Legislator Gerindra Dorong Integrasi Pendidikan-Hilirisasi Diperkuat

- Azis Subekti menilai transformasi pemerintah perlu semakin mengintegrasikan pembangunan manusia dan transformasi ekonomi.
- Ia mendorong pendidikan terhubung dengan investasi, industri, teknologi, modal, dan pasar untuk menciptakan kapasitas produktif baru.
- Perguruan tinggi diminta mengembangkan penelitian menjadi teknologi, proses produksi, dan model usaha yang meningkatkan produktivitas masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti menilai, agenda transformasi yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto perlu memasuki tahap berikutnya, yakni dengan semakin mengintegrasikan pembangunan manusia dan transformasi ekonomi.
Menurut Azis, berbagai kebijakan mulai dari pembangunan pendidikan, hilirisasi, investasi, ketahanan pangan hingga penguatan ekonomi desa telah membentuk fondasi yang dapat digunakan untuk menjawab tantangan pengangguran terdidik dan perubahan pasar kerja.
“Arah transformasinya sudah terbentuk. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh program tersebut semakin terhubung dan menghasilkan kapasitas produktif baru,” kata Azis dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).
1. Perlu perkuat sistem pendidikan dengan struktur ekonomi yang sedang dibangun pemerintah

Ilustrasi pendidikan. (IDN Times/Sukma Shakti) Salah satu yang perlu diperkuat, menurutnya, adalah hubungan antara sistem pendidikan dengan struktur ekonomi yang sedang dibangun pemerintah. Azis menilai, persoalan pengangguran terdidik tidak cukup dijawab hanya melalui job matching atau mencocokkan lulusan dengan lowongan pekerjaan. Indonesia dinilai perlu bergerak menuju productive matching.
“Productive matching bukan hanya bertanya pekerjaan apa yang tersedia, tetapi bagaimana kemampuan manusia dipertemukan dengan sumber daya, teknologi, modal dan pasar sehingga menciptakan nilai yang sebelumnya belum ada,” jelasnya.
2. Pemerintah perlu perkuat sinkronisasi antara arah investasi dan pembangunan industri dengan perencanaan pendidikan

Ilustrasi investasi (IDN Times/Sukma Shakti) Menurut Azis, pendekatan tersebut semakin relevan di tengah perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi dan perubahan kebutuhan keterampilan dunia kerja. Namun, ia mengingatkan bahwa penyesuaian terhadap perubahan tersebut tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada individu.
“Tidak cukup mengatakan kepada lulusan bahwa mereka harus terus upskill dan reskill. Kita juga harus membangun ekosistem ekonomi yang memungkinkan pengetahuan mereka benar-benar bekerja,” katanya.
Azis mengatakan, agenda hilirisasi yang terus didorong pemerintahan Prabowo mempunyai posisi penting dalam membangun ekosistem tersebut. Menurutnya, hilirisasi seharusnya tidak hanya diukur dari meningkatnya nilai tambah komoditas, tetapi juga dari bertambahnya teknologi, keterampilan serta pekerjaan produktif yang dikuasai masyarakat Indonesia.
“Pendidikan dan hilirisasi sesungguhnya merupakan satu agenda. Semakin banyak pengetahuan manusia Indonesia yang bekerja di atas sumber daya Indonesia, semakin besar nilai yang bisa kita ciptakan di dalam negeri,” ujarnya.
Karena itu, Azis mendorong pemerintah memperkuat sinkronisasi antara arah investasi dan pembangunan industri dengan perencanaan pendidikan. Jika Indonesia dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan mengembangkan industri pangan modern, baterai, petrokimia, maritim, kecerdasan buatan, bioteknologi maupun energi baru, kebutuhan insinyur, teknisi, peneliti dan tenaga terampil harus diproyeksikan sejak sekarang.
“Data investasi harus berbicara dengan data pendidikan. Kebutuhan tenaga industri seharusnya masuk ke perencanaan pendidikan sebelum industrinya beroperasi,” katanya.
3. Perguruan tinggi diminta semakin terlibat dalam penyelesaian persoalan ekonomi

Anggota Komisi II DPR Fraksi Gerindra sekaligus Anggota Pansus Penyelesaian Konflik Agraria DPR, Azis Subekti (dok. Istimewa) Azis juga mendorong perguruan tinggi semakin terlibat dalam penyelesaian persoalan ekonomi di wilayahnya. Ia menilai, penelitian kampus perlu semakin banyak dikembangkan menjadi teknologi, mesin, aplikasi, proses produksi maupun model usaha yang meningkatkan produktivitas masyarakat.
Ia menilai, berbagai program pemerintahan Prabowo di sektor pembangunan manusia dan ekonomi pada akhirnya perlu bertemu dalam satu sistem yang sama.
“Fondasi transformasi sudah diletakkan. Tahap berikutnya adalah memastikan pendidikan bertemu industri, penelitian bertemu modal, investasi bertemu tenaga terampil, dan seluruhnya menghasilkan kesempatan produktif bagi rakyat,” kata Azis.
“Negara maju pada akhirnya adalah negara yang berhasil membuat pengetahuan rakyatnya bekerja,” imbuh dia.


















