Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Menkes: CKG Bisa Perkaya Data Genomik Nasional untuk Pengobatan Presisi

Menkes: CKG Bisa Perkaya Data Genomik Nasional untuk Pengobatan Presisi
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kiri) dan Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard (kanan) di Jakarta, Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Mecca Yumna)
Intinya Sih

  • CKG membuka peluang analisis genetik populasi Indonesia

  • AI dan machine learning mempelajari mutasi dari 3 miliar pasangan DNA

  • Data genomik disimpan di data center Kemenkes, target 400 ribu pada 2030

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) berpotensi memperkaya data dalam Program Genomika Nasional Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI).

Melalui cakupan CKG yang luas, Menkes menilai, pemerintah memiliki peluang besar membangun basis data genomik nasional untuk mendukung pengobatan presisi di Indonesia.

1. CKG buka peluang analisis genetik populasi Indonesia

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebut pemutihan tunggakan iuran BPJS tinggal tunggu peraturan presiden.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebut pemutihan tunggakan iuran BPJS tinggal tunggu peraturan presiden. (IDN Times/Amir Faisol)

Budi mengatakan, CKG memberi kesempatan untuk mengambil sampel darah masyarakat dan menganalisis penyakit yang diderita, termasuk aspek genetiknya.

“CKG itu memberikan kesempatan kita untuk ambil darahnya kan. Dan kita bisa lihat penyakitnya apa. Nah, penyakitnya ini nanti kita bisa ambil analisa genetiknya seperti apa. Jadi kita bisa lihat, ‘Oh di populasi Indonesia paling banyak penyakitnya itu, ini, sehingga kita bisa kasih treatment atau pengobatan yang pas,” katanya, Kamis (12/2/2026).

Ia menambahkan, cakupan CKG yang masif berpotensi menghasilkan sekitar 100 juta data untuk mendukung pengembangan pengobatan presisi.

“Mungkin sekarang masih berapa, 15 ribuan per tahun. Kita mau naikin 50 ribu per tahun, dan 100 ribu per tahun. Karena mesinnya juga sekarang sudah tambah canggih,” ungkapnya.

2. AI dan machine learning memungkinkan analisis risiko penyakit berdasarkan DNA seseorang

ilustrasi DNA (pixabay.com/AstralEmber)
ilustrasi DNA (pixabay.com/AstralEmber)

Menurut Budi, pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dan machine learning memungkinkan analisis risiko penyakit berdasarkan DNA seseorang. Ia menjelaskan, manusia memiliki sekitar 3 miliar pasangan basa DNA, dan perubahan pada bagian tersebut dapat memicu penyakit.

“Nah kita harus tahu bagaimana perubahan itu terjadi. Oleh karena itu, membutuhkan banyak manusia, baik yang sehat maupun yang sakit dengan segala macam jenis penyakitnya, untuk kita ambil datanya kemudian kita lihat, kita bandingkan,” katanya.

Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap dapat memahami pola penyakit masyarakat Indonesia secara lebih akurat dan komprehensif.

3. Data disimpan di data center Kemenkes, target 400 ribu pada 2030

kantor kemenkes RI
kantor kemenkes RI

Budi menegaskan, data genomik yang sebelumnya banyak diambil dari luar negeri kini wajib disimpan di pusat data Kementerian Kesehatan untuk menjaga keamanan dan mencegah kebocoran. Ia juga menjelaskan pentingnya pengobatan presisi dalam praktik medis sehari-hari.

Menurutnya, dengan pengobatan yang lebih presisi, maka penanganan per individu lebih tepat. Dia mencontohkan, ada sejumlah penyebab orang batuk. Melalui teknologi tersebut, bisa diidentifikasi jenis dan penyebab batuknya, sehingga bisa langsung diberikan obat yang cocok tanpa perlu mencoba-coba yang lain.

Saat ini, Kemenkes tengah membangun database populasi dan menargetkan 400 ribu data genomik pada 2030.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri PPN/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menilai, inovasi genome sequencing juga berdampak pada efisiensi pembiayaan kesehatan.

“Kalau terapinya tepat, pemborosan bisa dihindarkan. Kalau pemborosan bisa dihindarkan maka keuangan akan jadi lebih stabil dan sustainable untuk ke depan,” kata Febrian.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More