Mudik Lebaran 2026, Mendes Yandri: Momen Kebangkitan Ekonomi Desa

- Mendes Yandri mengajak pemudik Lebaran 2026 menjadikan arus mudik sebagai momentum kebangkitan ekonomi desa dengan membeli dan mempromosikan produk lokal.
- Yandri menekankan pentingnya peran pemudik sebagai subjek pembangunan desa, sejalan dengan visi Asta Cita keenam Presiden Prabowo untuk pemerataan ekonomi dari desa.
- Menko PMK Pratikno memprediksi lebih dari 143 juta orang akan mudik tahun ini, dengan puncak arus pada 18 Maret dan arus balik pada 29 Maret 2026.
Jakarta, IDN Times - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, mengimbau para pemudik yang akan pulang ke kampung halaman pada momentum Idul Fitri tahun ini, agar tidak sekadar melepas rindu. Ia berharap kehadiran puluhan juta pemudik dapat menjadi momentum kebangkitan ekonomi dan percepatan pembangunan di desa.
Yandri meyakini, arus mudik akan membawa dampak instan berupa perputaran uang di tingkat akar rumput. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan ekonomi pasca-Lebaran.
"Kalau nanti pulang mudik, ya pulang harus balik, kalau mau beli oleh-oleh ya kami sarankan untuk beli produk desa lah, kira-kira begitu. Bawa ke kota, biar ini jadi momen kebangkitan ekonomi di desa," ujar Yandri saat silaturahmi bersama jurnalis di rumah dinasnya, Jakarta, Senin (16/3/2026).
1. Mengawal Asta Cita dari kampung halaman

Lebih jauh, Yandri menyoroti peran strategis pemudik sebagai subjek pembangunan. Menurutnya, pemudik yang mayoritas bekerja di perkotaan memiliki bekal literasi, pengalaman, dan jaringan yang sangat dibutuhkan untuk memajukan desa asal mereka.
Hal ini, lanjut Yandri, sejalan dengan visi Asta Cita keenam Presiden Prabowo Subianto, yakni membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi. Politikus PAN itu juga mendorong para pemudik untuk ikut memberikan pendampingan bagi masyarakat desa.
Kolaborasi seperti ini diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan dari desa yang sekarang menjadi subjek pembangunan.
"Saya kira orang kota akan dinanti oleh orang desa tentang pengalamannya, tentang literasinya, tentang solusi-solusi yang mereka tawarkan," tutur Yandri.
2. Kemendes PDT tekankan desa bukan lagi objek pembangunan

Kementerian Desa (Kemendes) PDT kini mendorong perubahan paradigma, di mana desa bukan lagi sekadar objek, melainkan subjek pembangunan. Yandri berharap para perantau dapat memetakan potensi sekaligus kendala yang ada di kampung halaman mereka untuk kemudian dicarikan solusinya.
Pihaknya mengaku terbuka menerima masukan dan saran dari para pemudik saat mereka kembali ke kota nanti guna menyempurnakan program pembangunan desa.
"Kami berharap bukan hanya sekadar kita mudik ke kampung, ke desa, tapi ada manfaat yang bisa ditinggalkan setelah mereka arus balik, ada jejak yang ditinggalkan oleh para pemudik ke desa masing-masing," kata Yandri.
3. Sebanyak 143 juta orang diprediksi akan mudik tahun ini

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno memprediksi pergerakan masyarakat pada masa mudik Lebaran 2026 akan mencapai lebih dari 143 juta orang, dan berpotensi lebih tinggi saat pelaksanaan di lapangan. Angka tersebut berdasarkan hasil survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
"Karena ada perkiraan mudik tahun ini berdasarkan survei Kemenhub lebih dari 143 juta. Biasanya survei Kemenhub di lapangan lebih tinggi," kata dia, dalam keterangannya, dikutip Minggu (15/3/2026).
Adapun, puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 18 Maret 2026, sementara arus balik diprediksi memuncak pada 29 Maret 2026.
Pratikno mengatakan, periode mudik tahun ini memiliki rentang waktu yang relatif panjang. Hal ini dipengaruhi oleh rangkaian akhir pekan, kebijakan flexible work arrangement (FWA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), cuti bersama, serta perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri.
"Oleh karena itu dengan rentang panjang ini kami mengharapkan ada distribusi mudik tidak tertumpuk di hari tertentu," kata Pratikno.






.jpg)








