Bantuan kiriman BNPB untuk warga terdampak gempa NTT (dok. BNPB)
Muatan yang dikirim mencakup selimut, matras, tenda keluarga, tenda pengungsi, kasur lipat, motor trail, pakaian BNPB, sembako dan kelambu. BNPB juga menyiapkan alternatif distribusi melalui jalur laut untuk mengirim bantuan dalam jumlah besar menuju Labuan Bajo. Pada Sabtu (22/8), Plt. Direktur Operasi, Jaringan dan Logistik Penanggulangan Bencana BNPB Brigjen TNI Hery Setiono mengecek kesiapan sekaligus mendampingi proses pemuatan bantuan di Pelabuhan Tanjung Priok, Dermaga IKT.
"Jalur laut menjadi salah satu pilihan untuk mengangkut bantuan dalam volume besar menuju wilayah terdampak," ucap dia.
Pengecekan dilakukan untuk memastikan seluruh bantuan siap dimuat sebelum diberangkatkan menggunakan KRI Semarang-594 ke Labuan Bajo. Pengiriman dengan kapal diharapkan dapat membantu memperkuat mobilisasi logistik dalam jumlah besar.
"Persiapan pengiriman dilakukan secara menyeluruh agar proses mobilisasi bantuan berjalan lancar dan dapat mendukung kebutuhan masyarakat di wilayah tujuan," kata Berton.
Dalam agenda tersebut, dukungan bantuan dari Kementerian Perhubungan juga diserahkan. Donasi tersebut diwakili Direktur Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, Teguh Jalu Waskito.
"Kolaborasi dari berbagai kementerian dan lembaga menjadi bagian penting dalam memperkuat dukungan logistik untuk penanganan bencana," ujar Berton.
KRI Semarang-594 dijadwalkan membawa 146.771 kilogram atau sekitar 147 ton bantuan pada Minggu (23/8). Sebanyak 16 truk disiapkan untuk mengangkut logistik yang terdiri dari sembako, mi cup, tenda pleton, selimut, velbed, beras, biskuit, air mineral, makanan ringan, pasta gigi, sikat gigi, popok, pembalut, kasur lipat, minyak goreng dan mi instan.
"Pengiriman melalui KRI Semarang-594 diharapkan dapat memperkuat pasokan bantuan dalam jumlah besar menuju Labuan Bajo," kata Berton.
Pos Pendukung Logistik Nasional Halim Perdanakusuma masih menyimpan 587.012 kilogram atau sekitar 587 ton bantuan yang dapat dikirim sesuai perkembangan kebutuhan masyarakat di daerah terdampak.
"Stok yang masih tersedia akan terus dikelola dan disalurkan sesuai kebutuhan yang teridentifikasi di lapangan," tutur Berton.
Persediaan tersebut terdiri atas berbagai kebutuhan, seperti paket sembako, beras, mi instan dan mi cup, biskuit, air mineral, susu, makanan siap saji, selimut, matras, velbed, terpal, kasur lipat, tenda, obat-obatan, perlengkapan bayi, kebutuhan kebersihan serta peralatan untuk mendukung operasi darurat.
"Jenis logistik yang tersedia cukup beragam, mulai dari kebutuhan pangan hingga perlengkapan pendukung penanganan darurat," ujar Berton.
Sejumlah bantuan yang masih tersedia antara lain 12 ribu dus mi instan, 1.785 velbed, 25 tenda pleton dan 12.530 lembar selimut serta 1.639 matras dari Kementerian Pertahanan. Selain itu, terdapat 3.450 dus biskuit dan 8.756 paket sembako dari Sekretariat Presiden, serta perlengkapan bayi, peralatan dapur, matras, terpal dan hygiene kit dari PMI.
"BNPB terus memantau ketersediaan stok agar distribusi berikutnya dapat diarahkan berdasarkan kebutuhan prioritas di wilayah terdampak," kata Berton.
Selain mengandalkan jalur laut, BNPB kembali menyiapkan pengiriman bantuan melalui udara pada Minggu (23/8/2026). Tiga penerbangan, terdiri dari satu Airbus dan dua Boeing, disiapkan dengan total muatan 36.892 kilogram atau sekitar 37 ton.
"Distribusi udara kembali disiapkan untuk menjaga kelancaran pasokan bantuan ke Labuan Bajo dan Maumere," ujar Berton.
Pesawat Airbus A-400 yang menuju Labuan Bajo dijadwalkan membawa 21.012 kilogram bantuan berupa sembako, Fitbar, Soyjoy, biskuit, roti, susu, makanan siap saji dan tenda pengungsi. Boeing A-7305 menuju Maumere membawa 7.442 kilogram bantuan yang terdiri dari sembako, perlengkapan kebersihan, kebutuhan pribadi, obat-obatan, air mineral, biskuit, tenda dan sejumlah kebutuhan lainnya.
Sementara itu, Boeing A-7036 yang juga menuju Maumere membawa 8.438 kilogram bantuan berupa sembako, Fitbar, Soyjoy, biskuit, roti dan susu.
"BNPB terus mengatur pola distribusi agar bantuan yang tersedia dapat segera dimobilisasi dan diterima masyarakat terdampak," ucap Berton.
Dalam keseluruhan proses tersebut, BNPB menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, kementerian dan lembaga, BUMN, sektor usaha, organisasi kemanusiaan serta berbagai mitra. Kerja sama lintas sektor diperlukan untuk memastikan pergerakan bantuan tetap sesuai dengan kebutuhan di lapangan.