Dahnil Anzar Ingatkan Petugas Haji Jangan Sampai Kecewakan Jamaah

- Kisah nyata jemaah haji, Pak Tobroni, yang menjual rumah dan sawahnya untuk ibadah
- Pentingnya melayani jamaah dengan sepenuh hati dan tegas dalam seleksi petugas haji
- Tegas dalam seleksi kesehatan PPIH 2026, memulangkan peserta yang tidak prima fisiknya
Jakarta, IDN Times - Suasana hening menyelimuti Asrama Haji Pondok Gede saat Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menceritakan kisah nyata seorang jemaah haji bernama Pak Tobroni asal Lampung Selatan.
Kisah ini disampaikan Wamenhaj untuk mengingatkan para calon petugas haji PPIH 2026 tentang betapa besarnya pengorbanan jemaah yang akan mereka layani. Bertepatan pula, di Kamis (15/01/2026) malam itu umat islam sedang memperingati Isra Miraj, sehingga momen ini dipandang cocok untuk merefleksikan diri.
1. Ambil inspirasi dari kisah nyata

Dahnil mengisahkan pertemuannya dengan Pak Tobroni pada musim haji 2025. Pak Tobroni telah menanti antrean haji selama 25 tahun. Namun, yang membuat hati bergetar adalah cara beliau membiayai ibadahnya.
"Beliau menjual rumah pribadinya beserta sawahnya untuk setoran awal 25 tahun lalu. Saat pelunasan kemarin, karena tidak ada uang, rumah yang beliau tempati dijual lagi," ungkap Dahnil dengan nada bergetar.
2. Jangan Main-main dalam melayani jamaah

Saat ditanya akan tinggal di mana sepulang dari Tanah Suci, Pak Tobroni menjawab dengan pasrah bahwa ia akan menumpang di rumah anak-anaknya. "Mas, dosa saya sudah terlalu banyak," tiru Dahnil mengulang ucapan Pak Tobroni.
Kisah ini disampaikan Dahnil sebagai "tamparan" keras bagi siapa saja yang berniat main-main dalam melayani jemaah. Ia menegaskan bahwa orang-orang seperti Pak Tobroni-lah yang harus dilayani dengan sepenuh hati, bukan pejabat atau orang penting.
"Saya tidak bisa memikirkan betapa jahatnya kita jika sampai tega mengkhianati atau mengambil hak-hak orang seperti Pak Tobroni. Harapan dan mimpi mereka ada di tangan Anda," tegas Dahnil.
3. Tegas dalam hal kesehatan

Ketegasan menjadi kunci dalam seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026. Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memulangkan 6 orang peserta diklat di Asrama Haji Pondok Gede karena alasan kesehatan yang tidak memungkinkan.
Dalam apel ini, Dahnil menjelaskan bahwa langkah ini diambil demi keselamatan peserta itu sendiri dan kelancaran operasional tim di Tanah Suci.
"Laporan yang saya terima sudah ada 6 orang yang berguguran. Ada yang karena sakit TBC, ginjal, yang justru bisa mencelakai teman-teman lain karena menular," jelas Dahnil.
4. Calon petugas haji harus menjaga kondisi agar tetap prima

Ia menyayangkan adanya ketidakjujuran sejak awal proses seleksi. Beberapa peserta ternyata menyembunyikan riwayat penyakit serius seperti TBC, yang baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan ulang di asrama.
"Kami memutuskan untuk memulangkan, menggugurkan haknya. Karena ini satu keluarga, kita harus saling jaga. Tidak boleh ada yang mencelakai atau dicelakai," tambahnya.
Dahnil berharap seluruh peserta yang tersisa dapat menjaga kondisi fisik hingga akhir pelatihan pada 30 Januari 2026. Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan haji membutuhkan fisik yang prima, sehingga seleksi alam maupun seleksi medis di tahap diklat adalah filter terakhir sebelum pemberangkatan ke Arab Saudi.


















