Pemerintah Sebut Masyarakat Adat Harus Jadi Kunci Pembangunan Papua

- Pemerintah menegaskan pembangunan Papua harus berpusat pada masyarakat adat agar kesejahteraan mereka meningkat dan manfaat pembangunan terasa nyata di kehidupan sehari-hari.
- Paulus Waterpauw menekankan pentingnya dialog terbuka dengan masyarakat adat untuk membangun kepercayaan serta menjaga stabilitas sosial selama pelaksanaan proyek strategis nasional di Papua.
- Pemekaran wilayah dinilai mempercepat pemerataan pembangunan hingga pelosok, menghadirkan infrastruktur yang mendukung aktivitas ekonomi dan memperluas akses layanan publik bagi masyarakat adat.
Jakarta, IDN Times - Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Paulus Waterpauw mengatakan, pembangunan Papua harus menjadikan orang asli Papua sebagai pusat utama pembangunan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari besarnya proyek nasional maupun investasi yang masuk, melainkan dari sejauh mana masyarakat dapat merasakan perubahan positif terhadap kesejahteraan mereka.
Pembangunan di Papua disebut berkomitmen menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat adat melalui berbagai program infrastruktur, ekonomi, dan penguatan sumber daya manusia. Kebijakan pembangunan dijalankan pemerintah tidak hanya bertujuan mempercepat kemajuan daerah, tapi juga memastikan masyarakat asli Papua memperoleh manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
1. Pendekatan dialog jadi langkah penting untuk bangun kepercayaan masyarakat

Paulus menilai pelaksanaan Proyek Strategi Nasional (PSN) di sejumlah wilayah Papua seperti Asmat, Mappi, Merauke, dan Boven Digoel perlu dibangun melalui komunikasi yang terbuka dengan masyarakat adat. Ia menegaskan pendekatan dialog menjadi langkah penting untuk membangun kepercayaan masyarakat sekaligus menjaga stabilitas sosial di tengah proses pembangunan yang terus berlangsung.
“Jika satu kali berbicara belum berhasil, berbicara lagi. Jika dua kali belum berhasil, maka dilakukan ketiga kalinya. Dialog yang dilakukan terus menerus dengan hati yang tulus pada akhirnya akan menemukan titik temu,” ujar Paulus dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).
2. Persoalan kemiskinan ekstrem masih menjadi tantangan besar di Papua

Paulus menyoroti bahwa persoalan kemiskinan ekstrem masih menjadi tantangan besar di Papua. Ia menyebut peningkatan kesejahteraan masyarakat akan berdampak langsung terhadap kondisi keamanan dan stabilitas sosial di daerah tersebut.
“Kalau perut kenyang, penghasilan ada, maka pikiran tenang dan orang bisa bekerja dengan baik,” katanya.
Sementara, Ketua Badan Musyawarah Adat Provinsi Papua Tengah, Melkisedek Rumawi menyampaikan, pembangunan di Papua saat ini telah membawa perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat adat. Ia melihat kemajuan pembangunan di Nabire menjadi salah satu bukti bahwa pembangunan mampu mendorong pertumbuhan daerah dan meningkatkan aktivitas masyarakat.
3. Pemekaran wilayah yang mempercepat pemerataan pembangunan hingga ke daerah pelosok

Menurutnya, masyarakat adat menerima pembangunan Papua karena manfaatnya dapat dirasakan secara langsung, terutama sejak adanya pemekaran wilayah yang mempercepat pemerataan pembangunan hingga ke daerah pelosok. Infrastruktur yang dibangun pemerintah dinilai membantu masyarakat dalam mengembangkan aktivitas ekonomi serta memperluas akses pelayanan publik.
“Masyarakat adat di wilayah pelosok dapat terbantu dari pembangunan infrastruktur dari pemerintah sehingga memudahkan masyarakat Papua untuk mengelola ekonomi,” kata Melkisedek.



















