Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Di Medan, Hasto PDIP Tuding Bobby Nasution Ambisius dan Tak Setia
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto menyaksikan konser 48 tahun berkarya seniman Sawung Bajo (dok. PDIP)
  • Bobby Nasution disekolahkan PDIP sebelum menjadi calon Wali Kota Medan
  • PDIP tidak lagi mendukung Bobby karena ambisi politiknya terlalu besar
  • Bobby dinilai tidak setia kepada PDIP karena kerap pindah partai politik
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menceritakan kisah perjalanan politik calon gubernur Sumatra Utara, Bobby Nasution, semasa masih bergabung di PDIP. Menurut Hasto, Bobby pernah disekolahkan PDIP sebelum menjadi calon Wali Kota Medan.

Hasto Kristiyanto menyampaikan pandangannya di Forum Demokrasi bertajuk “Selamatkan Demokrasi di Sumatra Utara” yang berlangsung di Kota Medan, Minggu (17/11/2024). Dalam forum tersebut, Hasto berbicara sebagai warga negara biasa, bukan dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Jenderal DPP PDIP.

“Ketika mau menjadi calon, Bobby Nasution ini saya sekolahkan ke Banyuwangi. Yakni kepada Abdullah Azwar Anas,” ujar Hasto dalam keterangannya.

1. Hasto sebut PDIP rela tak usung kadernya demi majukan Bobby jadi calon wali kota Medan

Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto (dok. PDIP)

Menurut Hasto, PDIP bahkan rela mengorbankan salah satu kader terbaiknya di Sumatra Utara demi memberi ruang kepada Bobby. Namun, ambisi politik Bobby dinilai terlalu besar hingga membuat PDIP memutuskan untuk tidak lagi mendukungnya.

“Namun kami pikir karena beliau menantu presiden, ia merasa itu sudah merupakan karunia luar biasa. Tapi ternyata keinginannya banyak sekali. Maka saya sampaikan kita tidak bisa bersama lagi,” ucap Hasto.

2. Hasto nilai Bobby tak memiliki kesetiaan

Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto (dok. PDIP)

Selain itu, Bobby dinilai tidak menunjukkan kesetiaan kepada PDIP, karena kerap berpindah-pindah partai politik. Dari PDIP, Bobby kemudian mendekat ke Golkar, lalu pindah lagi ke Gerindra.

Hasto juga menyoroti kerusakan demokrasi yang terjadi dalam Pilkada Sumatra Utara. Ia membandingkan situasi tersebut dengan sikap Letnan Jenderal TNI (Purn) Edy Rahmayadi yang dinilainya penuh kesabaran dan menunjukkan karakter ksatria.

“Infanteri tidak pernah main belakang. Tidak pernah mengintimidasi rakyat, apalagi menilang rakyat,” ujar Hasto.

Ia juga membandingkan sikap Presiden Prabowo Subianto yang dianggap sebagai sosok ksatria dengan mantan Presiden Jokowi. Menurut Hasto, Prabowo tidak menggunakan kekuasaan untuk mencampuri urusan partai politik, berbeda dengan Jokowi.

“Pemilu Kada di Sumatra Utara sangat berbeda dengan karakter infanteri yang mengedepankan sikap kesatria. Pak Presiden Prabowo sosok ksatria, berbeda dengan satunya,” tambah Hasto.

Hasto mengungkapkan, Edy Rahmayadi banyak menerima masukan dari berbagai pihak terkait kehormatan masyarakat Sumatra Utara yang dinilai dirusak oleh ambisi kekuasaan tertentu.

“Diusulkan, ‘bagaimana kalau kita shut-down kan saja tim pemenangan kita?’ Coba bayangkan, kalau Partai Coklat dibiarkan terus bergerak, buat apa pilkada ketika semua sudah diatur?” kata Hasto.

3. Hasto khawatir ada kecurangan di pilkada

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto saat memenuhi panggilan KPK (20/8/2024). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Dalam kesempatan itu, Hasto menyebutkan adanya kekhawatiran tentang kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif yang kembali terjadi, mengingatkan pada situasi politik di masa lalu.

“Sekali di Sumatra Utara ini kita membiarkan berbagai kesewenang-wenangan dalam demokrasi, sekali kita membiarkan berbagai kecurangan dalam pilkada ini, maka sama artinya dengan kita membunuh masa depan Sumatra Utara,” imbuh Hasto.

Curated For You

Editorial Team

Related Article