Jakarta, IDN Times - Salah satu inisiator Kabinet Bayangan, Ahmad Jilul Qur'ani, mengatakan kabinet pemantau pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini dibentuk menggunakan dana urunan dari masing-masing anggota. Bahkan, 15 anggota kabinet bekerja tanpa digaji alias pro bono.
"Gak ada (biaya yang dikeluarkan untuk bentuk kabinet). Kalau pun ada, biayanya minim sekali. Misalnya saya dengan nama pribadi membeli domain, hosting. Itu kan berapa ratus ribu rupiah. Lalu, (data-data) saya upload sendiri," ungkap Jilul ketika dihubungi IDN Times, Rabu (29/7/2026).
Rapat koordinasi juga dilakukan menggunakan platform video conference Zoom. Seandainya bertemu tatap muka, maka dilakukan di kantor sekretariat salah satu anggota kabinet, seperti Celios atau MTI (Masyarakat Transparansi Indonesia).
"Kami sangat low budget," imbuhnya.
Sementara, rapat kerja perdana Kabinet Bayangan yang digelar Senin, 27 Juli 2026 dilakukan di co-working space kawasan Cikini, Jakarta Pusat. IDN Times sempat mendapat dokumen kuitansi untuk penyewaan tempat kerja tersebut. Biaya penyewaan area mencapai Rp2,9 juta untuk booking selama hampir empat jam.
Pembiayaan ini termasuk salah satu kritik Kabinet Bayangan terhadap Kabinet Merah Putih, di mana dalam bekerja, termasuk rapat tak membutuhkan biaya besar. Bahkan, rapat juga bisa dilakukan secara virtual. Yang terpenting rapat dan komunikasi berjalan efektif.
