah ke akun resmi Facebook mantan Gubernur DKI itu, terlihat jari telunjuk Nyak Sandang menunjuk ke diri sendiri di foto. Eksepresi wajahnya seolah mengesankan rasa tidak percaya pernah berfoto bersama dengan orang nomor satu di Indonesia.
"Saya Maturidi mewakili keluarga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Presiden atas bantuannya, salah satunya adalah pengobatan mata ayah Nyak Sandang," ujar Maturidi yang ditemui Biro Pers Sekretariat Presiden di ruang paviliun Kartika, RSPAD Gatot Soebroto pada Kamis (29/3) dan tertuang dalam keterangan tertulis.
2. Retina Nyak Sandang mengalami degenerasi karena faktor usia

Menurut dr. Subandono, operasi dilakukan terhadap dua mata. Hanya saja operasi katarak yang dilakukan di mata kiri. Sebab, kataraknya cukup keras sehingga dokter tidak bisa menilai bagian syaraf atau bagian belakang bola mata. Tapi, katarak di mata kiri adalah katarak matur," kata Subandono.
Sementara, mata kanan juga sempat dioperasi tapi retinanya sudah mengalami penurunan fungsi, karena faktor usia.
"Hasil operasinya cukup bagus," ujarnya lagi.
3. Jarak pandang membaik menjadi lima meter

Saat dicek mengenai jarak pandang, kondisinya juga semakin membaik. Kalau sebelum dioperasi hanya bisa melihat objek dengan jarak 15-20 centimeter, maka pasca dioperasi Nyak Sandang sudah bisa melihat hingga jarak 1 meter.
"Lalu, ketika di kamar tadi bisa (melihat hingga jarak) 5 meter. Harapan kami ke depannya kondisi mata Nyak Sandang bisa membaik walaupun tidak 100 persen," kata dr. Subandono.
Menurut dokter, untuk proses pemulihan, masih akan memakan waktu 2-3 hari. Dokter menjadwalkan Nyak Sandang untuk kontrol lagi seminggu pasca operasi. Usai bisa melihat dengn lebih jelas, ia mengaku ingin kembali bertemu Jokowi. Salah satunya, untuk mengucapkan terima kasih secara langsung.
"Kalau kemarin bisa pegang tangan, diusap-usap tapi tidak bisa melihat. Mungkin besok bisa melihat lebih sempurna," kata anaknya, Maturidi.
4. Dapat salam dari Presiden Jokowi

Kondisi kesehatan Nyak Sandang kemudian dilaporkan kepada ajudan Presiden, Kolonel (Inf) Deddy Suryadi. Jokowi tidak bisa menjenguk langsung karena tengah melakukan kunker di Madiun.
"Sampaikan salam saya untuk Nyak Sandang," ujar Kolonel Deddy menirukan ucapan Jokowi.
5. Nyak Sandang juga ingin naik haji

Hal lain yang sempat diminta kepada Jokowi yakni ingin bisa naik haji ke Saudi. Tetapi, Jokowi ketika itu mengatakan akan berkoordinasi lebih dulu dengan Menteri Agama. Sebab, naik haji harus masuk ke dalam daftar antri.
Sambil menunggu keputusan itu, Jokowi menawari Nyak Sandang untuk berumrah lebih dulu.
"Nanti saya bicarakan dengan Menteri Agama, karena haji kan ada daftar antrinya," kata Jokowi pada Rabu pekan lalu.
Nama Nyak Sandang menjadi perbincangan publik, karena ikut patungan untuk membeli pesawat pertama Indonesia pada tahun 1950 lalu. Bersama orang tuanya, Nyak Sandang menjual sepetak tanah dan 10 gram emas.
Nyatanya, aksi gotong royong itu dilakukan oleh warga Aceh lainnya. Setelah dikumpulkan, nyatanya warga Aceh bisa mengumpulkan uang senilai SGD 120 ribu dan 20 kilogram emas. Dana itu kemudian diberikan kepada Presiden Soekarno.
Bermodalkan dana tersebut, Soekarno kemudian membeli dua pesawat terbang yang dinamai Seulawah R-001 dan Seleuwah R-002. Sebagai bukti ikut menyumbang, Nyak Sandang sempat membawa bukti obligasi Pemerintah Indonesia tahun 1950 lalu.


















