KJRI Jeddah: Jemaah Haji RI Diminta Tak Bawa Simbol Politik

- KJRI Jeddah mengingatkan jemaah haji Indonesia agar tidak membawa atribut politik, organisasi, atau simbol tertentu karena dilarang ketat oleh otoritas Arab Saudi demi menjaga kekhusyukan ibadah.
- KJRI telah melakukan sosialisasi melalui program 'Jihad Medsos' untuk menyebarkan aturan dan informasi perlindungan jemaah, meski tantangan muncul akibat beragamnya latar belakang peserta haji.
- Masbukhin menegaskan pentingnya menghormati hukum dan budaya Arab Saudi serta meminta jemaah fokus beribadah agar perjalanan haji berjalan lancar tanpa masalah hukum.
Jakarta, IDN Times - KJRI Jeddah mengingatkan jemaah haji Indonesia agar tidak menggunakan atribut organisasi, politik, maupun simbol tertentu selama berada di Arab Saudi. Larangan itu disebut diberlakukan ketat oleh otoritas setempat demi menjaga kekhusyukan ibadah haji.
Pelaksana Fungsi Konsuler KJRI Jeddah Akhmad Masbukhin mengatakan, pihak Arab Saudi telah menyampaikan aturan resmi terkait larangan penggunaan atribut tertentu di area haji.
“Untuk di Arab Saudi dilarang afiliasi-afiliasi organisasi yang menunjukkan atribut-atribut, menggunakan pakaian-pakaian yang terafiliasi dengan politik, ormas, dan lain sebagainya,” kata Masbukhin, dikutip dari Instagram Kemlu RI, Selasa (26/5/2026).
Ia menyebut, masih ada jemaah yang membawa simbol organisasi hingga membentangkan bendera negara tertentu saat berada di Tanah Suci. “Ada beberapa WNI kita atau jemaah haji kita menggunakan atribut organisasi massa, politik, bahkan membentangkan bendera Palestina,” ujarnya dalam Instagram Live Kemlu RI, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, tindakan tersebut dianggap dapat mengganggu kekhusyukan ibadah para jemaah lain.
1. KJRI sebut sosialisasi sudah dilakukan

Masbukhin mengatakan, KJRI Jeddah sebenarnya telah melakukan sosialisasi masif terkait aturan tersebut melalui media sosial dan berbagai kanal informasi.
“Kita ada program namanya Jihad Medsos,” katanya.
Melalui program itu, KJRI rutin menyampaikan berbagai aturan dan informasi perlindungan jemaah haji Indonesia. Namun ia mengakui besarnya jumlah jemaah dengan latar belakang yang beragam membuat sosialisasi masih menghadapi tantangan.
“Mereka ada sentimen mungkin sangat mencintai organisasinya, afiliasi sosial dan politik, tanpa menyadari bahwa aturan yang ada di Arab Saudi sangat ketat,” ujar Masbukhin.
Ia meminta seluruh jemaah memahami bahwa aturan di Arab Saudi berbeda dengan di Indonesia.
2. Jemaah diminta hormati aturan Arab Saudi

Masbukhin mengingatkan jemaah agar menghormati hukum dan adat setempat selama menjalani ibadah haji. “Indonesia bukanlah Arab Saudi, Arab Saudi bukanlah Indonesia,” katanya.
Ia juga mengutip peribahasa untuk menegaskan pentingnya menyesuaikan diri dengan aturan negara tempat seseorang berada. Menurutnya, memahami etika dan budaya lokal menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran ibadah haji.Ia menegaskan fo kus utama jemaah seharusnya adalah ibadah, bukan aktivitas lain di luar kepentingan haji.
3. KJRI minta jemaah fokus beribadah

Selain soal atribut, KJRI juga mengingatkan jemaah agar menjaga perilaku selama berada di Tanah Suci. Masbukhin mengatakan, Arab Saudi menerapkan pengawasan ketat terhadap seluruh aktivitas selama musim haji. Ia meminta jemaah tidak melakukan tindakan yang berpotensi menimbulkan persoalan hukum.
“Tuluskan niat untuk berangkat ke Arab Saudi dengan fokus untuk menjalankan ibadah haji,” katanya. Menurutnya, kepatuhan terhadap aturan menjadi bagian penting agar ibadah haji berjalan lancar dan khusyuk.

















