Bulan Solidaritas Palestina, Bendera Berkibar di Sungai Terpanjang Indonesia

- Nur Hadis ajak masyarakat Kalimantan Barat dukung Palestina
- Bulan Solidaritas Palestina berlangsung sepanjang November sejak 2022
- Peringatan Hari Solidaritas Internasional Bersama Rakyat Palestina di tengah gencatan senjata
Jakarta, IDN Times - Dalam rangkaian Bulan Solidaritas Palestina (BSP) 2025, Aqsa Working Group (AWG) menggelar aksi pengibaran bendera Indonesia-Palestina di aliran Sungai Kapuas bersama masyarakat Kalimantan Barat, pada Jumat (28/11/2025) mulai pukul 13.30 WITA hingga selesai.
Sungai Kapuas sebagai salah satu ikon utama Pontianak, menjadi saksi bahwa masyarakat Kalimantan Barat tidak tinggal diam terhadap penderitaan rakyat Palestina. Aksi ini menjadi bentuk dukungan moral yang diwujudkan melalui pengibaran bendera di kapal-kapal yang menyusuri Sungai Kapuas.
Ketua BSP 2025 Nur Hadis mengatakan, aksi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud komitmen Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina dan penolakan terhadap penindasan yang dilakukan Zionis Israel.
"Aksi ini adalah pesan dari hati masyarakat Kapuas bahwa penderitaan Palestina adalah duka kita, dan perjuangan mereka adalah kehormatan kita untuk kita suarakan," ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (29/11/2025).
1. Bergerak berjamaah untuk bebaskan Masjid Al-Aqsa dan Kemerdekaan Palestina

Nur Hadis mengajak seluruh komunitas, pemuda, pelajar, mahasiswa, tokoh adat, organisasi masyarakat, dan pecinta kemanusiaan untuk hadir bersatu, menunjukkan bahwa Kapuas berdiri bersama Palestina.
Ia juga menegaskan, di tengah tragedi kemanusiaan yang menimpa Gaza, suara Kalimantan Barat harus turut hadir. Sungai Kapuas — simbol persatuan dan keteguhan masyarakat Borneo — menjadi tempat yang tepat untuk menyuarakan dukungan tersebut.
Dia berharap, kegiatan ini menjadi momentum kolektif masyarakat Kalimantan Barat untuk berpartisipasi aktif dalam aksi kemanusiaan global. Hal ini sejalan dengan tema BSP 2025, yaitu "Bergerak Berjamaah demi Pembebasan Masjid Al-Aqsa dan Kemerdekaan Palestina.
2. Bulan Solidaritas Palestina berlangsung sepanjang November sejak 2022

BSP adalah program tahunan AWG yang berlangsung sepanjang November sejak 2022, setelah sebelumnya digelar dalam bentuk Pekan Solidaritas Palestina pada 2021.
Bulan November dipilih karena sejumlah momentum bersejarah Palestina terjadi pada bulan ini: Deklarasi Balfour (2 November 1917), wafatnya Yasser Arafat (11 November 2004), Hari Kemerdekaan Palestina (15 November 1988), wafatnya Izzuddin Al-Qassam (20 November 1935), dan Hari Solidaritas Internasional untuk Palestina (29 November 1947).
Tema BSP 2025 adalah “Bergerak Berjamaah Bangun Kembali Gaza Demi Pembebasan Masjid Al-Aqsa dan Kemerdekaan Palestina.”
Rangkaian Bulan Solidaritas Palestina diisi dengan sejumlah kegiatan antara lain pengibaran bendera Indonesia-Palestina di gunung-gunung di Indonesia, Solidarity Run for Palestine, Apel 1.000 Relawan Kemanusiaan, pengibaran bendera Indonesia-Palestina di Sungai Kapuas dan Mahakam.
Ada juga Festival Baitul Maqdis, bedah buku, seminar, Daurah Baitul Maqdis, dan lainnya yang dilaksanakan selama sebulan penuh di hampir seluruh wilayah Indonesia.
3. Tanggal 29 November diperingati sebagai Hari Solidaritas Internasional Bersama Rakyat Palestina

Diketahui, tiap 29 November diperingati sebagai Hari Solidaritas Internasional Bersama Rakyat Palestina. Namun, peringatan tahun ini berbeda lantaran dilakukan di tengah gencatan senjata, di mana rakyat Palestina harus bertahan hidup selama dua tahun terakhir dari genosida Israel.
Dikutip dari situs resmi PBB pada Sabtu (29/11/2025), Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, setidaknya puluhan ribu warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel. Sementara ribuan korban lainnya diperkirakan masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan.
"Para penyintas terkena penyakit, kelaparan, dan mengalami trauma. Sementara sekolah, rumah dan rumah sakit hancur," kata Guterres.
Di saat yang sama, ratusan pekerja kemanusiaan ikut tewas terbunuh di Palestina. Mayoritas korban tewas merupakan staf PBB asal Palestina. "Kejadian itu menandakan kehilangan terbesar personel dalam sejarah organisasi," tutur dia.
Jumlah jurnalis yang tewas di Palestina juga lebih banyak bila dibandingkan Perang Dunia ke-2. Di sisi lain, kata Guterres, ketidakadilan terus berlanjut di daerah penjajahan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Israel masih melakukan operasi militer di sana. Belum lagi penjajahan dan pengambilalihan wilayah masih terus berlangsung.

















