Ilustrasi investasi (IDN Times/Sukma Shakti)
Menurut Azis, pendekatan tersebut semakin relevan di tengah perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi dan perubahan kebutuhan keterampilan dunia kerja. Namun, ia mengingatkan bahwa penyesuaian terhadap perubahan tersebut tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada individu.
“Tidak cukup mengatakan kepada lulusan bahwa mereka harus terus upskill dan reskill. Kita juga harus membangun ekosistem ekonomi yang memungkinkan pengetahuan mereka benar-benar bekerja,” katanya.
Azis mengatakan, agenda hilirisasi yang terus didorong pemerintahan Prabowo mempunyai posisi penting dalam membangun ekosistem tersebut. Menurutnya, hilirisasi seharusnya tidak hanya diukur dari meningkatnya nilai tambah komoditas, tetapi juga dari bertambahnya teknologi, keterampilan serta pekerjaan produktif yang dikuasai masyarakat Indonesia.
“Pendidikan dan hilirisasi sesungguhnya merupakan satu agenda. Semakin banyak pengetahuan manusia Indonesia yang bekerja di atas sumber daya Indonesia, semakin besar nilai yang bisa kita ciptakan di dalam negeri,” ujarnya.
Karena itu, Azis mendorong pemerintah memperkuat sinkronisasi antara arah investasi dan pembangunan industri dengan perencanaan pendidikan. Jika Indonesia dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan mengembangkan industri pangan modern, baterai, petrokimia, maritim, kecerdasan buatan, bioteknologi maupun energi baru, kebutuhan insinyur, teknisi, peneliti dan tenaga terampil harus diproyeksikan sejak sekarang.
“Data investasi harus berbicara dengan data pendidikan. Kebutuhan tenaga industri seharusnya masuk ke perencanaan pendidikan sebelum industrinya beroperasi,” katanya.