Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Awal Musim Hujan Melambat, BMKG Imbau Antisipasi Dampak Perubahan Cuaca

4 min read
Awal Musim Hujan Melambat, BMKG Imbau Antisipasi Dampak Perubahan Cuaca
BMKG gelar konferensi pers ‘Prediksi Musim Hujan’ di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta pada Selasa (22/9/2026) (Dok. BMKG Indonesia)
  • BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di Jawa terlambat: sebagian wilayah mulai November, mayoritas Desember 2026, dipengaruhi El Niño kuat dan IOD positif.

  • Puncak hujan Jawa berlangsung bertahap, sebagian kecil pada Januari dan mayoritas Februari 2027; Bali, NTB, NTT, serta Papua juga diperkirakan mencapai puncak pada Februari.

  • Musim hujan diprediksi lebih singkat tetapi normal hingga basah, sehingga risiko cuaca ekstrem, banjir, dan longsor tetap perlu diwaspadai; BMKG meminta antisipasi kekeringan, karhutla, dan pengelolaan air.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan periode 2026/2027 akan didominasi pada bulan Januari hingga Februari. Bersama dengan ini, awal musim hujan diperkirakan akan mengalami keterlambatan dari rerata biasanya di sebagian besar wilayah Indonesia.

Hal ini disebabkan oleh fenomena El Nino yang sangat kuat dan IOD positif. Khususnya di Pulau Jawa, periode puncak musim hujan tidak terjadi secara serentak, melainkan bergeser dan didominasi pada awal tahun 2027.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 Samudra Pasifik pada akhir bulan Agustus 2026 sebesar +2,83 dengan nilai indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) sebesar +2,63, yang mengindikasikan El Nino sangat kuat. Sementara di Samudra Hindia, tercatat indeks IOD bulan Agustus +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” tegas Faisal pada konferensi pers ‘Prediksi Musim Hujan’ di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta pada Selasa (22/9/2026), yang dilansir bmkg.go.id.

  1. 1. Awal musim hujan diprediksi terlambat, mulai pada November–Desember 2026

    Prakiraan Cuaca, Cuaca Jakarta, ilustrasi hujan
    Sejumlah pengendara melintas di Jalan Mayjen Sutoyo, Jakarta Timur, saat hujan melanda, Senin (19/1/2026). (IDN Times/Rochmanudin)

    Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menyebutkan, sebelum mencapai puncaknya, musim hujan di wilayah Jawa akan tiba secara bertahap pada akhir tahun. Sebagian wilayah Jawa akan memulai musim hujan pada November 2026, sedangkan sebagian besar wilayah Jawa lainnya baru mengalami musim hujan pada Desember 2026.

    Pada Desember 2026, puncak musim hujan di wilayah Jawa terjadi bersamaan dengan wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Sebagian besar daratan Jawa pada bulan ini masih berada dalam fase transisi menuju intensitas hujan yang lebih tinggi.

  2. 2. Februari 2027 menjadi puncak musim hujan di wilayah Jawa, Bali, NTB, NTT, dan Papua

    Titik genangan di Jakarta usai hujan deras
    Lalu lintas di Jakarta usai dilanda hujan deras, Senin (12/1/2026) pagi. (IDN Times/Rochmanudin)

    Memasuki Januari 2027, cakupan wilayah yang mengalami puncak musim hujan mulai meluas, namun hanya sebagian kecil wilayah Jawa yang diprediksi mendapatkan intensitas hujan lebih tinggi dari bulan Desember 2026.

    Wilayah selain Jawa yang mengalami puncak musim hujan pada bulan ini meliputi Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian kecil Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra Selatan bagian barat, Lampung bagian utara, Bali bagian tengah, NTB bagian barat, sebagian NTT, sebagian Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian kecil Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian Sulawesi, sebagian kecil Maluku Utara, Maluku bagian barat, dan sebagian Pulau Papua

    Lebih lanjut, berdasarkan pantauan BMKG, periode hujan pada Februari 2027 menjadi waktu yang krusial. BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Jawa akan mengalami puncak musim hujan pada bulan ini. Selain Jawa, puncak hujan di bulan Februari meliputi sebagian besar Bali, NTB, NTT, dan wilayah Pulau Papua.

  3. 3. Durasi hujan lebih singkat, tapi masyarakat diimbau tetap waspada bencana

    IMG_20251207_225206.jpg
    Ilustrasi hujan dan cuaca ekstrem di NTT. (IDN Times/Putra Bali Mula)

    Direktur Perubahan Iklim BMKG, A. Fachri Radjab mengungkapkan, salah satu indikasi adanya dampak El Nino adalah kekeringan yang dialami beberapa wilayah di Indonesia. Berdasarkan hasil monitoring perkembangan musim, sebanyak 556 ZOM yang mencakup 61,91 persen dari luas daratan Indonesia saat ini sedang mengalami musim kemarau.

    Data menunjukkan terdapat banyak titik pengamatan yang melaporkan kondisi hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari yang tersebar di 25 provinsi–dengan HTH terpanjang saat ini di wilayah Bantul yaitu 131 hari (>4 bulan).

    Kombinasi fenomena El Nino dan IOD ini membuat durasi musim hujan 2026/2027 di Jawa diprediksi lebih pendek dari rerata normalnya. Meski periode hujannya lebih singkat, sifat hujannya diperkirakan tetap normal hingga basah. Oleh karena itu, potensi cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor di awal tahun 2027 tetap wajib diwaspadai.

    Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menyatakan bahwa curah hujan yang akan tiba perlu menjadi perhatian bersama.

    “Meski diprediksi lebih singkat, musim hujan 2026/2027 umumnya bersifat normal pada 510 ZOM (69,76 persen luas daratan Indonesia). Perlu menjadi perhatian bagi 147 ZOM (18,55 persen luas daratan Indonesia) karena sifatnya hujannya lebih basah serta hanya 42 ZOM (11,69 persen) diprediksi akan bersifat bawah normal atau lebih kering,” tuturnya,

  4. 4. BMKG imbau antisipasi dampak perubahan cuaca

    Galian lubang drainase ditengah jalan Urip Sumoharjo Makassar. (IDN Times Sulsel/Dahrul Amri)
    Galian lubang drainase ditengah jalan Urip Sumoharjo Makassar. (IDN Times Sulsel/Dahrul Amri)

    Mengingat kondisi kering yang masih terjadi saat ini, BMKG mengimbau kementerian/lembaga, pemerintah daerah, institusi terkait, dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipatif guna mengoptimalkan sumber daya yang ada di tengah keterbatasan air.

    BMKG menganjurkan beberapa hal fundamental untuk menghadapi dinamika perubahan cuaca saat ini. Pertama, sektor lingkungan dan kesehatan harus menyiapkan mekanisme respons terhadap kondisi kualitas udara yang kurang sehat berkepanjangan akibat mundurnya awal musim hujan.

    Kedua, BMKG mengingatkan seluruh pihak untuk tetap waspada terhadap kekeringan dan karhutla, terutama pada September-Oktober.

    Ketiga, BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk memanfaatkan informasi Prediksi Musim Hujan 2026/2027 ini sebagai acuan Peringatan Dini (Early Warning) untuk merancang dan mengeksekusi Aksi Dini (Early Action).

    Faisal selaku kepala BMKG juga turut menekankan pentingnya pengelolaan drainase dan konservasi air.

    “Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan diimbau mengidentifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor, serta mengoptimalkan pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan,” tutur Faisal.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More