Lebih dari 200 Siswa Dilaporkan Hilang akibat Banjir Nepal

- Banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet membuat lebih dari 200 siswa hilang dan sekitar 20 lainnya terseret arus; sedikitnya 19 sekolah terdampak, sembilan di antaranya hancur.
- Kepala Sekolah Tribhuvan Trishuli di Nuwakot mengevakuasi lebih dari 900 siswa setelah menerima peringatan, hanya 10 menit sebelum banjir menerjang wilayah tersebut.
- Korban tewas di Nepal mencapai 794 orang dengan lebih dari 2.500 hilang; operasi penyelamatan menghadapi akses rusak, sementara warga terisolasi membutuhkan air bersih untuk mencegah penyakit.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Pendidikan dan Olahraga Nepal menyebutkan bahwa lebih dari 200 siswa dinyatakan hilang akibat banjir bandang dashyat yang melanda perbatasan negara itu dengan Tibet pada Rabu (26/8/2026). Sekitar 20 siswa lainnya dilaporkan terseret arus banjir.
Menurut kementerian, sedikitnya 19 sekolah terdampak di tiga distrik yang paling parah dilanda banjir. Sembilan di antaranya hancur, sementara tujuh lainnya mengalami kerusakan sebagian. Sebagian besar sekolah yang mengalami kerusakan parah terletak di distrik Rasuwa dan Nuwakot.
Salah satu sekolah melaporkan bahwa banjir menghanyutkan sebuah bus yang sedang membawa salah satu siswanya.
1. Kepala sekolah di Nuwakot berhasil evakuasi ratusan siswanya tepat waktu

ilustrasi banjir (pexels.com/Pok Rie) Di Nuwakot, seorang kepala sekolah berhasil menyelamatkan lebih dari 900 siswanya dari bencana tragis tersebut. Ia mengeluarkan perintah evakuasi hanya 10 menit sebelum air menerjang wilayah itu.
Dilansir BBC, Rajendra Dawadi, kepala sekolah menengah Tribhuvan Trishuli, yang memiliki 1.600 siswa, mengatakan bahwa ia menerima empat panggilan telepon yang memperingatkan tentang bencana tersebut pada pukul 09.10 waktu setempat. Ia pun segera mengambil keputusan cepat dengan meminta anak-anak berlari ke tempat yang lebih tinggi dan memerintahkan bus-bus yang dipenuhi siswa untuk menjauhi area tersebut.
"Jika kami tidak mengambil keputusan cepat—seandainya terlambat 10 menit saja—kami semua, termasuk para siswa dan saya sendiri, tidak akan bisa berbicara dengan Anda hari ini," ujar Dawadi.
2. Lebih dari 800 orang tewas dan sekitar 3 ribu lainnya masih hilang di Nepal-Tibet

ilustrasi banjir (pexels.com/Pok Rie) Menurut pihak berwenang Nepal, jumlah korban tewas akibat banjir bandang telah bertambah menjadi 794 orang, sementara lebih dari 2.500 lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk ratusan warga negara asing (WNA). Hampir 20 ribu petugas keamanan telah dikerahkan dalam misi penyelamatan, dan sejauh ini 8.730 orang telah berhasil diselamatkan.
Sebelumnya, pihak berwenang China mengonfirmasi sedikitnya 16 orang tewas dan 546 lainnya hilang di Tibet. Di antara korban hilang terdapat 261 WNA dari 23 negara, termasuk 49 orang asal India, 33 orang asal Latvia, 18 orang asal Amerika Serikat (AS) dan 15 orang asal Inggris.
Helikopter kini memainkan peran penting dalam operasi penyelamatan, mengingat sejumlah akses darat rusak akibat banjir. Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, mengatakan bahwa beberapa wilayah telah berubah menjadi rawa-rawa.
3. Warga yang terisolasi butuh air bersih

ilustrasi menggunakan air (unsplash.com/Hollie Santos) Dilansir CNN, Sudarshan Neupane, direktur WaterAid Nepal, memperingatkan bahwa warga yang terisolasi akibat banjir sangat membutuhkan air bersih demi mencegah penyebaran penyakit. Banjir bandang sebelumnya telah menyebabkan pipa rusak dan mencemari sumber air minum.
“Hal yang paling dikhawatirkan adalah air kotor dapat menyebarkan penyakit. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan air bersih untuk minum dan mencuci sesegera mungkin, bersamaan dengan bantuan darurat bagi mereka yang masih terjebak. Selain itu, ada bahaya nyata terjadinya wabah penyakit akibat jenazah dan bangkai hewan yang membusuk, seperti yang telah kita lihat dalam bencana lainnya," ujar Neupane.
Menurutnya, prioritas utama saat ini adalah menyelamatkan warga yang terjebak, menyediakan air bersih dan kebutuhan pokok bagi keluarga terdampak, serta memulihkan kembali jaringan listrik dan sambungan air. Untuk jangka panjang, diperlukan pendanaan dari dalam maupun luar negeri untuk memperbaiki dan memperkuat sistem air yang rusak, membantu masyarakat mempersiapkan diri menghadapi banjir di masa depan dan mengurangi risiko penyebaran penyakit.





















